KAMPUNG HALAMAN EINA

Oleh : Hendrik Pandu Paksi)* 

 

Apakah anda pernah merindukan kampung halaman? Apa kira-kira yang membuat seseorang merindukan kampung halaman? Menurut saya, seseorang akan merindukan kampung halaman ketika orang tersebut sudah lama meninggalkan kampung halaman. Dengan kata lain, orang itu tidak berada di kampung halaman untuk waktu yang lama. Setiap orang memiliki ukuran sendiri-sendiri untuk merasakan lama atau cepat. Ukurannya adalah relatif. Saat kita melihat nomor antrian kita menunjukkan angka 424, sedangkan yang mendapat giliran baru nomor 5, maka kita akan merasakan lama, namun jika kita tahu bahwa seminggu lagi kekasih kita akan merantau, kita akan merasa waktu begitu cepat. Padahal dari antrian 5 sampai 424 mungkin tidak sampai memakan waktu sehari, lho kok tau? Iya… sebab biasanya kantor mempunyai jam kerja dan tidak akan mugkin mengeluarkan nomor antrian yang akan melebihi jam kerjanya. Jika lewat sehari biasanya antrian akan kembali dari nomor 1. Nah, secara matematik waktu seminggu akan lebih lama daripada 1 hari. Tapi mengapa orang mengatakan mengantri itu lama dan ketika kekasih akan pergi maka waktu dikatakan cepat? Inilah relativitas, tergantung apa yang dirasakan masing-masing orang. Oke, mari berhenti bicara soal waktu, kita kembali ke kampung halaman tadi.  Lalu,  jika ia tidak berada di kampung halaman, lalu berada dimana dia?

Ada banyak alasan mengapa manusia meninggalkan kampung halaman. Anda bisa menanyai satu per satu orang-orang yang meninggalkan kampung halaman untuk mendapatkan jawaban yang akurat. Tapi jika anda percaya kata saya, dan memang harus percaya karena disini hanya ada saya yg bisa anda percayai, saya dapat merangkum bahwa alasan orang meninggalkan kampung halaman setidaknya ada 4 :

  1. Ada tuntutan ekonomi yang mengharuskan orang mencari rejeki, dan menurut orang itu rejekinya berada di luar kampung halamannya.
  2. Dia menambatkan hatinya di luar kampung halamannya. Dan untuk menemukan tambatan hatinya itu dia harus meninggalkan kampung halaman. Masalah tambatan hati tidak saya ceritakan karena anda tentu lebih faham daripada saya.
  3. Dia ingin menjelajah dunia. Kita tidak mungkin menemukan daerah baru jika kita tidak mau keluar dari kampung halaman. Yang termasuk menjelajah dunia disini adalah berkunjung ke daerah lain, rekreasi, atupun hanya sekedar melintas.
  4. Dia tidak merasa aman dan nyaman di kampung halamannya. Penyebabnya sangat banyak. Jika mau dibahas mungkin anda harus bertanya langsung pada yang bersangkutan.

Baiklah, sekarang kita sudah tahu alasan seseorang meninggalkan kampung halaman. Sekarang kita akan cari tahu apa yang membuat seseorang merindukan kampung halaman. Saya mulai dari sebuah pertanyaan “apa itu kampung halaman?”. Saya sudah mencari pengertian kampung di google, tepatnya di Wikipedia. Disitu dijelaskan bahwa kampung adalah suatu daerah, di mana terdapat beberapa rumah atau keluarga yang bertempat tinggal disana. Sebutan untuk kampung ini juga berbeda-beda. Ada yang mengatakan desa, dusun, kampungan, kampong, gampong, kampuang dan banyak lagi yang lainnya. Sedangkan kampung halaman lebih dimaknai dengan istilah daerah atau tempat dimana kita dilahirkan dan dibesarkan, tumbuh, mengenal teman-teman masa kecil dimana kita pernah melakukan permainan dengan teman-teman kita yang secara tidak langsung akan menimbulkan ikatan emosional yang sangat kuat di benak kita.

Anda bisa membayangkan sejenak kampung anda. Ingatkah anda saat menangis yang pertama kali?, ingatkan anda raut muka ayah bunda anda? Ingatkan anda tentang si dono, si kasino, dan si indro? Apakah anda juga membayangkan ada sepupu anda? Kakek dan nenek anda? Paman dan tante? Oiya…. mungkin anda juga membayangkan makanan kesukaan anda, permainan kegemaran, tempat-tempat bersejarah yang menjadi favorit anda.  Dan sekarang… apakah anda sudah faham apa itu kampung halaman?

Sampai di kalimat ini, anda mungkin bertanya “apa yang sebenarnya ingin saya ceritakan?” ijinkan saya meneguk secangkir teh hangat dulu, saya takut keburu dingin……

Baiklah, ilustrasi di atas ada hubungannya dengan cerita saya selanjutnya, agar anda menghayati dulu apa itu kampung halaman. Apakah bayangan kampung halaman di benak anda sama dengan cerita saya selanjutnya, ataukah ada yang berbeda.

Sebut saja saya Pandu, saya bukan orang penting yang harus anda ingat-ingat. Saya juga belum pernah masuk tv sehingga anda tidak perlu memindah chanel tv anda untuk menemukan saya. Saya adalah seorang pendidik yang ditugaskan Negara untuk memberikan layanan pendidikan bagi anak-anak Tenaga Kerja Indonesia yang ada di Sabah-Malaysia. Pendidik? Ya… di tempat kelahiran saya disebut guru, kalau disini biasa dipanggil cikgu. Anda akan tahu jika pernah berkenalan dengan upin dan ipin. Jadi apakah saya mempunyai murid? Ya tentu saja, saya kan guru. Baiklah, sekarang apa yang mau saya ceritakan? Saya akan bercerita tentang murid saya, dan ini ada hubungannya dengan kampung halaman tadi.

Di sabah ini terkenal dengan perkebunan kelapa sawit. Hampir 70% wilayah sabah ini berupa ladang sawit dengan luas lebih dari 1,5juta hektar. Untuk apa Sabah punya ladang sawit seluas ini? Tentu saja untuk diolah menjadi minyak kelapa sawit. Minyak sawit ini merupakan komoditi utama negeri ini. Kegiatan pengolahan sawit ini sudah lama menjadi sektor utama  bagi pertumbuhan ekonomi di Sabah dan untuk mengelola ladang sawit seluas ini tentu saja dibutuhkan pekerja yang banyak. Jika anda mau bisa mendaftar juga kok.

Kebanyakan pekerja di ladang sawit ini adalah orang-orang Indonesia. Mereka menjadi TKI dan rela  meninggalkan kampung halamannya untuk mencari nafkah, demi keluarga dan anak cucu. Bertahun-tahun mereka merantau dan mungkin ada juga di antara mereka yang merindukan kampung halaman. Rasa rindu yang teramat dalam namun tidak bisa pulang karena mereka harus bekerja. Jika mereka selalu pulang bagaimana mungkin mereka bisa menyisihkan uang untuk bekal hidup di hari tua?. Mereka memilih untuk tinggal di Sabah dan menahan rasa rindu pada kampung halamannya. Semakin lama rasa rindu itu semakin menguat, banyak para pekerja yang tidak kuat menahan rindu, akhirnya mereka berfikir, daripada aku pulang alangkah baiknya jika aku mengajak serta keluargaku. Demikianlah akhirnya satu per satu keluarga di kampung diajak serta, ikut bekerja juga di ladang sehingga penghasilan keluarga akan semakin bertambah. Sampai pada akhirnya orang satu kampung diajak semua dan membuat kampung baru disini. Banyak juga diantara mereka yang menikah di Malaysia dan melahirkan anak-anak mereka. Ketika dewasa, anak-anak mereka pun bisa ikut bekerja di ladang sawit, menikah dan punya anak. Nah…. murid-murid saya adalah anak-anak dari para pekerja ladang ini. Mereka lahir disini,  mereka tumbuh dan besar disini, mereka belajar dan bermain disini, mereka mengenal sahabat dan keluarga disini, di Malaysia. Mereka adalah anak-anak Indonesia juga karena Indonesia menganut asas ius sanguinis dalam menentukan status kewarganegaraan seseorang, dimana anak-anak keturunan warga Negara Indonesia secara otomatis juga menjadi warga Negara Indonesia.

Adalah salah satu murid saya yang menurut saya sangat luar biasa. Di facebook dia menamakan dirinya Xii Eiiyna Ldiez Charlleydax. Hehehe ada-ada saja. Tapi baiklah, kita sepakat panggil dia Eina saja. Saya akan menceritakan kisah tentang Eina yang menurut saya bisa mewakili seluruh anak-anak Indonesia yang tinggal di Sabah-Malaysia ini. Lho… satu orang kok dianggap bisa mewakili semua? Apa sampelnya memenuhi syarat? Berapa populasinya? Bagaimana bisa dianggap mewakili? Begitu mungkin yang akan ditanyakan oleh para ahli penelitian saat membaca tulisan saya. Tapi di akhir cerita, anda pun bisa memberikan kesimpulan apakah satu anak ini bisa mewakili semua anak atau tidak. Sekedar informasi, anak-anak Indonesia usia sekolah yang beradaa di Sabah ini mencapai angka 50ribu lebih, dan saat ini baru ribuan saja yang sudah mendapatkan akses pendidikan. Puluhan ribu sisanya masih belum tersentuh pendidikan.

Eina adalah anak yang cerdas menurut saya. Meskipun orang tuanya adalah pekerja ladang, namun orang tuanya ingin Eina bisa bersekolah, menjadi pandai dan bisa mewujudkan cita-citanya menjadi bidan. Tapi bagaimana caranya? Di Malaysia ini ada peraturan bahwa anak-anak dari negara asing tidak diperbolehkan bersekolah di sekolah kebangsaan, dan sebagai gantinya pemerintah Malaysia menyerahkan urusan pendidikan anak-anak pekerja Indonesia ini pada satu lembaga (sejenis LSM) bernama Humana Child Aid Society. Humana diberikan wewenang untuk memberikan pendidikan dalam ruang lingkup materi membaca, menulis, dan berhitung atau kalau di Indonesia setingkat TK. Sedangkan untuk tingkat SD dan SMP, Malaysia mengijinkan pemerintah Indonesia untuk mendirikan pusat-pusat belajar (learning centre) di ladang-ladang sawit dimana terdapat anak-anak Indonesia usia sekolah.

Eina masuk menjadi salah satu siswa di LC tersebut setelah ia menamatkan belajar di Humana. LC di Sabah ini merupakan SMP terbuka yang menginduk pada Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK). Ijasah Humana tidak diakui di Negara Indonesia, karena itu, Eina harus mengikuti ujian kesetaraan paket A dahulu sebelum ia bisa diterima di LC.  Demikianlah ringkasnya Eina bisa bersekolah dan mengembangkan ilmunya melalui LC yang didirikan oleh pemerintah Indonesia. Ya… Indonesia, negaranya telah memberikan jalan untuk cita-citanya.  Selama sekolah, Eina termasuk anak yang cerdas dibandingkan siswa-siswa lainnya. Nilai rapotnya cukup bagus. Tak heran jika setelah menyelesaikan studi di LC, ia terpilih menjadi salah satu siswa yang mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah setingkat SMA di Jakarta-Indonesia. Semua biaya hidup selama studi, asrama, biaya sekolah, buku-buku, dan alat tulis ditanggung oleh Negara Indonesia. WOOW… hebat… saya saja sewaktu masih sekolah tidak pernah mendapatkan beasiswa sebesar ini. Dia anak yang beruntung.

Memang salah satu misi Indonesia disamping memberikan akses pendidikan juga menanamkan rasa nasionalisme, rasa cinta pada tanah air, dan kalau memungkinkan akan memulangkan anak-anak Indonesia ini kembali ke negaranya, kembali ke tanah airnya, kembali ke kampung halamannya. Bukankah sebaik-baiknya negeri orang masih lebih baik negeri sendiri? Begitu kata orang bijak. Di Malaysia ini Eina adalah orang asing. Setiap tahun ia harus memperbarui ijin tinggalnya dan setiap 5 tahun harus melapor ke konsulat untuk memperbarui paspornya. Jika memungkinkan, ia akan berusaha menghindari polisi dan petugas imigrasi Malaysia. Sebab tidak jarang polisi dan petugas imigrasi akan mempermasalahkan dokumennya yang akhirnya akan mempersulit dirinya. Semua TKI merasakan hal ini. Meskipun memiliki paspor dan ijin tinggal, namun alangkah lebih baik jika tidak bertemu polisi atau petugas imigrasi. Lalu apa yang biasanya dilakukan untuk menghindari polisi dan imigrasi? Mereka biasanya akan tetap tinggal di ladang sawit, meminimalisir kegiatan ke kota, menjauhi keramaian dan tidak sering-sering pulang kampung.

Menurut anda, apakah enak hidup seperti ini? Selalu was-was saat bertemu polisi dan imigrasi, jarang ada hiburan, jarang ke kota atau di tempat-tempat yang ramai, hidup apa adanya di ladang sawit yang hanya mengandalkan listrik subsidi perusahaan yang hanya menyala 6jam sehari, suplai air yang hanya mengandalkan tadah hujan. Apakah anda mau meninggalkan kampung halaman anda dan hidup seperti ini?

Sepertinya banyak diantara kita yang berfikir bahwa hidup di Indonesia lebih baik, sehingga salah satu misi pemerintah memulangkan anak-anak Indonesia ini. Agar mereka tidak perlu lagi merasa takut polisi, tidak perlu lagi takut imigrasi, tidak perlu lagi menunjukkan paspor. Mengapa? Karena mereka berada di Negaranya sendiri. Mereka bebas, bebas pergi ke kota, bebas pergi di tempat-tempat ramai, tidak perlu bersembunyi lagi. Demikian juga dengan si Eina. Eina sekarang bebas, ia sekarang sudah di Jakarta, di negaranya sendiri Indonesia. sekolah disana dengan beasiswa dari pemerintah. Harapan untuk mengejar mimpinya menjadi bidan akan semakin terbuka lebar. Dia senang sekarang. Sampai disini… apakah anda bisa merasakan kebahagiaan yang dirasakan Eina?

Sekarang saya akan menuliskan kembali tentang kampung halaman, sebelumnya anda sudah membayangkan kampung halaman anda. bahwa kampung adalah suatu daerah, di mana terdapat beberapa rumah atau keluarga yang bertempat tinggal disana. Sedangkan kampung halaman lebih dimaknai dengan istilah daerah atau tempat dimana kita dilahirkan dan dibesarkan, tumbuh, mengenal teman-teman masa kecil dimana kita pernah melakukan permainan dengan teman-teman kita yang secara tidak langsung akan menimbulkan ikatan emosional yang sangat kuat di benak kita. Dan sekarang anda bisa membantu saya menjawab beberapa pertanyaan berikut,

Siapa Eina?

Dimana ia dilahirkan?

Dimana ia tumbuh dan berkembang?

Dimana ia belajar dan bermain?

Dimana orang tuanya?

Dimana sanak familinya?

Dimana sahabat karibnya?

Dimana tempat-tempat favoritnya semasa kecil?

Dan satu pertanyaan besar dimana saya perlu bantuan anda untuk menjawab “dimana kampung halamannya?”

Sekarang, apakah anda bisa merasakan kebahagiaan yang dirasakan Eina? Atau justru sebaliknya, anda sedang merasakan penderitaan yang ia rasakan? Karena sekarang kita telah menemukan kenyataan bahwa kampung halamannya adalah di Sabah-Malaysia. Negara yang tidak mengakuinya sebagai warga negara, Negara yang membuatnya was-was saat bertemu polisi dan imigrasi, Negara dimana ia tidak bisa bebas pergi ke kota atau di tempat keramaian. Yang ternyata disitulah kampung halamannya, disitulah tempat dia dilahirkan dan dibesarkan, disitulah keluarga dan sanak familinya berada, disitulah sahabat-sahabatnya berada. Di tengah-tengah keramaian kota Jakarta, disitu pertama kalinya ia merasa asing di negeri sendiri. Disitu dia harus menerima kenyataan pahit, meninggalkan keluarga, sahabat dan semua yang ada di kampung halamannya. Dia sekolah untuk menggapai cita-citanya.

Bel berbunyi tanda pelajaran akan segera dimulai, kali ini adalah pelajaran kesenian. Ibu guru mengajari murid-murid untuk menyanyikan sebuah lagu. Judulnya adalah Desaku yang Kucinta. “anak-anak, mari kita menyanyikan lagu desaku yang kucinta bersama-sama!  Satu… dua.. tiga !”

Desaku yang kucinta….Pujaan hatiku….Tempat ayah dan bunda…..Dan handai taulanku….Tak mudah kulupakan…..Tak mudah bercerai…..Selalu kurindukan….Desaku yang permai

Semua murid bernyanyi dengan penuh penghayatan. Dan sekarang saya ingin bertanya pada anda. Menurut anda, adakah diantara murid yang bernyanyi  tersebut menitikkan air mata? Jika ada, apakah anda tahu siapa murid tersebut? Atau jangan-jangan anda sendiri yang menitikkan air mata? Padahal anda tidak ikut bernyanyi.

Bel berdentang enam kali, tanda sekolah telah usai, Eina melangkah pulang, kembali ke asramanya. Siang itu matahari sedang panas-panasnya, dengan langkah gontai Eina menyusuri jalan setapak yang biasa dilaluinya setiap hari. untuk menghibur diri, Eina menyanyikan sebuah lagu. Lagu yang tidak asing di telinga kita, judulnya adalah “Perjalanan”. Agar Eina tidak merasa sendiri, bagaimana kalau kita ikut bernyanyi bersama-sama Eina..

Dengan kereta malam ku pulang sendiri

Mengikuti rasa rindu

Pada kampung halamanku

Pada ayah yang menunggu

Pada ibu yang mengasihiku

……….

Lho…. ada yang rumpang dalam lagu itu… Eina ternyata tidak meneruskan lagu hingga selesai. Rupanya ia sengaja hanya menyanyikan beberapa lirik lagu. Seakan-akan ia sedang menyampaikan sesuatu pada matahari yang dari tadi mengikutinya sepanjang perjalanan. Dia tahu bahwa matahari yang mengikutinya sama dengan matahari yang menyinari kampung halamannya setiap pagi, berharap ia mau menyampaikan perasaannya pada ayah dan ibunya melalui kehangatan sinarnya. Demikianlah lagu itu ia nyanyikan berulang-ulang hingga ia sampai di asramanya.

Saya sering berkomunikasi dengan Eina lewat pesan facebook. Saya selalu menanyakan kabarnya. Apakah kamu bahagia disana? Eina menjawab “bahagia pak guru, disini saya punya banyak teman yang baik-baik, banyak makanan yang enak-enak, dan saya bisa mewujudkan impian saya” apakah anda bisa merasakan kebahagiaan Eina?

Saya akan mengutip beberapa status dia di facebook yang mungkin bisa menggambarkan betapa bahagianya ia disana. mohon maaf jika tidak menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, saya hanya menuliskan apa yang Eina tulis di facebook, dengan bahasa dia sendiri tentunya…

“Malaysia 2015 i will come back. Just wait me (i know u miss me right haha lolxD)”

“Rindu lingkungan bahasa melayu wkwk… (byk da aq lupa)”

“20 april tanpa mom, sista, dad..”

“Di’balik senyuman tersimpan seribu tangisan yg d’pndam”

“:’( mom… i need u… i miss u so much”

“Masi tidak percaya 3bulan dah aku kat sini tanpa family hanya hdup dgn kwn2 yang baru d’kenali!!! Jap ag raya qorban, skali ag aku xblik!! Aku rindu family… bila la aku dpt blik Malaysia😥 3thun? Aku xjmpa mom&dad”

“Rindu maok gaduh dgn sista !!! <sista😥 >”

“Time kat Malaysia nak apa2… cari mommy!! Skrg… nak apa2 cri sndri !!!!  miss my mom n my sista”

“Aku rindu kehidupanku yg dlu !!! Pnuh dgn keceriaan,,, dlu tiada hari tanpa ketawa…”

“Bngun pagi mau’y ada mommy … !!! :’(“

“Now otw to my home Malaysia !!! (mimpi kalee😥 )”

“I like INDONESIA, but I love MALAYSIA !!!”

Baiklah…. sampai disini…. dapatkah anda merasakan kebahagiaan yang dirasakan Eina???

Eina… hanya satu diantara 50ribu anak-anak Indonesia yang tinggal di Malaysia, dia tidak akan bisa dijadikan sampel yang mewakili seluruh populasi, setidaknya begitulah aturan dalam penelitian ilmiah. Tapi… anda punya pendapat… apakah satu ini mewakili, ataukah tidak… jika tidak, anda perlu mencoba mengirim lebih banyak lagi anak-anak TKI ini kembali ke Indonesia. Tetapi jika boleh saya menyarankan, bawalah kantung air yang banyak, barangkali saja kantung air mata anda tidak cukup untuk menampung air mata anda sendiri, belum lagi isak tangis mereka setiap malam, sampai anda mengembalikan mereka ke kampung halaman mereka yang sesungguhnya….

)*Pendidik untuk Pendidikan Anak-anak Indonesia di Sabah – Malaysia