trauma.jpgMalaysia, seorang siswa Darja 1 yang belajar di sekolah Humana Child Aid Society menangis karena kehilangan penghapus. Humana merupakan pusat bimbingan belajar yang menangani pendidikan anak-anak Indonesia di negara bagian Sabah, Malaysia. Darja adalah sebutan untuk jenjang sekolah setingkat SD. Siswa tersebut menangis karena takut dimarahi orang tuanya.

Sebut saja Riby, di sela-sela kegiatan belajar, tiba-tiba ia menangis. Guru yang mengajar pun langsung menghampirinya dan menanyakan kenapa ia menangis. Dengan disertai isak tangis, Riby mengatakan kalau penghapusnya hilang. Semula guru menganggap hal ini bukanlah masalah yg besar. Kehilangan penghapus dan alat tulis lainnya adalah hal yang wajar dan sering terjadi pada anak sekolah. Mungkin karena ia lupa menyimpan, dipinjam teman, atau memang hilang. Tetapi guru melihat wajah Riby pucat, tergambar dengan jelas bahwa ia sedang ketakutan. Ekpresi yang tak lazim dinampakkan untuk siswa yang hanya kehilangan penghapus.

Guru pun bertanya mengapa ia begitu ketakutan. Riby pun menjawab kalau dia tidak berani pulang ke rumah sebelum penghapusnya ditemukan. Setiap hari orang tua Riby mengecek barang-barang perlengkapan Riby. Jika ada yang hilang atau rusak maka ia dihukum. Hukumannya beraneka ragam sesuai tingkat kesalahannya. Yang pasti Riby akan dimarahi, dipukul, dan di kurung di dalam rumah, tidak boleh bermain.

Memang terkadang ada orang tua yang mendidik anak dengan cara keras, tujuannya untuk menanamkan tanggung jawab pada si anak. Tetapi hal itupun seharusnya melihat perkembangan anak. Jika anak belum mampu menerima perlakuan itu sebaiknya jangan dilakukan karena hal itu secara psikologis akan membuat anak menjadi trauma. Mendidik anak secara keras itu bisa dilakukan dengan bertahap disesuaikan dengan kondisi anak.

Kiranya hal inilah yang membuat Riby menjadi trauma. Ia takut mendapat perlakuan yang keras dan kasar dari orang tuanya. Saat ini usia Riby baru 7th dan terlalu berat baginya menerima peraturan keluarga yang begitu keras. Saat alat-alat sekolahnya hilang, maka ia langsung membayangkan hukuman yang harus ia terima dari orang tuanya, akhirnya ia menangis. Bahkan ketika teman-temannya bermaksut bercanda dengan menyembunyikan barang-barang miliknya, ia langsung menangis dan meronta-ronta.

Guru yang melihat kondisi seperti ini merasa sangat menyayangkan. Sebab anak menjadi tidak bisa belajar dengan tenang, selalu menjaga dan mengawasi barang-barang miliknya supaya tidak hilang. Tak jarang juga Riby tidak memperhatikan penjelasan guru sehingga nilai-nilai tugasnya selalu dibawah rata-rata.

Yang lebih memprihatinkan, orang tua Riby menuntut anaknya memperoleh nilai yang bagus. Jika ia pulang dengan nilai buruk, maka ia juga akan dihukum, padahal untuk memperoleh nilai baik itu dibutuhkan proses, dan kondisi di lingkungan sekolah dan keluarga pun sangat diperlukan untuk perkembangannya.

Sebagaimana kasus hilangnya penghapus tadi, guru mencoba meringankan kemungkinan hukuman yang akan ia terima dari orang tuanya, dengan memberinya penghapus baru untuk mengganti penghapus yang hilang. Namun itu tidak membuat Riby berhenti menangis namun malah semakin keras ia menangis. Guru pun bertanya mengapa ia tambah menangis padahal ia sudah memiliki penghapus baru. Ia menjawab ibunya akan tahu kalau itu bukanlah penghapus miliknya dan Riby dianggap mencuri penghapus milik temannya untuk mengganti penghapus miliknya yang hilang, dan hukumannya akan semakin berat.

Mendengar cerita ini guru merasa tidak boleh tinggal diam. Jika dibiarkan dikawatir si anak akan mengalami hambatan dalam perkembangannya. Guru berinisiatif untuk memanggil orang tuanya ke sekolah dan mencoba melakukan pendekatan supaya guru dan orang tua bisa menemukan cara yang terbaik untuk mendidik anak tanpa membuat anak merasa ketakutan. Memang sebenarnya ini adalah masalah keluarga yang orang luar tidak boleh campur tangan. Namun dalam hubungannya dengan pendidikan dan perkembangan anak, guru merasa ikut bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada anak didiknya. Semoga saja dengan adanya komunikasi yang baik antara guru dan orang tua bisa memberikan solusi yang terbaik. Red

Oleh : Hendrik Pandu Paksi, S.Pd, M.Pd.
(Pendidik untuk pendidikan anak-anak Indonesia di Sabah, Malaysia)