Di Balik Rimbunan Sawit tersimpan Harapan Masa Depan

Oleh: Anita Hartini Suryaman, S.Pd

Pesawat Malaysia Air Take off pukul 05.00 WIB 26 Juni 2012 dari Bandara Soekarno Hatta menuju Malaysia Bagian Timur tepatnya di Sabah, pesawat yang membawa Duta Pendidikan Indonesia ini sempat transit selama 4 jam di Bandara KLIA, lalu menuju ke Kota Kinabalu dan di lanjutkan ke Tawau. Dari perwakilan 150 Duta Pendidikan Indonesia ini ada salah satu nama yaitu Anita Hartini Suryaman, SPd dengan berbekal tekad dan pengetahuan yang ada saya memberanikan diri meniggalkan Tanah Air untuk membantu mendidik anak-anak Indonesia yang berada di Sabah, Malaysia. Program tersebut adalah program dari Kemendikbud Indonesia. Tak terasa sudah 1 tahun saya mengemban tugas ini, dan inilah pengalaman saya selama menjadi Guru Indonesia di Tanah Sabah Malaysia ini.

Ribuan mata penuh harapan di balik Rimbunan Sawit

an1

Horeeee Ibu datang!!!

Teriakan anak-anak itulah yang selalu membuat saya semangat dan bisa melupakan homesick yang terkadang melanda hati saya, karena di tempat seperti ini butuh kesabaran untuk beradaptasi, karena dalam benak saya selalu terlintas, “mereka saja bisa bertahan kenapa saya tidak?” itulah penyemangat saya selama ini ketika berada di Tanah Sawit ini.

Saya adalah perwakilan Duta pendidikan Indonesia yang di tugaskan untuk mendidik anak-anak Indonesia di Sabah Malaysia, tepatnya di Lembaga Bimbingan Humana 80, Terusan Baru Sandakan. Siswa terdiri dari Tadika (TK di Indonesia), Darjah (SD di Indonesia), dengan jumlah siswa keseluruhan 175 siswa.

Hanya dengan sekat Triplek mereka selalu semangat

Bangunan yang terbuat dari kayu itu adalah tempat kegiatan belajar mengajar, bangunan itu hanya satu gedung saja dan hanya di sekat dengan triplek. Karena ramainya siswa sehingga kegiatan pembelajaran terbagi 2 sesi, yaitu sesi pagi untuk TK dan sesi siang untuk SD. Keadaan kelas terkadang sangat sesak, karena ruang dan fasilitas yang tidak mencukupi walaupun sudah dibagi ke dalam 2 sesi, ada siswa yang terkadang tidak mendapatkan tempat duduk, sampai-sampai mereka harus berdesak-desakan.

Aktifitas kegiatan pembelajaran

Aktifitas kegiatan pembelajaran

Gedung sekolah tampak dari luar

Gedung sekolah tampak dari luar

Orang Tua Siswa terhadap pendidikan

Himpitan ekonomi di tengah sawit ini menjadikan orang tua siswa hanya pasrah dengan keadaan pendidikan anak-anak mereka. “yang penting pandai baca-tulis”, itulah kata-kata yang sering terlontar, atau bahkan ada sebagian orang tua yang berkata dalam bahasa bugis  “tak payahlah lama-lama sekolah, bila mau dapat duit?”. Miris memang dengan keadaan yang seperti ini, namun ada juga sebagian orang tua siswa yang selalu mementingkan pendidikan, walaupun pendidikan di ladang ini bisa di bilang seadanya. Karena beberapa siswa ada yang memang sekolah sambil bekerja, tekad mereka dalam meraih ilmu, sangat membanggakan.

Sejuknya senyuman warga di panasnya udara sawit

Bukan maksud mereka pergi dari Tanah Air untuk melupakannya, mereka hanya ingin ada perubahan dari segi ekonomi dan mengadu nasib di negeri jiran. Terkadang saya menangis dalam hati karena rasa syukur dengan keadaan yang Allah limpahkan kepada saya, betapa beruntungnya saya dapat hidup normal di Tanah Air sendiri.

Walaupun dalam himpitan ekonomi warga disini tidak pernah lupa akan arti kebersamaan, kerja sama dan gotong royong. Ya sifat orang Indonesia dimanapun mereka berpijak selalu ramah. Saya selalu tersenyum “ah bangganya menjadi orang Indonesia”.

Manusia adalah makhluk sosial

“Bu Nita” sapaan hangat mereka untuk saya disini, sebetulnya seorang guru disini dipanggil cikgu, namun entah mengapa saya lebih nyaman dipanggil dengan Bu Nita, sapaan untuk seorang guru jika di Indonesia, untuk itulah saya mengajarkan kepada anak-anak, sehingga warga pun turut serta memanggil saya dengan sapaan yang sama. Jika Ramadhan tiba kami selalu silih berganti memasak untuk buka puasa bersama di mesjid yang ada di ladang, itu tidak jauh dengan kegiatan yang selalu diadakan oleh masyarakat di Indonesia, sehingga walaupun jauh dari keluarga, rasa rindu itu sedikit terobati dengan adanya kebersamaan. Selain itu setiap tahun juga selalu ada Hari Buruh, dan perusahaan selalu mengadakan pekan olahraga yang biasa disebut dengan sukan pekerja. Saya turut serta mengikuti lomba-lomba yang diadakan tersebut. Peran saya di masyarakat biasa saja, apa yang saya mampu saya kerjakan dan turut serta.

Pengalaman Terkait Peranan dari SIKK, Konjen dan Perusahaan

Sekolah adalah tempat dimana para siswa menimba ilmu. Guru-guru Indonesia ini walaupun berada di ladang-ladang, namun titik utamanya adalah di Sekolah Indonesia Kota Kinabalu, peranan SIKK sangatlah penting, CLC merupakan sekolah filial dari sekolah induk yaitu SIKK ( Sekolah Indonesia Kota Kinabalu). Semua aturan pengelolaan, aliran dana dan pelaporan berkiblat kepada SIKK. Dengan adanya bantuan kerjasama, bimbingan serta monitoring evaluasi yang dilakukan oleh SIKK menjadikan CLC akan bisa menjalankan persekolahan sesuai dengan koridor yang di tetapkan dan dipakai oleh Depdikbud Indonesia. Kerjasama yang baik dari SIKK dan CLC akan sangat membantu perkembangan CLC di Sabah Malaysia. Dimulai dari pendanaan, pelaporan, ujian paket, maupun ujian semester telah terjalain kerjasama yang baik. Segala bentuk pelayanan pendidikan di Sabah ini, tentunya tidak akan terlaksana tanpa adanya peran serta Konsulat Jenderal Republik Indonesia. Kantor perwakilan RI di Sabah berpusat di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kota Kinabalu dan untuk wilayah Tawau berpusat di Konsulat Republik Indonesia (KRI) Tawau. Segala aktifitas dan kegiatan yang berhubungan dengan CLC berpusat pada KJRI Kota Kinabalu, sedangkan Humana benaung pada KRI Tawau. Adanya hubungan baik dan komunikasi yang lancar sehingga program –program CLC dapat berjalan dengan lancar. Selain peran serta SIKK dan Konjend, pelaksanaan pendidikan tidak dapat terlaksanan tanpa peran serta perusahanan tempat dimana sekolah Indonesia didirikan, . Karena tanpa ada izin dari pengurus ladang kegiatan ini tidak dapat diwujudkan.  Perlu diketahui bahwa di ladang tempat saya mengajar baru tahun ini membuka TKB setingkat SMP dengan menginduk kepada clc yang sudah berdiri, saya berharap dengan begitu anak-anak dapat mendapatkan pendidikan dengan jenjang yang lebih tinggi.

Rumahku Istanaku

an4Sebagai seorang guru disini Alhamdulillah saya mendapatkan tempat tinggal yang layak, walaupun terkadang air tidak terlalu bersih dan tidak lancar, tidak menjadi penghambat bagi saya untuk beraktivitas disini. Karena saya diberikan fasilitas rumah staf, jadi untuk listrik disini 24 jam. Walaupun pada awalnya saya sempat merasakan tinggal di rumah pekerja/warga yang listriknya tidak 24 jam. Jadi ada jadwal pemadaman antara pukul 05.00 sampai dengan 06.30 listrik menyala dan dipadamkan sampai dengan 17.00, setelang itu akan menyala lagi hanya sampai 22.00, dan begitu setiap hari. Jujur saya kurang nyaman dengan hal itu karena saya perempuan dan hanya sendiri. Setelah itu saya mencoba untuk berbicara dengan pihak pengurus ladang akhirnya mereka memberikan izin untuk saya tinggal di rumah staff.

 Program Unggulan yang Dilakukan untuk Pengembangan Pusat Belajar

an5Bermain sambil belajar, itu yang biasa saya gunakan dalam system pembelajaran di tempat saya mengajar, karena sebagian dari anak-anak yang memang sudah kelelahan dari bekerja membantu orang tua lalu berangkat ke sekolah untuk menimba ilmu. Supaya mereka tidak bosan dan tidak merasa tertekan biasanya saya membuat games.

Untuk kelas 1 dan 2 masih banyak yang belum bisa membaca dan menulis, sehingga saya memberikan pelajaran tambahan pada hari sabtu khusus untuk anak-anak yang memang belum bisa membaca. Untuk anak usia 12 tahun ke atas kalau memang mereka sudah lancar membaca dan mampu menyerap pembelajaran dengan baik, saya ikut sertakan dalan ujian paket A yang memang selalu diakan oleh Pemerintah Indonesia. Sehingga mereka nanti dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi setelah sekolah dasar. Banyak anak-anak yang berpotensi disini sehingga saya memberikan pelajaran ekstrakurikuler seni suara dan musik, karena memang saya pun sangat menyukai bidang ini, untuk sementara baru ada paduan suara dan recorder saja, karena keterbatasan faslitas.

an6Dalam hal kesenian mereka cepat sekali memahami, sehingga mereka bisa enjoy dan menikmati pembelajaran seni yang saya berikan. Karena guru Indonesia disini hanya saya saja seorang sehingga saya belum mampu untuk membuka CLC, saya baru mampu membuka TKB dengan menginduk pada CLC terdekat yang sudah berdiri.

Rekomendasi dari Guru

Selama kurang lebih 1 tahun disini banyak sekali suka dan duka menjadi seorang guru di ladang sawit negeri jiran ini, namun banyak potensi yang bisa dikembangkan disini, supaya anak-anak Indonesia mempunyai pengetahuan lebih bukan hanya sekedar membaca, menghitung dan menulis. Karena di tempat saya merupakan ladang central sehingga bukan hanya warga dari Terusan Baru saja yang bersekolah disini melainkan dari Terusan Tiga dan Luang Manis, saya berharap dari pemerintah bisa memberikan tambahan guru Indonesia di ladang saya, karena itu sangat di butuhkan melihat dari kebutuhan kegiatan pembelajaran.

Anak-anak sedang menonton film sangkuriang cerita rakyat dari Jawa Barat

Anak-anak sedang menonton film sangkuriang cerita rakyat dari Jawa Barat