SEPENGGAL KISAH PENDIDIK INDONESIA UNTUK ANAK- ANAK TENAGA KERJA INDONESIA (TKI) PADA PUSAT BIMBINGAN HUMANA HOUSE 85

DI LADANG LABUK, SANDAKAN, SABAH, MALAYSIA

Oleh: Dwi Budiatun, S.Pd, Si

 

Sekumpulan anak-anak Indonesia yang terlahir dari orang tua yang mempunyai nasib kurang beruntung menyebabkan mereka harus pergi turut serta orang tuanya merantau dari tanah luhur kelahiran yang sebetulnya sangat kaya.  Salah satu tempat perantauan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ialah Sabah Malaysia yang mayoritas wilayahnya terdiri dari perkebunan kelapa sawit dengan jumlah luas lahan perkebunan mencapai 4,5 juta hektare. Sebagian besar TKI di Sabah tinggal bersama keluarga di daerah perkebunan kelapa sawit dan jauh dari perkotaan. Jika pada awalnya mereka dan anak-anaknya memperoleh jaminan pendidikan dari negeri yang terkenal dengan negara kerajaan, namun sejak 2002 kerajaan melarang anak-anak negara asing bersekolah di sekolah kebangsaan. Akibatnya banyak anak-anak TKI yang berada di Sabah kehilangan hak mereka untuk belajar apalagi mereka adalah anak-anak TKI illegal yang datang tanpa dokumen resmi.

Pusat Bimbingan Belajar Humana Child Aid Society merupakan lembaga sosial nonprofit Malaysia (NGO) dengan pendiri asal Swedia yang pertama kali memberikan pelayanan pendidikan sekedar bisa membaca, menulis, dan menghitung bagi anak-anak di perkebunan kelapa sawit wilayah Sabah serta mendapat izin operasional dari pemerintah setempat. Namun pihak Humana belum dapat memberikan pelayanan pendidikan bagi seluruh anak-anak TKI karena kekurangan tenaga pendidik dan fasilitas pendukung. Berdasarkan alasan tersebut maka Kementerian Pendidikan Nasional melalui Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan telah mengirim pendidik ke Pusat Bimbingan Belajar Humana sejak tahun 2006. Penulis adalah pendidik angkatan tahun 2011 tahap 3 yang diberi tugas mengajar di Humana House 85 Ladang Labuk, Sandakan, Sabah.

Pusat belajar Humana House 85 berada di tengah perkampungan pekerja ladang sawit Labuk Estate dibawah koordinasi distrik Sandakan. Pusat belajar tersebut telah berdiri selama 6 tahun terhitung sejak tahun 2006. Ladang Labuk Estate beralamat di Ladang Sabah Sdn Bhd W. D. T. 164 90009 Sandakan Sabah di km 56 dan terletak di sebelah kiri jalan dari arah Kinabalu- Sandakan. Jalan masuk masih jalan tanah yang diratakan dan selalu becek tiap turun hujan. Labuk Estate merupakan daerah perbukitan yang selalu berkabut tiap menjelang fajar. Musim hujan dan kemarau tidak menentu namun dalam satu minggu pasti turun hujan. Hawa panas mulai terasa setiap pukul 11 siang sampai 11 malam dan paling dingin pada pukul 4 sampai 6 pagi.

Humana House 85 menampung kurang lebih 75 siswa mayoritas anak-anak TKI suku Bugis dan sedikit anak Filipina dengan 4 guru perempuan yang terdiri dari 2 orang guru Indonesia, 1 orang guru kebangsaan Filipina, dan 1 orang guru tempatan Malaysia. Rumah belajar yang terkesan sebagai sekolah darurat ini selalu mengalami perubahan jumlah siswa karena rumah belajar ini menerima siswa baru setiap saat dan banyak siswa yang keluar masuk tidak sesuai dengan kalender pendidikan yang berlaku. Umur siswa berkisar 5 sampai 13 tahun yang tersebar pada tingkatan Tadika (Taman Kanak-Kanak/ Playgroup) sampai Darja 6 (SD Kelas 6 ). Suasana sekolah cukup ramai karena hampir 70% mayoritas terdiri dari siswa laki-laki.

dwi1

Gambar 1: Perkumpulan Siswa Humana House 85 di bawah kolong sekolah

Kondisi anak Indonesia di ladang sawit Sabah Malaysia cukup memprihatinkan. Kehidupan keras kehidupan ladang mempengaruhi sikap dan perilaku mereka. Berkata kotor dan jorok, kurang sopan, pengetahuan dan pengamalan agama yang sangat kurang, kurangnya pengetahuan tentang Indonesia, rendahnya motivasi belajar merupakan gambaran yang dapat penulis ungkapkan mengenai kondisi mereka. Masih banyak dijumpai siswa Darja belum lancar membaca serta beberapa siswa di atas usia 10 tahun masih harus kelas Tadika karena belum dapat membaca.

Proses pembelajaran di Humana mengikuti kalender pendidikan Malaysia, dalam satu minggu lima hari sekolah yaitu Senin hingga Jumat. Proses pembelajaran dimulai pada pukul 07.00 pagi dan berakhir pada pukul 11.30 dengan istirahat satu kali pukul 09.00- 09.30. Satu jam pelajaran berdurasi tiga puluh menit. Jadi setiap hari ada 8 jam pelajaran.  Kurikulum yang berlaku di setiap Pusat Belajar Humana mengacu pada kurikulum Kementerian pelajaran Malaysia, namun guru Indonesia diberi wewenang untuk mengajarkan materi-materi tambahan berkaitan dengan pengetahuan Indonesia. Setiap pagi sebelum KBM di kelas, siswa berbaris sesuai kelasnya, presensi, pengecekan kebersihan badan pakaian,  kemudian berdoa, melafalkan Rukun Negara dan Pancasila, menyanyikan lagu “Negaraku”, “Indonesia Tanah Raya”, “Sabah Tanah Airku”, dan “Humana Theme Song”. Pada hari Senin- Kamis diadakan sholat Dzuhur berjamaah di sekolah setelah pelajaran selesai.

dwi2

Gambar 2.  Apel pagi siswa Humana House 85

Evaluasi pembelajaran hanya dilakukan satu tahun sekali yaitu pada setiap akhir tahun pembelajaran yang biasanya dilakukan pada awal bulan November dengan istilah “Peperiksaan Akhir Tahun”. Evaluasi dilakukan pada pembelajaran inti saja, yaitu Bahasa Malaysia, Bahasa Inggris, Matematika, dan Sains. Evaluasi dilakukan oleh Humana dan hasilnya disimpan untuk mengetahui tingkat kemajuan belajar peserta didik pada pusat bimbingan saja. Sementara penulis sebagai pendidik Indonesia, melakukan penilaian sendiri baik untuk penilaian ulangan harian, tengah semester, maupun semesteran.

Pusat belajar ini sejenis pendidikan non formal di Indonesia, namun karena Kementerian Pelajaran Malaysia tidak mengenal istilah pendidikan non formal maka sijil (ijazah) kelulusan siswa Humana tidak diakui oleh Negara Malaysia maupun sekolah di Indonesia. Akan tetapi melalui koordinasi antara pendidik yang ditempatkan di Pusat Bimbingan Humana dengan Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) mulaI tahun 2009 maka anak TKI yang usianya telah mencapai 12 tahun ke atas dikutsertakan dalam Ujian Nasional Kesetaraan Paket A. Selama setahun bertugas, ada lima anak Humana House 85 telah lulus Ujian Kesetaraan Paket A bulan Mei lalu. Selanjutnya siswa tersebut akan menjadi warga belajar Learning Centre (SMP Terbuka) di bawah naungan SIKK.

0rang tua siswa Humana House 85 adalah pekerja kasar ladang sawit yang sebagian besar adalah suku Bugis , Sulawesi Selatan. Meskipun terdapat juga pekerja dari Filipina maupun pekerja lokal, namun perusahaan lebih menyukai pekerja Indonesia karena mereka rajin dan pekerjaannya rapih serta dari sisi biaya berharga relative murah. Adanya larangan membawa keluarga dan menikah serta gaji yang relative kecil, namun jumlah TKI yang membawa keluarga dan menikah tidak resmi cukup banyak. Hal ini ternyata memberikan manfaat bagi perusahaan karena pekerja yang tinggal bersama keluarga relative lebih tenang, tidak berpindah-pindah dan mau dibayar murah. Dalam perkembangannya, pekerja Indonesia datang ke Malaysia dengan cara melalui agen pengerah tenaga kerja maupun datang sendiri. Kedatangan para TKI ke Malaysia belakangan ini sebenarnya di dukung cerita kisah ‘sukses’ oleh para pendahulunya. Relasi cultural Indonesia dan Malaysia yang masih erat pada mulanya berdampak biasa, namun hal inilah yang menjadi salah satu akar masalah banyaknya warga Indonesia tanpa paspor di Malaysia.

Gaji pekerja ladang sawit kurang lebih RM 700 bagi  perempuan dan RM 700-1000 setiap bulannya untuk laki-laki. Walaupun mata uang di negeri tersebut lebih tinggi namun harga barang-barang kebutuhan sehari-hari juga tinggi dibanding Indonesia. Kebutuhan makan pekerja ladang mencapai rata-rata RM 500 setiap keluarga, belum kebutuhan tambahan yang bisa dipenuhi dengan hutang di kedai-kedai di dalam ladang. Kondisi yang demikian tidak membuat mereka berpikir untuk mencari pekerjaan lain karena menurutnya pekerjaan ini sudah cukup baik. Bekerja di ladang sawit tidak tak perlu memakai syarat-syarat seperti memiliki ijazah, surat keterampilan, penguasaan bahasa, dan sebagainya pasti dapat kerja asalkan mau bekerja, berbeda jika mencari pekerjaan di kampung yang musti berijazah tinggi dan memiliki modal, itulah jalan pemikiran sebagian besar TKI di Sabah. Hidup semakin susah seiring perkembangan zaman, dengan tingkat pendidikan orang tuanya yang rendah ternyata berpengaruh pada pola pemikiran terhadap anaknya. Mereka menurunkan ajaran mereka menjadi sebuah paradigma bagi anak-anaknya bahwa pendidikan itu tak lebih dari sekedar membaca dan menulis. Bagi mereka tidak perlu bersekolah tinggi yang penting bisa mencari uang untuk bertahan hidup.

Bedasarkan pemikiran tersebut, banyak orang tua siswa yang kurang memperhatikan perkembangan belajar anak. Mereka menyerahkan belajar anak sepenuhnya kepada pihak sekolah. Apabila anaknya tidak masuk sekolah, bolos, ataupun berhenti sekolah tanpa ada pemberitahuan kepada pihak sekolah. Ada sebagian orang tua yang menganggap sekolah sebagai tempat penitipan anak dan tempat bermain saja. Bahkan ada yang menyuruh anaknya untuk tidak berangkat sekolah atau berhenti sekolah karena disuruh bekerja mencari uang guna menambah penghasilan keluarga. Kami telah berupaya untuk mendekatkan diri dengan orang tua siswa, setiap akhir semester orang tua diundang ke sekolah untuk menerima hasil belajar anaknya sekaligus diberikan arahan untuk lebih mengawasi belajar anak saat berada di rumah. Namun masih banyak juga  orang tua menyerahkan semua urusan pendidikan pada guru.

dwi3

Gambar 3. Pertemuan Orang Tua Siswa

Selama satu tahun penulis menjadi pendidik, banyak program yang dilakukan untuk memberikan pendidikan yang lebih maju pada mereka dalam segala bidang. Program itu antara lain yaitu pengamalan agama Islam berupa doa sehari- hari dan sholat wajib, program sukan (pertandingan olahraga) tiap peringatan hari kemerdekaan Indonesia guna menumbuhkan semangat nasionalisme dan cinta tanah air, keikutsertaan dalam sukan tahunan Humana distrik Sandakan, upacara hari Senin untuk meningkatkan kedisiplinan dan kebersamaan, pendidikan karakter, pelatihan keterampilan, kajian tempatan Indonesia, serta pelibatan orang tua/ wali dalam perkembangan belajar anak. Kami juga memiliki program unggulan berupa “Jogging Minggu Pagi” tiap bulan di minggu pertama bersama masyarakat dan pihak perusahaan guna mengeratkan hubungan dan kebersaman setiap lapisan warga ladang. Program tambahan lainnya yang dilakukan adalah mengadakan Ujian Kesetaraan Paket A bagi anak-anak usia12 tahun ke atas.

dwi4

Gambar 4. Perbarisan siswa Humana House 85 pada Sukan Tahunan Distrik Sandakan Tahun 2013

Pada umumnya guru-guru Humana melakukan pengajaran dengan bantuan buku-buku yang disediakan pihak Humana yang dibeli oleh orang tua. Saya berharap Pemerintah Indonesia dapat memberikan buku pelajaran dengan jumlah cukup, sehingga setiap anak bisa mendapatkan buku yang lebih memahami tentang Indonesia. Selain itu pendidik yang ditugaskan di Pusat Bimbingan Humana juga mengalami keterbatasan fasilitas pembelajaran. Selama ini pihak Humana hanya meyediakan kapur, kertas, dan ATK lainnya tapi tidak ada penyediaan media pembelajaran lain seperti alat- alat peraga, alat laboratorium sederhana, ataupun buku pengayaan. Sementara pemerintah Indonesia hanya mengirimkan pendidik, saya harap selain dikirim pendidik pemerintah juga memberikan bantuan fasilitas pendidikan layaknya fasilitas yang diberikan kepada Learning Centre karena siswa Humana juga merupakan anak-anak Indonesia.

Pendidikan merupakan salah satu hak asasi manusia yang harus diperhatikan oleh pemerintah sebuah Negara. Undang- undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan bahwa Negara berkewajiban melaksanakan penyelenggaraan pendidikan wajar (wajib belajar) 9 tahun untuk setiap WNI, baik yang tinggal di NKRI maupun di luar negeri. Oleh karena itu, negara wajib memberikan layanan belajar kepada WNI khususnya yang tinggal di luar wilayah Indonesia yang mengalami kesulitan untuk mendapatkan pendidikan wajar tersebut. UU tersebut juga mengamanatkan bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu.  Menjadi pendidik untuk anak-anak TKI di ladang sawit Sabah membuka mata saya bahwa belum semua anak Indonesia mengenyam wajar (wajib belajar) 9 tahun. Ini merupakan kewajiban pemerintah Indonesia untuk lebih banyak mendirikan Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN) khususnya di kawasan perkebunan sawit Sabah.

Tingkat kemajuan belajar seorang siswa sangat ditentukan pula oleh kwalitas pendidiknya. Saya mohon pihak Kemendikbud harus lebih ketat dan selektif dalam menentukan tenaga pendidik yang akan dikirim ke Sabah agar mereka lebih siap dan mampu mendidik di lingkungan ladang dengan kehidupan yang keras dan fasilitas seadanya. Mereka juga perlu diberikan pelatihan dan pembekalan di awal dan selama masa tugas di Sabah dalam menghadapi kelas multi-grade karena tidak semua tenaga pendidik terbiasa menghadapi kondisi seperti ini di Indonesia.