Biografi Perjalan Guru Indonesia dalam Memberikan Layanan Pendidikan bagi Anak-anak TKI di Ladang Sapi 2, Sandakan, Sabah, Malaysia

Hendrik Pandu Paksi, S.Pd, M.Pd.

Eka Nur Febriyanti, M.Pd

(Pendidik untuk pendidikan anak-anak Indonesia di Sabah, Malaysia)

Dalam rangka mengembangkan Sumber Daya Manusia yang berkualitas di masa depan, pendidikan memang mutlak diperlukan, bahkan UNICEF sebagai lembaga Dunia yang mengurusi masalah pendidikan sudah memberikan pernyataan bahwa anak-anak usia sekolah berhak untuk memperoleh pendidikan dan Negara wajib untuk memfasilitasi. Di Sabah yang mayoritas wilayahnya terdiri dari perkebunan kelapa sawit, sebagian besar pekerjanya adalah Tenaga Kerja Indonesia. Para TKI ini datang ke Sabah untuk bekerja dan banyak yang membawa serta anggota keluarga, termasuk anak-anaknya. Anak-anak TKI ini tinggal dan bersekolah mengikuti orang tuanya. Sebelumnya anak-anak Indonesia ini bersekolah di sekolah kebangsaan Malaysia, namun sejak 2002, kerajaan melarang anak-anak negara asing bersekolah di sekolah kebangsaan. Akibatnya banyak anak-anak Indonesia yang putus sekolah. Sebagai gantinya, pemerintah Malaysia menyerahkan urusan pendidikan anak-anak dari negara asing tersebut pada suatu lembaga yang bernama Humana Child Aid Society.

pan1Perkenalkan, kami adalah guru Indonesia yang dikirim oleh Kemdikbud untuk memberikan layanan pendidikan bagi anak-anak Indonesia di Sabah, Malaysia. Eka Nur Febriyanti, lahir di Mojokerto, 26 Februari 1986 dan Hendrik Pandu Paksi, lahir di Madiun, 31 mei 1984. Status kami adalah guru kontrak Kemdikbud untuk masa tugas 2011-2014. Kami bertugas mengajar anak-anak Indonesia di Humana 136 ladang sapi 2 estate, Sandakan, Sabah, Malaysia. Sapi 2 Estate terletak di distrik Sandakan, Sabah.

Di dalam estate ini terdapat satu sekolah Humana, yaitu Humana House 136. Sekolah ini terletak di tengah-tengah lapangan di antara masjid dan lapangan sepak bola. Sekolah tersebut juga dikelilingi blok atau lahan kelapa sawit pada bagian belakang sekolah. Merupakan suatu posisi yang cukup strategis dengan posisi sekolah yang berjarak kurang lebih 200 meter dari perumahan warga. Humana 136 ini berupa sekolah batu, bukan sekolah panggung seperti yang terdapat di beberapa wilayah yang lain. HUMANA 136 yang terletak di ladang Sapi 2 estate, Sandakan. Negara bagian Sabah, Malaysia ini merupakan salah satu dari perusahaan milik Wilmar Company. Lokasi ladang terletak di simpang Sapi Nangoh, kurang lebih 170km dari kota Sandakan.

Anak-anak Indonesia yang berusia 5-13 tahun bisa belajar di sana di tingkat TK dan SD. Pada tahun 2013 ini, terdapat tingkatan Tadika atau TK A sampai kelas 6 SD. Hal ini berbeda dengan tahun lalu yang hanya sampai kelas 4 SD saja. Ada tiga ruangan di komplek sekolah itu. Dua ruangan kelas untuk belajar dan satu rumah untuk guru yang ditempatkan di sana. Humana House 136 saat ini memiliki murid kurang lebih 150 siswa dari tingkat Tadika (taman kanak-kanak) hingga Darja 6 (sekolah dasar). Mereka tidak hanya berasal dari Sapi 2, tetapi juga dari wilayah sekitar Sapi 2 yaitu Sapi 1, Perumahan Kilang, dan Perumahan 44. Tahun ini, satu sekolah baru telah selesai dibangun. Sekolah itu terletak di Sapi 1. Sebenarnya sekolah tersebut sudah siap untuk ditempati dan dibuat belajar para murid, tetapi ada beberapa hal yang mungkin harus diselesaikan sehingga murid yang tinggal di Sapi 1 masih bersekolah di sekolah Sapi 2. Setiap hari, siswa-siswa dari sapi 1 dan kilang pergi dan pulang sekolah dengan diantar bus sekolah yang disediakan oleh perusahaan. Sedangkan siswa yang rumahnya sapi 2 ke sekolah dengan berjalan kaki karena lokasi sekolah tidak jauh dari rumah siswa. Para murid yang berasal dari luar Sapi 2 berangkat ke sekolah dengan bis sekolah atau bis pekerja ataupun lori pengangkut kelapa sawit. Masalah klise yang mereka hadapi adalah kerusakan bis. Hal ini sudah biasa terjadi. Masih beruntung mereka hanya datang terlambat ke sekolah. Terkadang sampai tidak bisa pergi ke sekolah karena bis bermasalah. Itulah mengapa disediakan beberapa alternatif kendaraan pengantar-jemput untuk anak-anak untuk mengantisipasi kerusakan yang terjadi pada bis sekolah. Pembelajaran biasa dimulai pukul 7.30. Dengan keterlambatan bis yang menjemput mereka, biasanya mereka baru tiba di sekolah pukul 8 atau 8.30. Sedangkan pembelajaran berakhir sekitar pukul 11 atau 11.30. Waktu yang kurang efektif untuk belajar di sekolah menurut kami.

Para guru berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan pembelajaran agar semua siswa memahami materi pembelajaran. Waktu belajar mereka yang minim pun sebenarnya dipengaruhi oleh pembagian kerja supir dan bis untuk antar jemput murid-murid kerajaan yang kebetulan adalah anak dari para pekerja staf ladang. Dalam satu kelas TK atau Tadika terdapat kurang lebih 56siswa, terbagi atas TK A dan TK B. Dapat dibayangkan bukan, bagaimana riuh ramainya kelas dengan begitu banyak siswa dengan dua tingkatan. Kelas sebelah pun demikian. Satu kelas terdapat enam tingkatan. SD kelas 1-6. Semuanya kurang lebih 98 murid. Dalam kelas TK, tidak semua siswa belajar menggunakan meja dan kursi. TK A terpaksa harus duduk di lantai, sedangkan TK B duduk di kursi dan ada meja untuk mereka. Itupun terkadang mereka harus duduk berdesakan karena kursi pun terbatas.

pan4Tingkat SD tahun ini kondisi kelas membaik dari segi meja dan kursi.Mereka mendapat kursi semua. Namun kursinya bukan kursi standar pasangan meja tulis dan kursi kelas. Dengan uang kas sekolah, kepala sekolah membelikan kursi tambahan untuk mereka. Hal ini dilakukan karena pihak sekolah tidak mungkin menunggu datangnya suplai kursi dari perusahaan karena terlalu banyak hal yang harus diurus oleh pihak perusahaan. Kondisi yang kurang memuaskan adalah dengan bertambahnya jumlah murid tahun ini dan kondisi kelas yang sama, maka ruang lingkup kelas semakin sempit. Mulai dari kelas 1 hingga kelas 6 berada dalam 1 kelas. Namun mereka tidak perlu berebut kursi dan meja. Hanya saja beberapa meja harus digunakan oleh 3 siswa dimana seharusnya 1 meja digunakan untuk 2 murid saja. Untuk memberikan layanan pendidikan, sekolah ini diampu oleh 4 orang guru. 2 guru dari Indonesia dan 2 guru dari tempatan. Guru dari Indonesia tersebut adalah Eka Nur F yang bertugas mengajar kelas darja 5 dan 6, dan Hendrik Pandu P yang bertugas mengajar kelas darja 1 dan 2. Sedangkan guru tempatan adalah Rahmi yang bertugas mengajar kelas Tadika 1 dan 2, dan Nor Aisyah yang bertugas mengajar kelas darja 3 dan 4. Hal ini cukup menguntungkan bagi para siswa dibanding dengan hanya ada satu guru dalam satu kelas.

Kami tidak bisa membayangkan bagaimana siswa mampu memahami dan menguasai materi pembelajaran jika yang diajar berbeda tingkatan hanya dengan satu guru. Mengajar di Humana berbeda dengan mengajar siswa-siswa di sekolah reguler di Indonesia. Selain kurikulum yang berbeda, kondisi siswa pun tidak sama. Disini pembelajaran lebih mirip bimbingan belajar dimana materi yang diajarkan tidak selalu mengikuti buku panduan, tetapi disesuaikan dengan kondisi siswa. Masih ada siswa yang secara usia sudah kelas 2 tetapi masih kesulitan membaca, menulis dan berhitung. Guru harus menyesuaikan materi sesuai kebutuan siswa. kami sempat teringat dengan materi pembelajaran dengan metode multigrade class yang kami dapatkan selama proses pembekalan di Jakarta. Menerapkan metode ini tidak semudah yang dibayangkan mengingat materi dan target pembelajaran serta kemampuan siswa yang berbeda pula.

Humana 136 mempunyai perpustakaan mini yang terletak di barat sekolah dan masih merupakan satu bangunan dengan sekolah. Saat ini, perpustakaan mini itu mulai terbengkalai. Minat baca murid-murid memang kurang jika dibandingkan keinginan dan kegembiraan mereka saat bermain pada masa istirahat sekolah. Perpustakaan mini tersebut memang jarang sekali dimanfaatkan karena tangan-tangan jahil murid-murid yang kadang membuat geram para guru akibat kerusakan yang mereka buat di perpustakaan tersebut. Kertas sobek, buku hilang, kaset rusak, dan kerusakan lain yang disebabkan murid-murid tersebut. Perpustakaan mini tersebut sebenarnya kurang layak dijadikan perpustakaan karena terdapat 2 kran air yang sudah rusak di dalam ruangan dan beberapa bulan yang lalu kran itu bocor dan patah yang menyebabkan perpustakaan banjir. Selain itu, perpustakaan itu juga digunakan sebagai gudang. Bisa kita bayangkan bagaimana kondisi perpustakaan setelah banjir kecil akibat kebocoran kran air tersebut. Untunglah masih ada sebagian buku yang masih bisa dimanfaatkan. Oleh sebab itulah, saat ini perpustakaan seakan mati suri. Masih belum tergambar bagaimana kami, pihak sekolah memperbaiki dan menghidupkan kembali perpustakaan tersebut.

Kondisi kelas pun kurang kondusif sebagai tempat belajar. Sekolah hanya terdiri dari 2 ruangan. Satu ruangan digunakan untuk kelas tadika 1 dan 2, sedangkan satu kelas lainnya digunakan untuk kelas darja 1 hingga 6. Kondisi kelas besar dengan jumlah rombongan belajar yang banyak tentu saja kurang kondusif. Guru sering merasa kesulitan dalam mengatur siswa. Siswa yang rata-rata usia anak-anak memang senang bermain, bahkan di dalam kelas. Mereka terkadang berlari-lari dalam kelas, bermain dengan kawannya, berteriak-teriak dan banyak lagi ulah mereka. Dalam sehari pasti ada paling tidak satu siswa yang menangis karena diganggu temannya. Guru terkadang merasa kesulitan mengkondisikan kelas dengan jumlah siswa lebih dari 100. Jika satu siswa dinasehati, siswa lainnya membuat masalah. Terkadang guru pun harus berteriak-teriak supaya siswa bisa tenang, terkadang juga memberlakukan hukuman bagi siswa yang dianggap terlalu nakal atau yang dianggap sebagai sumber masalah. Namun dibalik kenakalan mereka, sesungguhnya mereka mempunyai semangat yang tinggi untuk bersekolah. Jika guru memberikan pelajaran tambahan mereka selalu bersemangat, bahkan di hari libur pun mereka selalu ingin belajar. Hal inilah yang membuat kami sebagai guru merasa bangga dengan semangat mereka.

pan5Salah satu faktor yang mempengaruhi proses belajar siswa adalah orang tua dan masyarakat sekitar. Sebagian besar orang tua siswa adalah pekerja di perkebunan sawit. Profesi mereka berbeda-beda. Ada yang menjadi penyabit, penombak, slashing, memungut biji sawit, pengurus kebun, pengangkut sampah, memandu kendaraan pengangkut sawit, pekerja di pengolahan minyak sampai mengurus anak. Umumnya orang tua jarang memperhatikan masalah pendidikan anak. Orang tua menyerahkan sepenuhnya urusan pendidikan pada sekolah. Selama dirumah anak tidak diarahkan untuk belajar atau mengerjakan tugas-tugas sekolah. Bahkan saat siswa tidak masuk sekolah entah karna sakit, ada kepentingan keluarga, ataupun bolos sekolah tidak ada perhatian dari orang tua, bahkan sekedar memberitahu guru bahwa anaknya tidak masuk sekolah karna alasan tertentu. Sering dijumpai siswa tiba-tiba tidak masuk sekolah untuk waktu tertentu, tiba-tiba lagi masuk, dan sering pulang sebelum sekolah usai tanpa ada pemberitahuan, seolah-olah sekolah hanya sebagai tempat bermain saja. Sebenarnya sudah ada upaya dari guru untuk mengajak kerjasama orang tua siswa dalam hal pendidikan anak. Tetapi orang tua umumnya menyerahkan semua urusan pendidikan pada guru. Hal inilah yang terkadang membuat guru prihatin. Siswa belajar di sekolah rata-rata hanya 4-5 jam tiap harinya, selebihnya kegiatan siswa lebih banyak di keluarga dan masyarakat, tanpa bantuan orang tua dan masyarakat tentu saja hasilnya kurang optimal. Ditambah lagi banyak orang tua dan masyarakat yang mempunyai kebiasaan buruk seperti merokok, sabung ayam, berjudi kartu, bahkan mabuk-mabukan. Hal ini secara tidak langsung akan ditiru oleh anak. Namun tidak semua orang tua dan masyarakat seperti gambaran diatas, ada juga orang tua yang peduli dengan anaknya, mengantar jemput anak ke sekolah, memeriksa pekerjaan rumah anak, mengarahkan anak untuk belajar dan membantu anak memahami materi-materi pelajaran yang diberikan di sekolah. Masyarakat juga ada yang mempunyai kebiasaan baik sehingga bisa memberikan contoh yang baik.

Masyarakat di lingkungan perkebunan sawit ini adalah pekerja yang punya watak dan peringai yang berbeda-beda. Keadaan seperti ini bisa dipengaruhi oleh tingkat pendidikan orang tua, maupun kebiasaan-kebiasaan yang sering dilakukan di masyarakat. Dalam hal ini guru tetap berharap orang tua dan masyarakat tetap memberikan perhatian kepada anak-anaknya terutama pada perkembangan belajar anak. Kegiatan guru bukan hanya mengajar saja, tetapi sering juga ikut serta dalam kegiatan kemasyarakataan. Beberapa kegiatan yang sering dilakukan guru adalah berdialog dengan warga baik mengenai perkembangan belajar siswa maupun topik yang umum. Selain itu guru juga aktif mengkuti kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan warga seperti selamatan, pengajian, maupun perlomban-perlombaan yang biasa diadakan pada hari-hari tertentu. Selain itu guru juga sering dimintai pendapat dalam urusan-urusan warga seperti masalah ketenaga kerjaan, masalah keimigrasian, masalah hukum dan sebagainya karena guru (terutama guru Indonesia) dianggap dekat dengan konsulat dan diharapkan bisa menjadi jembatan penghubung antara warga dan konsulat.

pan6Untuk guru Indonesia under Humana, disamping mengajar di sekolah Humana pada hari senin hingga jumat, juga membantu mengajar di community learning centre (CLC) sebagai guru bina setiap sabtu dan minggu. CLC adalah sekolah yang dibangun oleh pemerintah Indonesia dan menggunakan kurikulum Indonesia. Murid CLC adalah anak-anak yang telah memasuki usia SMP dan telah memiliki ijasah SD atau kejar paket A. Di dalam pembelajaran, peran serta masyarakat sangatlah penting. Namun banyak orang tua dan masyarakat yang kurang mengerti pentingnya pendidikan. Namun secara umum, masyarakat (terutama orang tua siswa) memiliki peranan yang cukup besar, diantaranya adalah mengantarkan anak-anaknya pergi ke sekolah, menyediakan bekal bagi anak-anaknya sehingga tidak kelaparan selama bersekolah, membelikan alat-alat sekolah seperti tas, sepatu, alat tulis, dan seragam. Namun peranan orang tua ini belum begitu banyak membantu belajar siswa karena rata-rata orang tua juga tidak mengenyam pendidikan sehingga tidak tahu bagaimana memotivasi anak untuk belajar.

Perusahaan yang mengelola ladang Sapi 2 adalah Perusahaan besar jika dibandingkan dengan ladang-ladang terdekat seperti IJM, monsok, dan sri harapan. Peranan perusahaan pada pendidikan diantaranya adalah membangun sekolah dengan bangunan yang permanen dan melengkapi sarana prasarana yang dibutuhkan dalam pembelajaran seperti meja kursi, papan tulis, dan sarana pendukung lainnya. Perusahaan terkesan setengah-setengah dalam memfasilitasi pendidikan. Pada awalnya memang sarana dan prasarana dilengkapi, tetapi seiring berjalannya waktu fasilitas tersebut mulai rusak dan belum ada upaya dari perusahaan untuk melakukan perbaikan atau penggantian. Saat ini sudah banyak meja dan kursi siswa yang sudah tidak layak pakai. Di sekolah, Perusahaan juga mengangkat dua orang yang ditugaskan untuk menjaga sekolah, merawat dan membersihkan sekolah, dan membantu guru menjaga siswa selama jam istirahat. Seluruh biaya untuk sekolah anak ditanggung oleh perusahaan kecuali barang-barang untuk keperluan pribadi siswa seperti buku tulis, alat tulis, baju seragam, tas sekolah dan sepatu tetap dibebankan kepada orang tua siswa masing-masing.

Disamping berpartisipasi dalam pendidikan, perusahaan juga menyediakan rumah bagi guru dengan segala fasilitasnya. Rumah guru terletak kawasan sekolah dan menjadi satu dengan bangunan sekolah sehingga memudahkan guru pada saat pulang dan pergi ke sekolah. Bangunan rumah guru adalah bangunan permanen. Perusahaan juga menyediakan fasilitas listrik gratis dan air berupa tadah hujan dan subsidi perusahaan berupa air kolam yang disaring kemudian dialirkan ke rumah-rumah menggunakan generator Selama menjadi pendidik disini, kami mempunyai rencana kerja yang jelas dalam rangka memberikan pelayanan pendidikan bagi anak-anak Indonesia di Sabah-Malaysia. Tidak hanya rencana dalam hal memberikan pengajaran kepada siswa saja. Tetapi juga membantu masyarakat setempat menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada di masyarakat sesuai kemampuan. Adapun program-program unggulan yang dilakukan guru adalah sebagai berikut :

  1. Tuntas Calistung , Siswa Tadika Siswa Tadika seluruhnya harus bisa membaca, menulis, dan berhitung
  2. Star Corner,  Seluruh Siswa Siswa memiliki Karakter dan akhlak yang baik
  3. Hand Made, Seluruh Siswa Siswa mampu membuat hasil karya asli buatan tangan sendiri
  4. Life Skill, Seluruh Siswa Siswa memiliki kecakapan hidup untuk bisa bergaul di masyarakat serta memahami adat istiadat tempatan
  5. Parenting,  Orang Tua Siswa Orang tua mengetahui hak dan kewajibannya dan mampu mendampingi dan memotivasi anak untuk belajar
  6. Bakti Masyarakat Siswa dan Masyarakat Siswa bersama masyarakat mengadakan kegiatan bersama sesuai kebutuhan lingkungan

Selama bertugas, kami diharapkan mampu belajar dengan cepat tentang segala situasi dan kondisi yang ada di tempat mengajar masing-masing dan menyesuaikan kondisi tersebut sehingga mampu memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat sekitar. Permasalahan yang muncul selama bertugas haruslah diatasi dengan memahami seluk beluk permasalahan dan diselesaikan tanpa memunculkan masalah yang baru. Banyak faktor yangmempengaruhi permasalahan yang muncul selama masa bertugas di ladang. Terkadang dalam menyelesaikan masalah tersebut memerlukan bantuan dari pihak-pihak tertentu pula. Oleh sebab itu kami sebagai tenaga pendidik yang tinggal bersama warga masyarakat haruslah memiliki tingkat solidaritas dan jiwa sosial yang tinggi.

Meskipun kami guru dari Indonesia dan mengajar anak-anak Indonesia yang tinggal di Malaysia, kami harus menerapkan sistem pendidikan terutama kurikulum yang diterapkan oleh Malaysia. Hal ini seringkali menjadi tantangan tersendiri bagi guru dalam mengajar murid-murid. Dimulai dari kebahasaan dalam tiap buku materi yang digunakan sampai materi yang diterapkan itu sendiri. Guru dituntut untuk mampu memahami dan menjelaskan materi pada murid-murid dan menyesuaikan dengan kemampuan peserta didik sehingga target pembelajaran tetap tercapai.

Pengalaman hidup dalam mengajar anak-anak Indonesia di Sabah bukanlah hal biasa. Suatu motivasi yang memunculkan suatu kebanggaan baik bagi diri, keluarga, maupun masyarakat sekitar jika kita mampu memberikan sesuatu yang berharga bagi orang lain. Di balik semua keterbatasan dalam proses mencerdaskan anak bangsa ini, kami menyimpan harapan yang besar bagi masa depan mereka. Semoga dalam setiap langkah, proses, dan perjuangan yang kami berikan suatu saat akan membuahkan hasil yang cemerlang. Kami sebagai tenaga pendidik yang ditugaskan oleh negara demi mengharumkan nama bangsa, bagaimanapun kondisi dan situasi pendidikan di setiap ladang akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengajar dan mendidik mereka untuk menjadi manusia yang berkualitas. Seandainya usaha ini membuahkan hasil kembalinya mereka untuk menempuh jenjang yang lebih tinggi di negeri sendiri, sungguhlah sesuatu yang hal yang membanggakan. Semoga apa yang kita lakukan merupakan suatu rahmat dariNya bagi anak-anak Indonesia di Sabah, Malaysia.