Biografi Perjalanan Guru Indonesia dalam Memberikan Layanan Pendidikan Bagi Anak-Anak TKI di Ladang Sapi 2, Sandakan, Sabah, Malaysia

Oleh: Hendrik Pandu Paksi

(Pendidik untuk pendidikan anak-anak Indonesia di Sabah, Malaysia)

Dalam rangka mengembangkan Sumber Daya Manusia yang berkualitas di masa depan, pendidikan memang mutlak diperlukan, bahkan UNICEF sebagai lembaga Dunia yang mengurusi masalah pendidikan sudah memberikan pernyataan bahwa anak-anak usia sekolah berhak untuk memperoleh pendidikan dan Negara wajib untuk memfasilitasi. Di Sabah yang mayoritas wilayahnya terdiri dari perkebunan kelapa sawit, sebagian besar pekerjanya adalah Tenaga Kerja Indonesia. Para TKI ini datang ke Sabah untuk bekerja dan banyak yang membawa serta anggota keluarga, termasuk anak-anaknya. Anak-anak TKI ini tinggal dan bersekolah mengikuti orang tuanya. Sebelumnya anak-anak Indonesia ini bersekolah di sekolah kebangsaan Malaysia, namun sejak 2002, kerajaan melarang anak-anak negara asing bersekolah di sekolah kebangsaan. Akibatnya banyak anak-anak Indonesia yang putus sekolah. Sebagai gantinya, pemerintah Malaysia menyerahkan urusan pendidikan anak-anak dari negara asing tersebut pada suatu lembaga yang bernama Humana Child Aid Society.

3HUMANA 136 adalah salah satunya, Humana 136 merupakan pusat bimbingan belajar yang terletak di ladang Sapi 2 estate, Sandakan, Negara bagian Sabah, Malaysia. Ladang ini merupakan salah satu dari perusahaan milik Wilmar Company. Lokasi ladang terletak di simpang Sapi Nangoh, kurang lebih 170 km dari kota Sandakan. Humana House 136 saat ini memiliki murid kurang lebih 150 siswa dari tingkat Tadika (Taman Kanak-Kanak) hingga Darja 6 (Sekolah Dasar). Untuk memberikan layanan pendidikan, sekolah ini diampu oleh 4 orang guru, 2 guru dari Indonesia dan 2 guru dari tempatan. Guru dari Indonesia tersebut adalah Eka Nur F yang bertugas mengajar kelas darja 5 dan 6, dan saya sendiri Hendrik Pandu P yang bertugas mengajar kelas darja 1 dan 2. Sedangkan guru tempatan adalah Rahmi yang bertugas mengajar kelas Tadika 1 dan 2, dan Nor Aisyah yang bertugas mengajar kelas darja 3 dan 4.

Siswa Humana House 136 ini tidak hanya berasal dari Ladang Sapi 2 saja, tetapi juga ladang-ladang di sekitarnya seperti Ladang Sapi 1 dan perumahan Kilang Sapi. Setiap hari, siswa-siswa dari Sapi 1 dan Kilang pergi dan pulang sekolah dengan diantar bus sekolah yang disediakan oleh perusahaan. Sedangkan siswa yang rumahnya Sapi 2 ke sekolah dengan berjalan kaki karena lokasi sekolah tidak jauh dari rumah siswa.

Mengajar di Humana berbeda dengan mengajar siswa-siswa di sekolah reguler di Indonesia. Selain kurikulum yang berbeda, kondisi siswa pun tidak sama. Disini pembelajaran lebih mirip bimbingan belajar dimana materi yang diajarkan tidak selalu mengikuti buku panduan, tetapi disesuaikan dengan kondisi siswa. Masih ada siswa yang secara usia sudah kelas 2 tetapi masih kesulitan membaca, menulis dan berhitung. Guru harus menyesuaikan materi sesuai kebutuan siswa.

Kondisi kelas pun kurang kondusif sebagai tempat belajar. Sekolah hanya terdiri dari 2 ruangan. Satu ruangan digunakan untuk kelas Tadika 1 dan 2, sedangkan satu kelas lainnya digunakan untuk kelas Darja 1 hingga 6. Kondisi kelas besar dengan jumlah rombongan belajar yang banyak tentu saja kurang kondusif. Guru sering merasa kesulitan dalam mengatur siswa. Siswa yang rata-rata usia anak-anak memang senang bermain, bahkan di dalam kelas. Mereka terkadang berlari-lari dalam kelas, bermain dengan kawannya, berteriak-teriak dan banyak lagi ulah mereka. Dalam sehari pasti ada paling tidak satu siswa yang menangis karena diganggu temannya. Guru terkadang merasa kesulitan mengkondisikan kelas dengan jumlah siswa lebih dari 100. Jika satu siswa dinasehati, siswa lainnya membuat masalah. Terkadang guru pun harus berteriak-teriak supaya siswa bisa tenang, terkadang juga memberlakukan hukuman bagi siswa yang dianggap terlalu nakal atau yang dianggap sebagai sumber masalah. Namun dibalik kenakalan mereka, sesungguhnya mereka mempunyai semangat yang tinggi untuk bersekolah. Jika guru memberikan pelajaran tambahan mereka selalu bersemangat, bahkan di hari libur pun mereka selalu ingin belajar. Hal inilah yang membuat guru merasa bangga dengan semangat mereka.

Salah satu faktor yang mempengaruhi proses belajar siswa adalah orang tua dan masyarakat sekitar. Sebagian besar orang tua siswa adalah pekerja di perkebunan sawit. Profesi mereka berbeda-beda. Ada yang menjadi penyabit, penombak, slashing, memungut biji sawit, pengurus kebun, pengangkut sampah, memandu kendaraan pengangkut sawit, pekerja di pengolahan minyak sampai mengurus anak. Umumnya orang tua jarang memperhatikan masalah pendidikan anak. Orang tua menyerahkan sepenuhnya urusan pendidikan pada sekolah. Selama dirumah anak tidak diarahkan untuk belajar atau mengerjakan tugas-tugas sekolah. Bahkan saat siswa tidak masuk sekolah entah karna sakit, ada kepentingan keluarga, ataupun bolos sekolah tidak ada perhatian dari orang tua, bahkan sekedar memberitahu guru bahwa anaknya tidak masuk sekolah karna alasan tertentu. Sering dijumpai siswa tiba-tiba tidak masuk sekolah untuk waktu tertentu, tiba-tiba lagi masuk, dan sering pulang sebelum sekolah usai tanpa ada pemberitahuan, seolah-olah sekolah hanya sebagai tempat bermain saja.

Sebenarnya sudah ada upaya dari guru untuk mengajak kerjasama orang tua siswa dalam hal pendidikan anak. Tetapi orang tua umumnya menyerahkan semua urusan pendidikan pada guru. Hal inilah yang terkadang membuat guru prihatin. Siswa belajar di sekolah rata-rata hanya 4-5 jam tiap harinya, selebihnya kegiatan siswa lebih banyak di keluarga dan masyarakat, tanpa bantuan orang tua dan masyarakat tentu saja hasilnya kurang optimal. Ditambah lagi banyak orang tua dan masyarakat yang mempunyai kebiasaan buruk seperti merokok, sabung ayam, berjudi kartu, bahkan mabuk-mabukan. Hal ini secara tidak langsung akan ditiru oleh anak. Namun tidak semua orang tua dan masyarakat seperti gambaran diatas, ada juga orang tua yang peduli dengan anaknya, mengantar jemput anak ke sekolah, memeriksa pekerjaan rumah anak, mengarahkan anak untuk belajar dan membantu anak memahami materi-materi pelajaran yang diberikan di sekolah. Masyarakat juga ada yang mempunyai kebiasaan baik sehingga bisa memberikan contoh yang baik.

Masyarakat di lingkungan perkebunan sawit ini adalah pekerja yang punya watak dan peringai yang berbeda-beda. Keadaan seperti ini bisa dipengaruhi oleh tingkat pendidikan orang tua, maupun kebiasaan-kebiasaan yang sering dilakukan di masyarakat. Dalam hal ini guru tetap berharap orang tua dan masyarakat tetap memberikan perhatian kepada anak-anaknya terutama pada perkembangan belajar anak.

Kegiatan guru bukan hanya mengajar saja, tetapi sering juga ikut serta dalam kegiatan kemasyarakataan. Beberapa kegiatan yang sering dilakukan guru adalah berdialog dengan warga baik mengenai perkembangan belajar siswa maupun topik yang umum. Selain itu guru juga aktif mengkuti kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan warga seperti selamatan, pengajian, maupun perlomban-perlombaan yang biasa diadakan pada hari-hari tertentu. Selain itu guru juga sering dimintai pendapat dalam urusan-urusan warga seperti masalah ketenaga kerjaan, masalah keimigrasian, masalah hukum dan sebagainya karena guru (terutama guru Indonesia) dianggap dekat dengan konsulat dan diharapkan bisa menjadi jembatan penghubung antara warga dan konsulat.

Untuk guru Indonesia under Humana, disamping mengajar di sekolah Humana pada hari Senin hingga Jumat, juga membantu mengajar di Community Learning Centre (CLC) sebagai guru bina setiap sabtu dan minggu. CLC adalah sekolah yang dibangun oleh pemerintah Indonesia dan menggunakan kurikulum Indonesia. Murid CLC adalah anak-anak yang telah memasuki usia SMP dan telah memiliki ijasah SD atau kejar paket A.

Di dalam pembelajaran, peran serta masyarakat sangatlah penting. Namun banyak orang tua dan masyarakat yang kurang mengerti pentingnya pendidikan. Namun secara umum, masyarakat (terutama orang tua siswa) memiliki peranan yang cukup besar, diantaranya adalah mengantarkan anak-anaknya pergi ke sekolah, menyediakan bekal bagi anak-anaknya sehingga tidak kelaparan selama bersekolah, membelikan alat-alat sekolah seperti tas, sepatu, alat tulis, dan seragam. Namun peranan orang tua ini belum begitu banyak membantu belajar siswa karena rata-rata orang tua juga tidak mengenyam pendidikan sehingga tidak tahu bagaimana memotivasi anak untuk belajar.

574515_194247827374024_2131763026_nPerusahaan yang mengelola Ladang Sapi 2 adalah Perusahaan besar jika dibandingkan dengan ladang-ladang terdekat seperti IJM, Monsok, dan Sri Harapan. Peranan perusahaan pada pendidikan diantaranya adalah membangun sekolah dengan bangunan yang permanen dan melengkapi sarana prasarana yang dibutuhkan dalam pembelajaran seperti meja kursi, papan tulis, dan sarana pendukung lainnya. Namun perusahaan terkesan setengah-setengah dalam memfasilitasi pendidikan. Pada awalnya memang sarana dan prasarana dilengkapi, tetapi seiring berjalannya waktu fasilitas tersebut mulai rusak dan belum ada upaya dari perusahaan untuk melakukan perbaikan atau penggantian. Saat ini sudah banyak meja dan kursi siswa yang sudah tidak layak pakai. Di sekolah, Perusahaan juga mengangkat dua orang yang ditugaskan untuk menjaga sekolah, merawat dan membersihkan sekolah, dan membantu guru menjaga siswa selama jam istirahat. Seluruh biaya untuk sekolah anak ditanggung oleh perusahaan kecuali barang-barang guntuk keperluan pribadi siswa seperti buku tulis, alat tulis, baju seragam, tas sekolah dan sepatu tetap dibebankan kepada orang tua siswa masing-masing.

Disamping berpartisipasi dalam pendidikan, perusahaan juga menyediakan rumah bagi guru dengan segala fasilitasnya. Rumah guru terletak kawasan sekolah dan menjadi satu dengan bangunan sekolah sehingga memudahkan guru pada saat pulang dan pergi ke sekolah. Bangunan rumah guru adalah bangunan permanen. Perusahaan juga menyediakan fasilitas listrik gratis dan air berupa tadah hujan dan subsidi perusahaan berupa air kolam yang disaring kemudian dialirkan ke rumah-rumah menggunakan generator.

Selama kontrak kerja, penulis mempunyai rencana kerja yang jelas dalam rangka memberikan pelayanan pendidikan bagi anak-anak Indonesia di Sabah-Malaysia. Tidak hanya rencana dalam hal memberikan pengajaran kepada siswa saja. Tetapi juga membantu masyarakat setempat menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada di masyarakat sesuai kemampuan. Adapun program-program unggulan yang dilakukan guru adalah sebagai berikut:

  1. Tuntas Calistung, Siswa Tadika seluruhnya harus bisa membaca, menulis, dan berhitung
  2. Star Corner, Siswa memiliki Karakter dan akhlak yang baik
  3. Hand Made, Siswa mampu membuat hasil karya asli buatan tangan sendiri
  4. Life Skill, Siswa memiliki kecakapan hidup untuk bisa bergaul di masyarakat serta memahami adat istiadat tempatan
  5. Parenting, Orang tua mengetahui hak dan kewajibannya dan mampu mendampingi dan memotivasi anak untuk belajar
  6. Bakti Masyarakat, Siswa bersama masyarakat mengadakan kegiatan bersama sesuai kebutuhan lingkungan

Berdasarkan hasil pengamatan, temuan-temuan di lapangan dan berbagai kendala yang muncul, guru menyampaikan saran dan rekomendasi kepada penyelenggara program khususnya DP2TK DIKDAS KEMDIKBUD dan juga Konsulat RI yang ada di Sabah sebagai perpanjangan tangan dari Pemerintah untuk melakukan hal-hal sebagai berikut:

  1. Jika ada pengiriman guru lagi supaya disesuaikan dengan kualifikasinya. Karena di lapangan banyak guru yang mengajar tidak sesuai dengan kompetensinya sehingga pembelajaran akan terkendala dengan kemampuan mengajar guru.
  2. Hendaklah dibuat pedoman penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran sebagai acuan bgi guru untuk diterapkan di lapangan sehingga guru tidak bingung dalam mengatasi permasaaan yang timbul di lapangan.
  3. Sedapat mungkin pemerintah juga memberikan bantuan sarana dan prasarana mengajar bagi guru agar kinerja guru bisa optimal sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.Memberikan pendidikan dan pelatihan secara berkala bagi guru untuk meningkatkan kompetensi dan sekaligus bisa membantu menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang mungkin timbul di lapangan.