image

Oleh : Hendrik Pandu Paksi
Pendidik untuk Pendidikan Anak-anak Indonesia di Sabah-Malaysia

Mereka memang tidak tinggal di Indonesia, mereka memang hidup serba terbatas, tetapi bukan berarti mereka tidak berhak mengenyam pendidikan. Saat ini ratusan anak-anak Indonesia yang ada di Sabah-Malaysia mengikuti ujian akhir nasional. Dengan segala keterbatasan, mereka tetap semangat dalam mengejar cita-cita.

Memang jika dibandingkan di tanah air, pelaksanaan UAN di Sabah ini berbeda. Dari segi perijinan, pelaksanaan ujian ini harus mendapat ijin dari jabatan pelajaran negeri Sabah terlebih dahulu. Hanya sekolah-sekolah yang mendapat ijin operasional saja yang boleh menyelenggarakan pendidikan. Faktanya, masih banyak pusat pusat bimbingan belajar (learning centre) untuk anak-anak Indonesia yang belum berijin resmi. Sehingga dalam pelaksanaan UAN kali ini mereka harus bergabung dengan sekolah lain yang sudah berijin. Sedangkan jarak antar lokasi setidaknya lebih dari 20 km.

Siswa-siswa yang bergabung tersebut tinggal di rumah guru atau warga setempat selama mengikuti ujian. Mereka makan seadanya. Tidak ada hiburan apapun karena lokasi sekolah umumnya di tengah-tengah hutan sawit yang jauh dari keramaian kota.

Anak-anak Indonesia yang tinggal di Sabah-Malaysia ini rata-rata adalah pekerja di perkebunan sawit. Mereka bekerja sebagai pemungut biji sawit, pemotong rumput (slashing) penyabit, penombak maupun mengemudi kendaraan berat pengangkut sawit. Di sela-sela pekerjaannya itulah mereka menyempatkan diri untuk sekolah.

Kemampuan siswa dalam mengerjakan soal UAN sangat jauh berbeda dibandingkan siswa di tanah air. Di Sabah ini, siswa kebanyakan lahir dan besar disini, sehingga dari segi budaya, bahasa, adat juga berbeda. Mereka harus belajar memahami segala sesuatu tentang Indonesia. Sedangkan disisi lain mereka harus mencari nafkah untuk dirinya dan keluarga. Sekolah pun tidak setiap hari masuk. Ditambah dengan minimnya fasilitas, membuat kemampuan mereka secara umum masih di bawah standar sedangkan soal UAN yang mereka kerjakan berstandar nasional. Hal ini otomatis menjadi tantangan bagi mereka.

Ada beberapa di antara mereka bertanya.. pak guru, UAN itu apa? Apakah untuk memperoleh ijasah kami harus lulus UAN? Bagaimana jika kami tidak lulus? Apakah sekolah kami selama ini menjadi sia-sia?

Mereka tidak begitu mengenal tujuan UAN. Yang mereka tahu, mereka belajar agar nasibnya bisa berubah. Mereka pun tidak tahu untuk apa ijasah mereka nantinya. Sedang di sabah ini ijasah Indonesia tidak berlaku. Perusahaan tidak membutuhkan ijasah. Asalkan bisa kerja ya diterima. Lalu untuk apa ijasah?

Tentu saja harapan pemerintah, anak-anak Indonesia ini bisa kembali ke tanah air untuk melanjutkan pendidikan. Dengan demikian kelak mereka bisa meraih cita-citanya.

Tapi bukankah para sarjana di Indonesia banyak yang menganggur? Tiap tahun Indonesia melahirkan ribuan sarjana dan banyak diantara mereka yang masih susah mendapatkan pekerjaan. Di sabah, anak-anak ini mendapatkan penghasilan antara 500 – 1500 RM ( antara 500rb hingga 4,5jt rupiah) tergantung produktifitas mereka. Tidak perlu ijasah. Penghasilan ini justru lebih tinggi dibandingkan rata-rata pekerja di Indonesia.

Lalu kenapa mereka tetap mau sekolah? Jawabannya singkat. Karena mereka ingin pandai. Bukan karna selembar kertas yang bernama ijasah. Tapi karena ilmu. Bagaimana dengan siswa di tanah air? Tidak ada ijasah berarti diangap tidak sekolah.

Kiranya pemerintah perlu membuka mata. Soal UAN di Indonesia dianggap sebagai benda keramat. Kalau kotor, terlipat, basah, berlubang atau robek berarti nyawa mereka yang menjadi taruhan. Demikian hebatnya mitos itu sehingga para pengawas pun bergetar saat membuka segel soal. Di Sabah, siswa menganggap UAN tak ubahnya seperti ujian-ujian biasa. Bahkan ada siswa yang pagi ikut ujian dan siangnya kembali bekerja lagi.
Apapun perbedaan itu, kita berharap UAN kali ini bisa benar-benar bisa mengantarkan siswa menuju cita-citanya.