KEDATANGAN DUBES RI UNTUK MALAYSIA DI LADANG SAWIT DISAMBUT ONDEL-ONDEL

 

Oleh : Hendrik Pandu Paksi*

*)Pendidik untuk pendidikan anak-anak Indonesia di Sabah-Malaysia

 

Kunjungan Duta Besar Republik Indonesia untuk Malaysia di perkebunan kelapa sawit, ladang Sapi 2 disambut dengan tarian Ondel-ondel yang diperagakan oleh siswa-siswi Humana 136 dan CLC Sapi 2. Selain tarian ondel-ondel, siswa-siswi ini juga membawakan lagu gebyar-gebyar dan puisi. Anak-anak Indonesia yang bersekolah di Humana 136 dan Community Learning Centre ladang Sapi 2, Sandakan, Sabah – Malaysia ini sangat berbahagia ketika menyambut kedatangan Duta Besar Indonesia untuk Malaysia, bapak Herman Prayitno pada sabtu, 16 februari 2013.  Memang anak-anak ini jarang sekali mendapat kunjungan dari pemerintah Indonesia, karena lokasi mereka jauh dari kota sehingga para pejabat yang mau berkunjung harus rela mengotori seragam safari yang selama ini terkenal bersih dan rapi. Demikian pula yang dialami Bapak Herman Prayitno dalam kunjungan tersebut, karena cuaca sedang hujan dan ditambah lagi dengan kondisi ladang yang berlumpur, beliau rela menjadi kotor hanya demi melihat anak-anak Indonesia yang sudah menunggu kedatangannya sejak pagi.

Bersama orang Indonesia nomor 1 di Malaysia tersebut, hadir pula Konsul Jendral RI untuk Sabah, Bapak Soepeno Sahid beserta Fungsi Sosbud, Bapak Iman Rokhadi dan juga kepala Sekolah Indonesia Kota Kinabalu, Bapak Dadang Hermawan beserta rombongan untuk turut melihat secara langsung keadaan anak-anak Indonesia yang berada di ladang-ladang kelapa sawit.dubes 2 Anak-anak ini datang ke Malaysia mengikuti orang tuanya bekerja di perkebunan sawit yang tersebar diseluruh Sabah. Saat ini ada lebih dari 50.000 anak-anak TKI usia sekolah dan belum semuanya memperoleh akses pendidikan. Sebelumya anak-anak Indonesia ini bersekolah di Sekolah Kebangsaan Malaysia, namun sejak 2002, kerajaan melarang anak-anak negara asing bersekolah di Sekolah Kebangsaan. Akibatnya banyak anak-anak Indonesia yang putus sekolah. Sebagai gantinya, pemerintah Malaysia menyerahkan urusan pendidikan anak-anak dari negara asing tersebut pada suatu lembaga yang bernama Humana Child Aid Society. Selanjutnya pada 2006 melalui MOU antara Indonesia dan Malaysia, Malaysia setuju atas upaya yang dilakukan pemerintah RI untuk membuka pusat-pusat bimbingan belajar khusus untuk anak-anak Indonesia. Sejak saat itu anak-anak Indonesia ada yang bersekolah di Humana dan ada pula yang bersekolah di pusat-pusat belajar yang didirikan pemerintah Indonesia.

Acara yang dihadiri bapak duta besar RI tersebut berlangsung selama kurang lebih 2,5jam. Diawali dengan pembukaan, sambutan dari pengelola learning centre ladang sapi 2, saudara Soekamto Prasetyo, general manager wilmar company, Mr Tee Cee Heng sebagai tuan rumah, Konjen RI untuk Sabah, Bapak Soepeno Sahid, dan dari Duta Besar RI untuk Malaysia, Bapak Herman Prayitno. Selanjutnya rombongan disambut dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, lagu Gebyar-gebyar, pembacaan puisi dan tari-tarian. Setelah itu diadakan sesi dialog antara perwakian pemerintah RI, perwakilan Wilmar Company, perwakilan Humana, perwakilan CLC, guru, para siswa dan orang tua siswa untuk membahas hal-hal yang berkenaan dengan perkembangan belajar siswa. Diakhir acara, ada persembahan puisi dan lagu dari guru-guru sebagai ungkapan terimakasih atas kedatangan Duta Besar bersama rombongan tersebut.

Dalam sambutannya, Bapak Herman Prayitno memberikan semangat kepada anak-anak Indonesia agar tidak berkecil hati, pemerintah akan berupaya semaksimal mungkin untuk memberikan layanan pendidikan untuk anak-anak Indonesia dimanapun berada. “selain pengajaran, anak-anak diharapkan memiliki keterampilan dan budi pekerti untuk menunjang kehidupan mereka, jadi ini menjadi PR bagi para guru utamanya dan orang tua siswa” tambahnya. dubes 1Hal senada juga disampaikan bapak Soepeno Sahid. Beliau mengatakan “CLC sapi 2 ini telah terdaftar di jabatan pelajaran negeri Sabah, untuk itu orang tua murid yang ada di CLC ini tidak usah takut karena keberadaan CLC ini sah dan resmi di sisi undang-undang Malaysia”. Oleh karena itu sekarang tinggal berpulang kepada orang tua siswa untuk betul-betul memanfaatkan dan memberikan kesempatan kepada anak-anaknya untuk menuntut ilmu di CLC ini, tambahnya.

Dalam kesempatan ini pula, pemerintah menghimbau agar orang tua siswa memperhatikan pendidikan anak-anaknya, tidak masalah meskipun usianya sudah diatas 18 tahun, jika memang belum bisa baca dan tulis supaya disekolahkan di CLC-CLC yang tersebar di Sabah. Bapak Soepeno juga berpesan kepada para Guru sebagai ujung tombak pendidikan Indonesia agar membimbing siswa dengan hati, karena karakter anak-anak yang ada di perkebunan sawit ini berbeda dengan yang ada di tanah air. Apalagi mayoritas anak-anak Indonesia ini di lahirkan di wilayah Sabah yang sudah barang tentu dari sisi lingkungan, budaya, dan adat istiadat berbeda. Untuk itu beliau menghimbau kepada para guru di samping mendidik dengan hati juga harus sabar dan telaten.

Dalam sesi dialog, perwakilan guru dari ladang Terusan 2 estate menyampaikan bahwa untuk menyambut baik program pemerintah tersebut, ladangnya sudah siap untuk dibuka CLC baru mengingat secara kuantitas murid di Terusan 2 cukup banyak, hal tersebut disampaikan secara langsung kepada Konjen RI dan juga general manager Wilmar Company. Harapan kita niat baik tersebut dapat segera diwujudkan demi peningkatan kualitas pendidikan anak-anak Indonesia yang ada di Terusan 2 estate.

Selanjutnya dari orang tua siswa mengeluhkan adanya pungutan sebesar RM 70 kepada anaknya yang sekolah di Humana, beliau meminta penjelasan mengapa ada siswa yang gratis dan yang berbayar. Pertanyaan beliau langsung direspon oleh perwakilan Humana, Mr Anthony dan Mr Peperetes. Ditegaskan oleh Mr Anthony bahwa masalah pembayaran, Humana hanya memungut uang pada saat pendaftaran untuk dibelikan baju seragam, alat tulis, dan buku-buku penunjang yang semua itu juga kembali kepada siswa dan orng tua siswa, selebihnya untuk pendanaan sekolah ditanggung oleh perusahaan, orang tua siswa hanya membayar iuran rutin sebesar RM 2 per bulan. Hal ini diperkuat dari pernyataan Mr Tee See Heng selaku General Manager Wilmar Company bahwa sekolah-sekolah Humana yang ada di wilayah Wilmar ditanggung pembiayaannya oleh perusahaan. Dalam kesempatan ini pula, Mr Peperetes, coordinator Humana wilayah Sandakan menegaskan bahwa pungutan sebesar RM 70 itu hanya dilakukan sekali pada saat Humana akan mengadakan APKRES dan SUKANIKA, dan itupun sudah dirapatkan dan disetujui orang tua siswa. “Selebihnya apabila memang ada pungutan diluar ketentuan mohon bapak/ibu orang tua siswa menanyakan secara langsung kepada guru atau orang yang melakukan pungutan tersebut, sebab jika memang pungutan itu berasal dari management Humana pasti ada surat pemberitahuan atau edaran terlebih dahulu”, tambahnya.

Memang penyelenggaraan pendidikan yang dilakukan Humana dan CLC berbeda. Dari segi pembiayaan, Humana yang basisnya adalah lembaga swadaya, memperoleh pendanaan dari perusahaan ditambah dengan iuran orang tua siswa yang tidak memberatkan. Selain itu Humana juga meendapat bantuan dari organisasi Internasional dan donator tidak tetap lainnya. Sedangkan di CLC semua pendanaan ditanggung pemerintah Republik Indonesia melalui dana BOS, dana pengembangan keterampilan dan adanya sumbangan buku-buku penunjang sehingga siswa 100% gratis. Dari sisi kurikulum, Humana menggunakan kurikulum Malaysia dengan menitik beratkan pengajaran pada kompetensi membaca, menulis, dan berhitung saja. Untuk materi muatan lokal dan keIndonesiaan diberikan melalui kajian tempatan. Sedangkan untuk CLC, kurikulum mengikuti kurikulum Indonesia seutuhnya. Namun demikian antara Humana dan CLC memiliki tujuan yang sama yaitu memberikan layanan pendidikan kepada anak-anak pekerja yang memiliki usia sekolah.

Dari dialog tersebut siswa juga menanyakan kelanjutan studinya, apakah setelah lulus SMPT nanti mereka bisa melanjutkan sekolah? Apakah ijasah mereka diakui? Dan apakah pemerintah juga akan membuka sekolah setingkat SMA di Sabah sehingga mereka tetap bisa bersekolah? Memang dalam beberapa kasus, ada juga sekolah di Indonesia yang masih meragukan ijasah yang dikeluarkan oleh SIKK ini. Permasalahan timbul karena ketidak tahuan pengelola sekolah-sekolah yang ada di Indonesia tentang adanya sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN) Terkait pertanyaan tersebut direspon langsung oleh bapak Soepeno Sahid bahwa setiap siswa yang terdaftar di CLC Sapi 2 juga terdaftar di Sekolah Indonesia kota Kinabalu dan diakui oleh kerajaan Malaysia sehingga ijasah yang mereka terima diakui baik oleh Negara Indonesia maupun Malaysia, jadi siswa tidak perlu merasa khawatir, siswa tetap bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, bukan hanya di SMA tapi juga di sekolah-sekolah kejuruan. Namun diharapkan siswa dapat kembali ke tanah air untuk melanjutkan pendidikan di Indonesia, sementara ini SIKK belum mempunyai sekolah Indonesia setingkat SMA di sabah, namun rancangan kedepan akan dibuka sekolah tingkat SMA di SIKK. Sehingga siswa yang ingin bersekolah di sabah dapat mendaftarkan diri di SIKK. Terangnya memberi semangat kepada siswa untuk tidak patah semangat.

Menyambung pertanyaan dari siswa tersebut, perwakilan guru-guru Indonesia mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah karena telah diberi kesempatan mengajar anak-anak Indonesia yang luar biasa semangatnya, guru-guru Indonesia ini berharap agar CLC-CLC yang sudah terbentuk ini jangan ampai ditutup, kekhawatiran ini timbul karena guru-guru Indonesia ini terikat kontrak yang hanya 2 tahun.dubes 3 Setelah itu guru-guru ini akan kembali ke tanah air. Timbul berbagai pertanyaan yang sempat tersampaikan, diantaranya apakah jika guru-guru tersebut sudah selesai kontrak, sekolah akan ditutup? Bagaimana nasib masa depan anak-anak tersebut sepeninggal guru-guru Indonesia, pertanyaan itu muncul sebab guru-guru tidak ingin mendengar kabar bahwa siswa yang telah dididiknya dengan sepenuh hati tersebut putus sekolah sepeninggalnya.

Memang sebelumnya beredar kabar bahwa pemerintah Indonesia mentargetkan pengiriman 1000 guru Indonesia ke Sabah, saat ini baru sekitar 150 guru, ditambah 60 guru yang akan diberangkatkan sekitar Mei-Juni mendatang ditambah program ‘Guru Sahabat Bumi’ dari Pertamina Foundation sebanyak 20 guru. Namun jumlah tersebut masih sangat jauh dari harapan, belum lagi beredar kabar bahwa untuk sementara pengiriman guru ke Malaysia dihentikan. Belum ada alasan pasti terkait hal ini.

Menanggapi kerisauan guru-guru tersebut, Konjen RI untuk Sabah menyampaikan bahwa eksistensi sekolah CLC yang ada di Sabah ini tergantung dari MOU antara Indonesia dan Malaysia, artinya apabila kesepakatan tersebut masih berlaku, maka keberadaan CLC itupun akan tetap terjaga, namun apabila kesepakatan berakhir, maka kemungkinan CLC juga berakhir. Untuk itu pemerintah saat ini sedang membangun gedung baru Sekolah Indonesia Kinabalu di lahan seluas 1,5 hektar yang sudah bersertifikat atas nama SIKK sendiri, sehingga sekolah tersebut tidak mungkin ditutup dan bisa dijadikan sebagai wadah bagi anak-anak Indonesia yang ingin mengenyam pendidikan. CLC-CLC yang ada di seluruh Sabah ini adalah perpanjangan tangan dari SIKK, siswa CLC sebenarnya adalah siswa SIKK sehingga meskipun sekolah ditutup tetapi status mereka sebagai siswa tidak akan terhapus, dan pemerintah akan tetap mengawal siswa-siswa tersebut sehingga mereka tamat belajar. Jadi guru-guru Indonesia tidak perlu kawatir siswa akan putus sekolah. Lebih lanjut, bapak konjen menghimbau adanya kerjasama yang baik antara siswa, orang tua siswa, pihak perusahaan, guru, konsulat dan semua yang berkepentingan untuk bahu membahu dalam memberikan layanan pendidikan bagi anak-anak Indonesia ini.

Terkait permasalahan guru, CLC sapi 2 ini mempunyai 2 jenis guru, yaitu guru bina dan guru pamong. Guru bina adalah guru-guru dari Indonesia yang bertugas memberikan pendidikan dan pengajaran kepada siswa, sedangkan guru pamong diambil dari masyarakat sekitar yang dianggap mampu dan bertugas membantu guru bina untuk mengatur dan membantu siswa memahami pelajaran yang diberikan.  Guru pamong tersebut sekaligus juga merupakan pekerja di ladang sawit dan terikat dengan perusahaan sehingga dokumen mereka ditahan perusahaan sebagai jaminan. Dalam kesempatan dialog tersebut perwakilan guru pamong meminta kepada perusahaan untuk mengembalikan paspor mereka, karena guru pamong terkadang juga mendapat undangan dari SIKK ataupun Konsulat di kota, sehingga tanpa dokumen maka perjalanan mereka akan terganggu. Terkait dokumen yang ditahan perusahaan, pemerintah Indonesia tidak dapat berbuat banyak, karena dokumen ini ditahan sebagai jaminan untuk para pekerja terhadap perusahaan. Dalam hal ini tindakan perusahaan masih bisa dibenarkan. Namun demikian selayaknya perusahaan mengijinkan pekerja yang ingin meminjam dokumen sehubungan dengan kegiatan mereka. Misalnya jika warga mau ke kota untuk berbelanja atau berlibur saat tidak bekerja, atau bagi yang ingin menjenguk kampung halamannya di Indonesia. Pemerintah berharap akan terjalin kerjasama yang saling menguntungkan semua pihak.

Pertemuan tersebut diakhiri dengan penampilan puisi oleh saudara Soekamto Prasetyo, pengelola Sapi 2, dilanjutkan persembahan lagu dari guru-guru Indonesia dan guru Humana, pemberian hadiah dari Duta Besar RI kepada siswa-siswi Indonesia yang ada di Humana 136 dan CLC sapi 2 sekaligus foto bersama. red

dubes 4dubes 5