KASUS

 

 

Para penyelenggara LBB umumnya melakukan perekrutan tenaga pendidik pada mahasiswa-mahasiswa yang masih duduk di bangku kuliah. Disamping itu, tenaga pendidik masih banyak yang berasal dari disiplin ilmu murni (non keguruan) yang tidak dibekali dengan kemampuan mengajar dan pengelolaan kelas. Akibatnya banyak diantara pendidik yang tidak memperhatikan Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, jurnal mengajar maupun perencanaan pengajaran. Ada juga LBB yang menggunakan tenaga pendidik tidak pada bidang keilmuannya, yang penting bisa mengajar, kalau perlu satu pendidik dapat mengampu beberapa mata pelajaran.Keadaan yang demikian memang terkadang menjadi efektif mengingat terbatasnya anggaran untuk honorarium pendidik dan untuk efisiensi. Namun secara akademik seharusnya tidak dibenarkan. Seseorang dapat menjadi pendidik apabila ia memang berkompetensi dibidangnya. Jika pendidik tidak memiliki kompetensi yang dibutuhkan, maka dimungkinkan pengajaran tidak bisa optimal. Yang lebih parah jika apa yang diajarkan di LBB tidak sesuai dengan yang diterima siswa di sekolah, maka hal ini justru membuat siswa tambah bingung, pada akhirnya bukan prestasi yang didapat melainkan penurunan nilai akademik.

Pada kasus ini Lembaga Bimbingan Belajar ”Prima Study” memerlukan tenaga pengajar (Tentor) untuk memberikan bimbingan kepada para siswa. Lembaga akhirnya melakukan perekrutan. Calon tentor yang melamar kebanyakan masih berstatus sebagai mahasiswa dan berasal dari disiplin ilmu murni.

Calon tentor yang berasal dari ilmu murni tersebut secara keilmuan mungkin memiliki pengetahuan yang cukup mengenai materi yang akan diembannya, namun mereka belum tentu menguasai dasar-dasar pengajaran. Mahasiswa dari disiplin ilmu murni (non keguruan) tidak diajarkan materi tentang dasar-dasar pengajaran, perencanaan pengajaran, maupun evaluasi. Apabila lembaga menerima mereka dikhawatirkan tentor tidak bisa melakukan pengelolaan kelas. Oleh karena itu diperlukan tes seleksi dengan materi seputar dasar-dasar pendidikan secara umum.


LEMBAGA BIMBINGAN BELAJAR

”PRIMA STUDY”

SOAL TES SELEKSI PEREKRUTAN TENTOR BIDANG STUDI

Nama              :

No. Ujian        :

Bidang Uji      : Tes Dasar-Dasar Pengajaran

Soal

Skor Max

  1. Mengapa sebelum mengajar di kelas, guru harus membuat Rencana Pembelajaran dan bagaimana jika guru tidak membuat Perencanaan Pembelajaran.
  2. Jelaskan  fungsi Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Indikator dalam Perencanaan Pembelajaran
  3. Jelaskan konsep dasar dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
  4. Bagaimana cara menciptakan Pembelajaran yang Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAIKEM) di dalam Proses Belajar Mengajar!
  5. Jelaskan bagaimana cara mengukur tingkat keberhasilan dari Proses Belajar Mengajar

15

 20

25

 25

15

Petunjuk Mengerjakan :

  1. Kerjakan di lembar jawaban yang telah disediakan
  2. Tulis identitas anda yang terdiri atas nama, no ujian, alamat dan no telepon
  3. Semua soal harus dikerjakan
  4. Kerjakan soal yang anda anggap mudah terlebih dahulu
  5. Selama ujian anda tidak diperkenankan untuk bekerjasama dengan peserta lain
  6. Setelah selesai, kumpulkan lembar soal dan jawaan kepada pengawas
  7. waktu yang disediakan 120 menit.

ANALISIS  VALIDITAS PREDIKTIF

Suatu tes dikatakan mempunyai tingkat prediktif tinggi apabila hasil tes dapat menggambarkan masa depan. Artinya responden mampu menunjukkan kemampuan sebagaimana hasil tes. Sebaliknya apabila di kemudian hari ternyata kemampuan responden tidak sesuai dengan yang diharapkan, artinya soal tes memiliki prediktif yang rendah

Soal tes seleksi perekrutan tentor di atas diharapkan memiliki tingkat prediktif yang tinggi. Tujuan dari adanya tes dasar-dasar pengajaran tersebut ialah ingin mengetahui pengetahuan awal calon tentor terhadap prinsip-prinsip dasar pengajaran. Dengan menjawab kelima butir soal dengan benar, berarti secara umum calon tentor mengetahui dasar-dasar pengajaran. Tiap-tiap butir soal memiliki keterkaitan dengan materi yang lain. Artinya responden tidak mungkin bisa menjawab dengan benar apabila tidak didukung dengan pengetahuan sebelumnya tentang dasar-dasar pengajaran

Disini terlihat bahwa hanya responden yang mengetahui dasar-dasar pendidikan saja yang mempu menjawab kelima pertanyaan dengan benar. Pada soal nomor 1 menanyakan masalah Rencana pembelajaran. Apabila responden bisa menjawab dengan benar, maka secara tidak langsung ia mengetahui fungsi rencana pembelajaran.. pada soal nomor 2 menanyakan masalah standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator. Apabila responden bisa menjawab dengan benar, maka secara tidak langsung ia mengetahui pengertian masing-masing, penempatan masing-masing dalam kurikulum, dan cara mempergunakannya untuk mencapai tujuan pengajaran

Pada soal nomor 3 menanyakan konsep KBK dan KTSP. Apabila responden bisa menjawab dengan benar, maka secara tidak langsung ia mengetahui persamaan dan perbedaan keduanya, kelebihan dan kelemahan keduanya, dan penerapannya dalam pengajaran. Pada soal nomor 4 menanyakan pembelajaran PAIKEM. Apabila responden bisa menjawab dengan benar, maka secara tidak langsung ia mampu melaksanakan pembelajaran PAIKEM dalam proses belajar mengajar. Pada soal nomor 5 menanyakan cara mengukur tingkat keberhasilan belajar. Apabila responden bisa menjawab dengan benar, maka secara tidak langsung ia dapat menyusun evaluasi standar dan melakukan penelitian tindakan kelas.

Kelima soal tersebut dikatakan mempunyai validitas prediktif yang tinggi karena mampu memprediksi kemampuan-kemampuan lain baik yang diujikan maupun pengetahuan-pengetahuan dasar yang tidak diujikan. Artinya kelima soal tersebut sebenarnya merupakan inti dari banyak soal yang mampu menggambarkan kemampuan calon tentor. Dengan menjawab 5 soal tersebut, lembaga dapat mengetahui kemampuan calon tentor dalam memahami dasar-dasar pengajaran yang untuk selanjutnya dapat dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan apakah calon tentor yang bersangkutan layak atau tidak diangkat sebagai tentor di Lembaga Bimbingan Belajar ”Prima Study”