A.    Latar Belakang

Maraknya kasus mutilasi yang terjadi melahirkan banyak kepedihan dan kesedihan. Bagi keluarga korban, peristiwa mutilasi sungguh tak pernah dibayangkan sebelumnya. Demikian juga masyarakat luas terkena dampak psikologis. Masyarakat menjadi sangat takut dan trauma.

Korban mutilasi berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak, hingga wanita, dan lelaki dewasa. Potongan-potongan tubuh mereka ditemukan dalam selokan, mengambang di waduk, laut, sungai, di kebun yang terletak dekat rumah tinggal korban, di dalam rumah, di tempat-tempat umum, juga di tempat pembuangan akhir (TPA).

Motif tindakan mutilasi memang beragam, dari sekadar menghilangkan jejak, hingga melibatkan emosi yang mendalam, seperti kecemburuan, kekecewaan, dan kemarahan. Beruntung, pihak kepolisian cepat tanggap. Dengan gerak cepat, polisi dapat mengungkap sebahagian dari kasus yang ada. Namun penelusuran yang lebih jauh, masih saja kita nantikan. Kita amat berkepentingan agar kasus demi kasus pembunuhan sadis tersebut bisa segera diungkap kemudian pelakunya harus dihukum sesuai dengan kaidah-kaidah hukum. Memang mengungkap kasus mutilasi tak sebergengsi penanganan kasus korupsi. Namun, penanganan kasus mutilasi erat kaitannya dengan hakikat kemanusiaan sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling tinggi. Dan tak ada satu ajaran agama yang membenarkan pembunuhan.

Selain, penanganan secara hukum, kita juga perlu menelusuri sebab lainnya. Sebagaimana sering disampaikan oleh para psikolog, bahwa kasus mutilasi erat kaitannya dengan gangguan kejiwaan. Sementara itu, gangguan kejiwaan dapat disebabkan oleh banyak faktor. Salah satunya masalah himpitan ekonomi.

Beberapa kasus mutilasi yang telah menggambarkan sebuah fenomena gunung es. Diyakini, masih banyak lagi kasus-kasus yang mirip dan pernah terjadi, namun luput dari pengamatan kita. Oleh karena itu, kita amat berharap kasus-kasus seperti itu tidak terulang kembali.

B.. Pandangan Filsafat Ilmu

  • 1.      Sudut Pandang Ontologi

 

Secara ontologis, manusia akan selalu berinteraksi dengan manusia yang lain. Dalam interaksi tersebut sangat dimungkinkan untuk terjadinya masalah baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Ketika manusia mengalami suatu konflik, tingkah laku yang ditimbulkan akan sangat beragam. Fenomena mutilasi merupakan salah satu tindakan manusia yang erat kaitannya dengan gangguan kejiwaan. Sementara itu, gangguan kejiwaan dapat disebabkan oleh banyak faktor. Salah satunya masalah himpitan ekonomi.

Realitas adanya mutilasi sebenarnya dapat dikategorikan sebagai kasus pembunuhan. Bedanya pada kasus mutilasi, tubuh korban dipotong-potong menjadi beberapa bagian. Alasan pelaku melakukan mutilasi juga beragam, umumnya mutilasi dilakukan untuk menghilangkan jejak. Karena dengan memisah tubuh menjadi beberapa bagian, polisi akan kesulitan mengidentifikasi. Namun ada juga yang dilandasi dendam dan amarah.

Tampaknya mutilasi merupakan cara pembunuhan model baru yang umumnya tak lazim dilakukan. Artinya pelaku mutilasi akan membutuhkan waktu lebih lama untuk memotong tubuh korban daripada meninggalkan begitu saja. Secara otomatis, pelaku pastinya mempunyai waktu luang untuk melakukan tindakan mutilasi tanpa diketahui orang lain.

  • 2.      Sudut Pandang Epistemologi

 

Secara epistemologi, fenomena mutilasi menunjukkan keterkaitan antara berbagai aspek yaitu emosi, psikologis, kepribadian dan pola fikir manusia dalam berinteraksi dengan manusia lain. Apabila emosi manusia memuncak dan psikologisnya tidak stabil, maka tingkah laku yang muncul seringkali tidak terkendali. Dalam hal ini manusia sulit untuk berfikir secara rasional dan lebih mengedepankan emosi daripada akal. Apalagi bila di dalam dirinya muncul rasa iri, dengki, maupun dendam dan amarah, hal ini dapat menjadi pemicu tindakan-tindakan yang bahkan tidak masuk akal.

Manusia yang pendiam pun terkadang menyimpan amarah dan dendam dalam dirinya. Beban yang terlalu berat yang selalu disimpan dalam hati ibarat bom waktu yang sewaktu-waktu dapat meledak. Apabila ia sudah tidak bisa menahan beban di hatinya, maka reaksi yang muncul pun bisa sangat hebat.

Kalau kita mengkaji secara epistemologis, maka orang pendiam yang selalu menyimpan masalah dalam hati lebih berpotensi menjadi seorang psikopat daripada orang yang mengumbar emosi secara langsung. Hal ini karena ketika orang meluapkan emosi, maka beban di hatinya akan berkurang sehingga perasaan menjadi sedikit tenang.

Dalam kasus mutilasi, kita dapat melihat bahwa mutilasi merubakan bentuk dari pelampiasan amarah dan perasaan. Seringkali korbannya adalah ornag-orang dekat yang sering berinteraksi denga pelaku. Karena sering berinteraksi maka dimungkinkan sering pula mengalami konflik yang memicu tindakan mutilasi.

  • 3.      Sudut Pandang Aksiologi

 

Mempelajari kasus mutilasi secara aksiologi maksudnya mempelajari mutilasi dari segi nilai. Untuk mengatakan sesuatu bernilai atau tidak tentu ada standar. Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat menarik benang merah dan mengambil pengalaman berharga dari kasus mutilasi. Nilai positif yang dapat kita ambil adalah bahwa dalam kondisi tertentu, manusia dapat bertindak baik dan jahat. Adanya rangsangan-rangsangan yang memicu konflik dan emosi dapat berimbas pada mutilasi. Apalagi apabila kondisi kejiwaan tidak stabil. Oleh karena itu dalam berinteraksi dengan orang lain, kita hendaknya memperhatikan lawan bicara dan mempelajari karakter dan kepribadian dari lawan bicara agar kita dapat memberikan sikap yang tepat sehingga kita dapat mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Dalam kasus mutilasi, seringkali pelaku mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan dan norma-norma yang berlaku di masyarakat, dalam hal ini nilai agama pun tidak dipedulikan lagi karena tingginya tingkat emosional dan rendahnya moralitas dari pelaku itu sendiri.