Latar Belakang

Fenomena anarkis pada persepakbolaan Indonesia kerap kali terjadi, Anarkisme itu bukan hanya terjadi di dalam stadion, namun juga berlanjut di luar stadion, khususnya di antara suporter yang mendukung kesebelasannya masing-masing. Masih segar dalam ingatan kita terbakarnya Stadion Gelora Bung Karno beberapa tahun yang lalu, akibat kekalahan yang diderita tim nasional PSSI dari kesebelasan tamu yang berlanjut amuk massa membakar apa saja yang didapati mereka di luar stadion.seperti mobil, sepeda motor, tiang listrik, lampu taman dan sebagainya.

Aksi anarkis juga pernah terjadi ketika Persebaya Surabaya kalah bertanding . Karena kecewa berat suporter Persebaya mengamuk, membabi buta. Ribuan “bonek” suporter Surabaya, yang pulang dengan menumpang kereta api sepanjang perjalanan hingga sampai ke daerah asalnya melampiaskan kemarahannya melempar batu dan benda apa saja secara membabi buta, tanpa memikirkan akibat dari aksinya itu. Akibatnya kerugian yang diderita pemerintah dan masyarakat sampai milyaran rupiah. Demikian pula suporter Arema Malang yang mengamuk ketika kesebelasan kesayangannya kalah di kandang sendiri. Aksi brutal dan beringas mereka lakukan mencari dan mengejar sekaligus mencederai suporter Persebaya (bonek). Aksi yang sangat memalukan itu menimbulkan korban di kedua belah pihak.

Anarkis yang dilakukan suporter, disebabkan mereka diorganisir dalam suatu wadah dengan nomenclatur yang seram. Seperti di Surabaya dikenal dengan “Bonek”, di Jakarta  “Jack Mania”, di Medan “Kampak”, di Malang “Arema Mania”dan lain-lain. Kemudian mereka diberi pakaian seragam dan atribut seperti destar di kepala, melumurkan cat beraneka warna di wajah serta rambut yang sangat fenomenal, sehingga identitas mereka gampang dikenali. Sebelum datang ke stadion adakalanya mereka melakukan pawai keliling kota. Dengan raungan mesin mobil dan sepeda motor yang hangar-bingar dibarengi sura klakson bersahut-sahutan sangat membisingkan telinga, serta memacetkan lalu lintas. Datang ke stadion secara konvoi dan bergerombolan. Di dalam stadion mereka tetap menyatu dalam suatu kelompok. Sepanjang pertandingan berlangsung mereka tetap mengelu-elukan kesebelasan kesayangannya dengan sorak-sorai maupun bunyi-bunyian dan bernyanyi dengan lirik lagu yang telah dipersiapkan sebelum pertandingan berlangsung. Pada waktu dukung-dukung inilah biasanya para suporter saling ejek mengejek, yang dapat menjurus kepada perkelahian massal.

Pandangan Filsafat Ilmu

  • 1.     Sudut Pandang Ontologi

Sudut pandang Ontologi mempelajari hakikat realitas atau ”ada”. Dalam kasus kekerasan yang sering terjadi pada para suporter sepak bola merupakan fenomena nyata yang dapat kita amati dan kita rasakan. Fenomena ini tidak dapat dipungkiri lagi bahwa secara fakta memang setiap kesebelasan sepak bola pasti mempunyai suporter. Kehadiran suporter tersebut bisa memacu semangat para pemain. Ledakan emosional yang tinggi tersebut mampu memberikan energi positif untuk optimis sehingga para pemain mampu mencetak prestasi.

Dalam diri suporter, memberi semangat pada tim kesebelasannya ntuk menang dalam pertandingan merupakan kepuasan tersendiri. Mereka merasa bangga apabila jagoannya menang, sebaliknya, mereka akan kecewa apabila jagoannya kalah dalam pertandingan.  Bangga dan kecewa merupakan emosional yang ada pada tiap-tiap suporter. Dalam pertandingan sendiri tak lepas dari menang dan kalah. Bagi pihak yang kalah akan meluapkan rasa kekesaannya dan bagi yang menang juga akan meluapkan rasa gembira. Hal ini seringkali menimbulkan perselisihan sehingga berujung pada aksi saling olok, dan perkelahian. Ini merupakan fakta yang ditak dapat dipungkiri.

Dalam pandangan Ontologi, kita tidak bisa dengan mudah mengatasi masalah ini, apalagi jika kita ingin menghilangkan para suporter. Suporter tidak mungkin dapat dihilangkan dan akan selalu menyertai setiap pertandingan. Pandangan bahwa kekerasan dapat dihilangkan dengan cara membubarkan para suporter tidak akan berjalan dengan lancar karena suporter dan kesebelasan mempunyai hubungan emosional yang kuat ibarat kepala dan tubuh. Jika dipisahkan maka mereka akan mati.

Solusi yang ditawarkan berdasarkan sudut pandang ontologi adalah mengakui keberadaan suporter sebagai bagian dari kesebelasan dan memberi dukungan yang positif. Pendekatan kelompok bisa dilakukan untuk mengetahui oknum-oknum yang berpotensi menimbulkan konflik diantara intern suporter tersebut karena sebagian besar aksi kekerasan para suporter dipicu oleh hal-hal yang dapat memancing emosional mereka. Dengan mengetahui oknum-oknum yang berpotensi menimbulkan konflik, kita dapat mengurangi aksi kekerasan dan bahkan menghilangkannya.

  • 2.     Sudut Pandang Epistemologi

Sudut pandang Epistemologi mempelajari hakikat pengetahuan dan kebenaran, syarat, sumber, proses, jenis dan tingkatan, dan validitas pengetahuan. Merujuk pada teori psikologi massa yang dikemukakan ahli retorika Alm. TA. Latief Rousydi dalam bukunya Komunikasi Massa bahwa di dalam kerumunan yang besar (crowd) tingkat kecerdasan akan menurun, sedangkan emosional akan memuncak. Berdasarkan teori itu, tidak mengherankan perkelahian antarsuporter dengan benturan fisik sangat rentan terjadi. Jika kelompok suporter itu saling berhadapan (frontal), ada teriakan atau komando yang dilontarkan pada massa yang begitu besar, sudah pasti diikuti dengan berbagai aksi sesuai komando atau yel-yel yang dikumandangkan. Mereka tidak lagi menggunakan pikiran dan akal sehat, tapi semata-mata mengikuti emosi. Apa saja yang dikomandokan, akan dilaksanakannya tanpa reserve. Dengan luapan emosi yang begitu tinggi, mereka akan membabi buta melakukan anarkis menghancurkan apa saja yang dilihatnya bersama kelompoknya

Sudut pandang epistemologi menilai bahwa kekerasan para suporter tidak terjadi begitu saja. Ada tahapan-tahapan yang terjadi sampai mereka bertindak kekerasan. Pada awal mulanya, kedatangan suporter adalah memberi dukungan pada tim kesebelasannya untuk menang. Tidak ada niat untuk melakukan kekerasan. Ketika pertandingan berlangsung, luapan emosi menyatu dengan suasana di pertandingan sehingga tak jarang para suporter kemudian saling membanggakan timnya dan menjelek-jelekkan tim lawan.

  • 3.     Sudut Pandang Aksiologi

Sudut Pandang Aksiologi berusaha menjawab pertanyaan  apakah sesuatu dikatakan bernilai karena memang bernilai, atau apakah sesuatu itu karena dinilai kemudian menjadi bernilai. Dengan kata lain apakah hakikat nilai itu?

Suatu pertandingan tidak akan gayeng (seru) tanpa kehadiran suporter (The game isn’t the game without its supporter). Begitulah ungkapan yang sering kita dengar apabila membicarakan tentang suporter sepakbola. Suporter merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sepakbola. Bagi pemain sepakbola, suporter adalah pemberi semangat dan saksi hidup atas pencapaian mereka di lapangan. Bagi klub sepakbola, suporter adalah salah satu sumber keuangan utama selain sponsor dan televisi. Suporter banyak memberi andil bagi pemasukan keuangan klub dengan pembelian tiket maupun souvenir klub.

Tuhan YME memang menghendaki kehidupan di muka bumi ini berjalan seimbang. Ada sekelompok yang menginginkan keadaan rusuh, namun ada pula yang menginginkan sebaliknya. Di dalam sepakbola Indonesia tidak mustahil hal ini kita temui seiring bertumbuh kembangnya Suporter Sepakbola dan keadaan yang memunculkan didirikannya Asosiasi Suporter untuk menanggulangi aksi anarkisme suporter dan bentuk persatuan antar suporter lainnya.

Beberapa Kelompok Suporter meski secara individu memproklamirkan jargon untuk mendukung aksi ini. Seperti Aremania yang memiliki jargon “Friendship without Frontier, Football without Violence”. Agaknya ini menjadi upaya Suporter Sepakbola dalam memulihkan citra negatif yang dimiliki suporter sepakbola secara keseluruhan. Namun jargon saja tidaklah cukup, seperti kata pepatah “jargon tetaplah jargon. It’s nothing but only a silent platform” dibutuhkan realisasi nyata sebagai pembuktiannya. Di lain itu dibutuhkan tidak hanya sekedar revolusi sosial namun juga kehendak dari dalam diri. Ibaratnya apa yang terjadi nantinya adalah bagian dari representasi ide selama ini yang kesemuanya mencakup material dan kaidah (maxim) yang tidak bertumpu pada tindakan irrasional dan sporadis semata.

Seiring dengan maraknya kekerasan yang dilakukan oleh para suporter sepakbola, namun kehadiran para suporter ini tetaplah memiliki nilai-nilai tersendiri. Di dalam jiwa suporter tersebut terkandung nilai-nilai kebersamaan, solidaritas, perjuangan, aktualisasi diri dan juga pluralisme yang bernilai positif, sehingga sangat disayangkan apabila kebaikan ini kemudian tercemar karena aksi-aksi kekerasan yang sering menyertainya.