A. PERBEDAAN POTENSI INDIVIDU

Setiap anak memiliki potensi yang berbeda. Karena perbedaan itu, maka sebenarnya setiap anak memerlukan perlakuan tersendiri sesuai potensi individualnya untuk mencapai perkembangan yang optimal. Memang ada beberapa perlakuan yang sifatnya umum dan dapat diberlakukan untuk banyak anak, tetapi seharusnya tidak boleh mengorbankan kebutuhan individual tersebut. Pendidikan di Indonesia adalah pendidikan massal. Di tingkat SD misalnya, setiap kelas rata-rata diisi oleh sekitar 40 anak dengan seorang guru, Kurikulum yang dipakai untuk 40 anak sama, materinya sarna, metode mengajarnya sama, gurunya sama, waktu belajarnya sama, dan cara evalauasinya juga sama. Pola pendidikan semacam ini telah berjalan berpuluh-puluh tahun dan entah sampai kapan akan berubah. di setiap akhir catur wulan atau semester, atau akhir tahun mereka akan menerima raport. Ada yang masuk rangking sepuluh besar, ada yang tidak masuk, ada yang naik kelas ada yang tidak naik kelas, dan seterusnya.

Pertanyaan kemudian muncul, mengapa anak tertentu prestasi belajarnya tinggi dan anak yang lain prestasi belajarnya rendah? Jawaban yang umum kita dengar adalah, yang satu anak pintar dan yang lainnya adalah anak bodoh. Benarkah demikian? Dalam dunia pendidikan kita tidak pernah mengenal faktor tunggal sebagai penyebab apakah anak sukses atau gagal dalam belajar. Kita mengenal faktor internal dan faktor eksternal. Antara kedua faktor tersebut, sebelum kita temukan diagnosisnya, memiliki peluang yang sama untuk menjadi penentu keberhasilan atau kegagalan anak dalam belajar di sekolah.

Banyak studi di bidang psikologi pendidikan yang menemukan bahwa tidak sedikit (studi di Indonesia menemukan sekitar 39%) anak-anak yang secara potensial sebenarnya termasuk kategori anak unggul tetapi prestasi belajar di sekolah hanya biasa-biasa saja bahkan di bawah rata-rata prestasi anak yang lain. Mereka ini sering disebut sebagai anak ‘under achiever’.  Sebaliknya banyak anak-anak yang secara potensial sebenarnya biasa-biasa saja, tetapi prestasi belajar yang dicapai jauh di atas potensi dasarnya. Mereka sering disebut sebagai anak ‘over achiever’. (dafrizal:1)

Howard Gardner, yang juga psikolog, mengemukakan definisi kecerdasan untuk mengukur cakupan yang lebih luas bagi potensi manusia, baik bagi anak-anak maupun orang dewasa. Gardner mengembangkan Teori Multiple Intelligences (kecerdasan majemuk) dan membagi kecerdasan menjadi 8 jenis, yaitu: bodily kinesthetic intelligence (kecerdasan gerak tubuh), linguistic intelligence (kecerdasan linguistik), logical mathematical intelligence (kecerdasan logika matematika), interpersonal intelligence (kecerdasan interpersonal), intrapersonal intelligence (kecerdasan intrapersonal), musical intelligence (kecerdasan musical), visualspatial intelligence (kecerdasan visual-spasial), dan naturalist intelligence (kecerdasan natura-lis). (Cholil:1)

Kedelapan kecerdasan tersebut bisa saja dimiliki oleh individu, hanya saja dalam taraf berbeda. Selain itu, kecerdasan ini juga tidak berdiri sendiri, terkadang tercampur dengan kecerdasan yang lain. Misalnya saja, bila kelak seorang anak menjadi seorang ahli bedah, ia membutuhkan kecerdasan visual-spasial yang menonjol untuk menggunakan pisau bedahnya, juga kecerdasan gerak tubuh untuk kelenturan tangannya ketika menggunakan pisau.

Keseimbangan adalah salah satu tujuan Gardner dalam mengupas beberapa tipe kecerdasan. Untuk itu, ia menyarankan orang tua untuk juga mengasah salah satu kecerdasan anak yang menonjol, misalnya kecerdasan musiknya, sekaligus mengembangkan kecerdasan logika-matematika dan kecerdasan linguistiknya. Keunikan karena perbedaan potensi pada diri seorang anak inilah yang menuntut orang tua untuk memperlakukan salah satu anak dengan anak yang lainnya secara berbeda, sesuai dengan potensi kecerdasannya.

Seorang anak yang memiliki kemampuan berbicara yang baik, perlu dirangsang dengan memberikan asupan informasi dan dilatih terus untuk mengungkapkan pikirannya melalui kata-kata. Perlu banyak diajak bicara dan sesekali perlu diajak berargumen sesuai dengan kadar kecerdasan usianya. Mempertimbangkan usia, sebenarnya pertumbuhan otak bayi akan sempurna hingga usianya 5 tahun. Karena itu, kecerdasan seorang anak akan terbentuk dengan memberikan perhatian penuh pada saat perkembangan otak sedang optimal. Perlu asupan yang tepat, baik makanan maupun informasi. Sejak bayi, pemberian makanan bergizi, konsumsi Air Susu Ibu tidak hanya akan membuat anak memiliki daya tahan tubuh yang prima, tetapi juga merupakan bagian dari usaha orang tua agar anaknya menjadi cerdas.

Seorang anak yang memiliki kemampuan ’bergerak’, cerdas secara kinestetik, perlu mendapat rangsangan dengan cara melibatkannya dalam ’proyek-proyek’ kecil untuk menghasilkan karya tertentu, tidak perlu bagus, tapi yang terpenting adalah pelibatan dalam proses pembuatannya. Dengan rangsangan yang terarah, kecerdasan tersebut akan terasah dan bisa menjadi bagian dari penumbuhan kompetensi anak tersebut. Seorang anak yang memiliki kecerdasan untuk berhubungan dengan orang lain, baik dengan teman sebaya maupun yang lebih tua, tentu perlu diajak untuk terlibat dalam suasana pergaulan yang bervariasi. Keinginannnya untuk mengetahui orang lain yang berbeda, merupakan pengalaman baru yang istimewa. Yang perlu dilakukan orang tua adalah melibatkannya dalam dunia pergaulan yang bervariasi. (Cholil:2)

Seorang anak yang cerdas dalam berbahasa, cepat menyerap bahasa, baik bahasa ibunya, bahasa nasional, maupun bahasa asing, perlu diperlakukan dengan cara yang berbeda juga. Alangkah baiknya jika anak tersebut diajak berbicara dengan bahasa yang memang kita ingin dia untuk menguasainya. Daya serap anak dalam berbahasa sebenarnya sangat baik, hanya perlu pengondisian di lingkungannya.

Perbedaan adalah sebuah keniscayaan dalam sebuah proses keadilan. Perbedaan perlu dipahami untuk membuat perlakuan yang diberikan sesuai dengan kapasitasnya. Orang tua tidak menjadi seorang pemberi dan anak sebagai penerima. Lebih dari itu ada proses saling memahami sehingga pemberian dan penerimaan adalah bagian dari peran dan fungsi orang tua dan anak yang memiliki hak dan kewajibannya masing-masing; baik yang sudah menjadi norma maupun kesepakatan. Kewajiban bagi orang tua bisa menjadi hak bagi anak, demikian juga sebaliknya. Tanpa ada kesepahaman, baik hak maupun kewajiban hanyalah sebuah rutinitas yang bisa menjadi beban. (Cholil:3)

B. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN ANAK

Pada umumnya anak memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan normal yang merupakan hasil interaksi banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas tumbuh kembang anak antara lain:

1. Faktor Dalam

  • Ras/etnik atau bangsa : Anak yang dilahirkan dari ras/bangsa Amerika, maka ia tidak memilki faktor herediter ras/bangsa Indonesia atau sebaliknya
  • Keluarga: Ada kecenderungan keluarga yang memiliki postur tubuh tinggi, pendek, gemuk atau kurus
  • Umur : Kecepatan pertumbuhan yang pesat adalah masa prenatal, tahun pertama kehidupan dan masa remaja.
  • Jenis kelamin : fungsi reproduksi pada anak perempuan berkembang lebih cepat daripada laki-laki.. Tetapi setelah melewati masa pubertas, pertumbuhan anak laki-laki akan lebih cepat
  • Genetik : adalah bawaan anak yaitu potensi anak yang akan menjadi ciri khasnya. Ada beberapa kelainan genetik yang berpengaruh pada tumbuh kembang anak seperti kerdil.
  • Kelainan kromosom : Kelainan kromosom umumnya disertai dengan kegagalan pertumbuhan seperti pada sindroma Down’s dan sindroma Turner’s.

2. Faktor Luar

  • Gizi : Nutrisi ibu hamil terutama dalam trisemester akhir kehamilan akan mempengaruhi pertumbuhan janin
  • Mekanis : Posisi fetus yang abnormal bisa menyebabkan kongenital seperti club foot
  • Toksi/zat kimia : beberapa obat-obatan dapat menyebabkan kelainan kongenital.
  • Radiasi Paparan radium dan sinar rontgen dapat kelainan pada janin seperti deformitas anggota gerak
  • Infeksi : Infeksi pada trimester pertama dan kedua oleh virus TORCH dapat menyebabkan kalainan pada janin, katarak, bisu tuli, retasdasi mental dam kelainan jantung.
  • Kelainan imunologi : Adanya perbedaan golongan darah antara janin dan ibu sehingga ibu membentuk antibodi terhadap sel darah merah janin, kemudian melalui plasenta masuk dalam peredaran darah janin dan akan menyebabkan hemolisis yang selanjutnya mengakibatkan kerusakan jaringan otak
  • Psikologi ibu : Kehamilan yang tidak diinginkan, perlakukan salah/kekerasan mental pada ibu hamil dan lain-lain

3.  Faktor Persalinan Dan Pasca Salin

Komplikasi persalinan pada bayi seperti trauma kepala, asfiksia dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak

  • Gizi : untuk tumbuh kembang bayi, diperlukan zat makanan yang adekuat
  • Penyakit kronis/kelainan kongenital : tuberkolosis, anemia, kelainan jantung bawaan mengakibatkan retardasi pertumbuhan jasmani
  • Lingkukan fisis dan kimia : Lingkungan sebagai tempat anak hidup berfungsi sebagai penyedia kebutuhan dasar anak. Sanitasi lingkungan yang kurang baik, kurangnnya sinar matahari, paparan sinar radioaktif, zat kimia tertentu mempunya dampak yang negatif terhadap pertumbuhan anak.

4.  Psikologis

Hubungan anak dengan orang sekitarnya. Seorang anak yang tidak dikehendaki oleh orang tuanya atau anak yang selalu merasa tertetkan, akan mengalami hambatan di dalam pertumbuhan dan perkembangannya

5.  Sosio-Ekonomi

Kemisikinan selalu berkaitan dengan kekurangan makanan, kesehatan lingkungan yang jelek dan ketidaktahuan, akan menghambat pertumbuhan anak.

6. Lingkungan Pengasuhan

Pada lingkungan pengasuhan, interaksi ibu anak sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak

7. Stimulasi

Pertumbuhan memerlukan rangsang/stimulasi khususnya dalam keluarga, misalnya penyediaan alat mainan, sosialisasi anak, keterlibatan ibu dan anggota keluarga lain terhadap kegiatan anak.

8. Obat-Obatan

Pemakaian kortikosteroid jangka lama akan menghamba pertumbuhan, demikian halnya dengan pemakaian obat perangsang terhadap susunan saraf yang menyebabkan terhambatnya produksi hormon pertumbuhan

C. PERBEDAAN INDIVIDUAL ANAK USIA SD

Perbedaan individual seorang anak akan terjadi pada setiap aspek perkembangan anak itu. Aspek perkembangan tersebut di antaranya adalah pada aspek perkembangan fisik, intelektual, moral, maupun aspek kemampuan. Perbedaan pada aspek perkembangan fisik jelas terlihat dari perbedaan bentuk, berat, dan tinggi badan. Selain itu, perbedaan fisik juga dapat diidentifikasi dari segi kesehatan anak. Sedangkan perbedaan pada aspek perkembangan intelektual dapat dilihat sejalan dengan tahapan usia, kemampuan anak pun meningkat. Namun demikian, karena pengaruh berbagai faktor, kemampuan di antara anak-anak tersebut bisa berbeda. Misalnya, si A pada usia 7 tahun sudah bisa membuat suatu karangan yang bersifat aplikasi dari suatu konsep, tetapi si B pada usia yang sama belum bisa melakukan hal yang dilakukan A.

Perbedaan kemampuan seorang anak bisa mencakup perbedaan dalam berkomunikasi, bersosialisasi atau perbedaan kemampuan kognitif. Faktor yang menonjol dalam membentuk kemampuan kognitif adalah faktor pembentukan lingkungan alamiah dan yang dibuat.

 

D. JENIS-JENIS KEBUTUHAN ANAK USIA SD

Istilah “kebutuhan”, “dorongan”, atau “motif” pada kehidupan sehari-hari sering digunakan secara bergantian. Namun demikian, secara konsep ada perbedaan di antaranya. Kebutuhan lebih mengacu pada keadaan di mana seseorang terdorong melakukan sesuatu karena adanya kekurangan pada jaringan-jaringan di dalam dirinya yang lebih bersifat fisiologis. Sedangkan dorongan atau motif merupakan kebutuhan tingkat tinggi yang bersifat psikologis. Banyak ahli di bidangnya melakukan penggolongan terhadap aspek-aspek kebutuhan, dan pada umumnya bisa dikatakan sama intinya. Cole dan Bruce (1959) membagi kebutuhan menjadi 2 golongan yaitu kebutuhan fisiologis dan psikologis. Dalam kaitannya dengan perbedaan individu pada anak usia SD, digunakan penggolongan kebutuhan oleh Lindgren (1980) berupa 4 tingkatan kebutuhan yaitu kebutuhan jasmaniah, perhatian, dan kasih sayang, kebutuhan untuk memiliki dan aktualisasi diri..

E. ANAK DENGAN PROBLEMATIKA  BELAJAR

Ada beberapa klasifikasi anak dengan problema belajar. Data Departemen Pendidikan Amerika Serikat misalnya, mengelompokkan anak dengan problema belajar (istilah yang digunakan adalah  children with special need)  menjadi:

(1)  anak berkesulitan belajar,

(2)  gangguan wicara,

(3)  retardasi mental,

(4)  gangguan emosi,

(5)  gangguan fisik dan kesehatan

(6)  gangguan pendengaran,

(7)  gangguan penglihatan, dan

(8)  tuna ganda (Lynch Lewis, 1988).

Sementara itu ahli lain, Ashman dan Elkins (1994), membagi jenis-jenis anak dengan kebutuhan khusus menjadi :

(1)  anak berbakat,

(2)  gangguan komunikasi,

(3)  berkesulitan belajar,

(4)  gangguan emosi dan perilaku,

(5)  gangguan penglihatan,

(6)  gangguan pendengaran,

(7)  gangguan intelektual, dan

(8)  gangguan fisik

Di di Indonesia anak dengan kebutuhan khusus tersebut dalam ‘stilah perundang-undangan dikenal sebagai anak berkelainan (Pasal 5 : 2 UUSPN No. 20/2003) dan anak yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa (Pasal 5 : 4 UU No. 20/2003). Dalam UUSPN yang lama No. 2/1989 dan PP No. 72/1991 disebut berkelainan fisik dan/atau mental dan atau perilaku. Mereka terdiri atas tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, dan tunaganda. Di samping itu terdapat anak yang mempunyai kemampuan dan kecerdasan luar biasa. Mereka ini berhak mendapatkan perhatian khusus (USPN No. 20/1989, Ps 8:2). Anak dengan problema belajar, tidak secara eksplisit disebutkan dalam UUSPN 1989, UUSPN No. 20/2003 maupun PP No. 72/1991 tentang Pendidikan Luar Biasa. Dengan memperhatikan berbagai literatur serta kebijakan pendidikan luar biasa di Indonesia, untuk kepentingan pelayanan pendidikan khusus di sekolah umum, semua anak yang memerlukan pendidikan khusus dikategorikan sebagai anak dengan problema belajar.

Dilihat dari gejala yang nampak, anak dengan problema belajar dapat digambarkan sebagai berikut :

  1. tidak dapat mengikuti pelajaran seperti yang lain,
  2. sering terlambat atau tidak mau menyelesaikan tugas,
  3. menghindari tugas-tugas yang agak berat,
  4. ceroboh atau kurang teliti dalam banyak hal,
  5. acuh tak acuh atau masa bodoh,
  6. menampakkan semangat belajar yang rendah,
  7. tidak mampu berkonsentrasi, mudah berubah-ubah,
  8. perhatian terhadap suatu objek sing kat,
  9. suka menyendiri, sulit menyesuikan diri,
  10. murung,
  11. suka memberontak, agresif, dan meledak-ledak dalam merespon ketidakcocokan, hasil belajar rendah

F. FAKTOR PENYEBAB ANAK MENGALAMI PROBLEMATIKA BELAJAR

Setiap anak sekalipun ia lahir kembar, tidak ada yang sama. Perbedaan individual ini menyebabkan tidak mudah memberikan pelayanan yang sesuai dengan masing-masing anak. Jika perbedaan itu tidak cukup signifikan, maka pelayanan secara massal atau kolektif dapat dilakukan. Jika perbedaan itu sangat mencolok, misalnya tingkat kecerdasan, kreativitas, kecacatan, dan motivasi, maka pada kondisi anak-anak seperti ini, maka diperlukan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan khususnya.

Menurut Mulyasa (2003) setidaknya ada lima aspek perbedaan individual yang harus diperhatikan agar anak tidak mengalami problema dalam belajar. Kelima aspek tersebut adalah perbedaan tingkat kecerdasan, perbedaan kreaivitas, perbedaan cacat fisik, perbedaan kebutuhan khusus, dan perbedaan perkembangan kognisi.

1.

  • Perbedaan tingkat kecerdasan

Penggolongan terhadap tingkat kecerdasan (IQ) seseorang dihitung dengan membagi usia mental dengan usia kronologis serta mengalikannya dengan 100 (Till, 1971). Model pengukuran ini antara lain dikembangkan oleh Alfred Binet (1905), Lewis M. Terman (1916), Thurstone (1938). Tokoh lain yang juga dikenal sebagai pengembang tes IQ adalah Wechsler yang pertama kali mempublikasikan karyanya pada tahun 1949 dan direvisi tahun 1973 dengan nama WISE  (Wechsler Intelligence Scale for Children) untuk anak usia 5 – 16 tahun. Sedangkan untuk anak usia 16 tahun ke atas diterbitkan tahun 1955 dengan nama tes WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale). Untuk anak usia 4 – 6,5 tahun Wechsler mengembangkan tes dengan WPPSI pada tahun 1967 (Wechsler Preschool and Primary Scale of Intelligence)

Salah satu jenis tes kecerdasan adalah yang dikembangkan oleh Thurstone yang dikenal dengan  Primary Mental Abilities Test  atau tes kemampuan mental dasar, yang meliputi kemampuan-kemampuan sebagai berikut :

  1. Verbal comprehention : kemampuan untuk memahami ide-ide yang diekspresikan dengan kata-kata.
  2. Number: kemampuan untuk menalar dan memanipulasi secara matematis.
  3. Spatial: kemampuan untuk menvisualisasikan obyekobyek dalam bentuk ruang.
  4. Reasoning: kemampuan untuk memecahkan masalah
  5. Perceptual speed : kemampuan menemukan persamaan-persamaan dana ketidaksamaan di antara obyek-obyek secara tepat. Berdasarkan hasil tes kecerdasan,

Dari gambaran tersebut diketahui bahwa, perbedaan kecerdasan menjadi salah satu faktor penyebab anak akan mengalami problema belajar atau tidak jika mereka dimasukkan ke dalam kelas-kelas biasa atau regular

B. Perbedaan Kreatifitas

Seperti halnya kecerdasan (IQ), kreativitas juga dapat diukur dengan menggunakan tes tertentu, seperti tes kreativitas figural dan tes kreativitas verbal (Utami Munandar, 1995). Perbedaan tingkat kreativitas juga dapat menjadi sumber penyebab anak mengalami problema dalam belajar. Untuk mata pelajaran tertentu yang membutuhkan tingkat imajinasi dan kreativitas tinggi terutama yang menyangkut pemecahan masalah yang sulit, seperti matematika, fisika, kimia, potensi kreativitas ini sangat diperlukan. Untuk itu diperlukan guru yang mengerti bagaimana memupuk dan mengelola potensi kreativitas ini sehingga tidak menjadi sumber kesulitan dalam belajar.

 

C. Perbedaan Kelainan / Cacat Fisik

Perbedaan individu dalam hal kelainan / cacat fisik antara lain kelainan penglihatan (tunanetra), kelainan pendengaran (tunarungu), kelainan wicara (tunawicara), kelainan anggota tubuh dan gangguan motorik lainnya karena kerusakan otak (tunadaksa). Terhadap anak-anak yang mengalami hambatan-hambatan di atas, diperkirakan akan mengalami kesulitan dalam mengikuti pendidikan reguler, dan karenanya diperlukan sikap dan layanan yang berbeda dalam rangka membantu perkembangan pribadi mereka. Anak-anak seperti ini tidak harus dipisahkan dari sekolah reguler. Mereka bisa dilayani pendidikannya di sekolah regular, tetapi dengan penanganan khusus atau penanganan individual. Mengasingkan mereka dari sekolah-sekolah umum, akan menghilangkan hak mereka untuk mendapatkan kehidupan yang layak, dan hanya akan mengasingkan anak dari dunia yang sesungguhnya. Sehubungan dengan anak-anak yang mengalami hambatan fisik ini, Ornstein dan Levine (1966) dalam Mulyasa (2003) menegaskan sebagai berikut :

1)     Orang yang mengalami hambatan, bagaimanapun hebatnya ketidak mampuan mereka, harus diberi kebebasan dan pendidikan yang sesuai. optimal.

2)     Golongan anak rata-rata atau menengah dengan IQ 90-110, merupakan bagian yang paling besar jumlahnya, sekitar 45 – 60 persen. Mereka bisa belajar secara normal dan wajar dalam kelas reguler tanpa pelayanan khusus.

3)     Golongan anak di atas rata-rata dengan IQ 110 – 130 sering disebut sebagai anak cerdas, superior atau anak berbakat. Anak dengan kategori ini memerlukan layanan individual untuk mengembangkan dan mewujudkan potensinya secara opimal.

4)     Golongan anak ‘genius’ yaitu mereka yang memiliki 10 140 ke atas. Mereka mampu belajar jauh lebih cepat dari golongan lainnya. Jika mereka tidak mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan potensinya, akan menimbulkan masalah pada dirinya, bahkan juga Iingkungannya, dan di sekolah mereka dapat menjadi anak yang  ‘under achiever’.

Dari gambaran tersebut diketahui bahwa, perbedaan kecerdasan menjadi salah satu faktor penyebab anak akan mengalami problema belajar atau tidak jika mereka dimasukkan ke dalam kelas-kelas biasa atau regular

Secara umum, manusia termasuk anak-anak memiliki kebutuhan dalam kehidupannya. Menurut Maslow (1970) percaya bahwa setiap manusia memiliki lima kategori kebutuhan yang membentuk suatu hirarki dari yang paling Pokok atau dasar hingga yang paling tinggi, ialah kebutuhan fisiologis, seperti oksigen, makan dan minum, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan untuk diakui, kebutuhan untuk dihargai, dan kebutuhan untuk aktualisasi diri Sementara itu Hurlocks (1962) mengemukakan bahwa ada dua belas kategori kebutuhan manusia khususnya dari aspek psikologis, ialah kebutuhan:

  1. Penerimaan : kebutuhan untuk merasakan bahwa orang lain bersikap baik atau positif, hormat, mendukung atau menyetujui, tidak menolak dirinya.
  2. Prestasi kebutuhan untuk memperoleh, mencapai, menerima, menang, dan sebagainya.
  3. Kasih sayang : kebutuhan untuk dicintai, dihargai.
  4. Persetujuan atau restu : kebutuhan untuk melihat orang lain menyenangkan, menghindari kritik, kesalahan dan hukuman.
  5. Menjadi bagian : kebutuhan untuk merasa sebagai bagian dari suatu kelompok atau lingkungan.
  6. Kesesuaian : kebutuhan untuk menjadi sebagaimana orang lain, menghindari perbedaan.
  7. Ketergantungan : kebutuhan untuk mendapatkan dukungan emosional, perlindungan, perhatian, dorongan dan bantuan dari orang lain.
  8. Ketidak tergantungan :kebutuhan untuk bebas, mandiri, keputusan sendiri, kepercayaan.
  9. Penguasaan – kekuasaan (menguasai – berkuasa) : kebutuhan untuk mengendalikan, berkuasa, memimpin, mengelola, memerintah, mengatasi masalah, mengatasi hambatan, mempengaruhi orang lain.
  10. Pengenalan atau pengakuan : kebutuhan untuk diketahui, dikenal, dianggap sebagai pribadi yang unik, dibedakan dari yang lain, tidak dianggap sama.
  11. Pernyataan diri : kebutuhan untuk berfungsi, belajar mengerti, berformasi
  12. Dimengerti : kebutuhan untuk merasa dalam hubungan yang simpatik dengan orangtua, saudara, teman, merasa bebas bergaul dan mengemukakan ikiran tanpa kehilangan kasih sayang.

Dengan memperhatikan kebutuhan individual setiap anak, maka kesulitan individu dapat dikurangi, dan dengan mengabaikan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut, maka akan menjadi sumber utama timbulnya problema dalam belajar pada diri anak.

G. GAYA BELAJAR / MODALITAS BELAJAR

Dalam buku Quantum Learning dipaparkan 3 modalitas belajar seseorang yaitu : “modalitas visual, auditori atau kinestetik (V-A-K). Walaupun masing-masing dari kita belajar dengan menggunakan ketiga modalitas ini pada tahapan tertentu, kebanyakan orang lebih cenderung pada salah satu di antara ketiganya”.

1. Visual (belajar dengan cara melihat)

Lirikan keatas bila berbicara, berbicara dengan cepat. Bagi siswa yang bergaya belajar visual, yang memegang peranan penting adalah mata / penglihatan ( visual ), dalam hal ini metode pengajaran yang digunakan guru sebaiknya lebih banyak / dititikberatkan pada peragaan / media, ajak mereka ke obyek-obyek yang berkaitan dengan pelajaran tersebut, atau dengan cara menunjukkan alat peraganya langsung pada siswa atau menggambarkannya di papan tulis. Anak yang mempunyai gaya belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka gurunya untuk mengerti materi pelajaran. Mereka cenderung untuk duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. Mereka berpikir menggunakan gambar-gambar di otak mereka dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan visual, seperti diagram, buku pelajaran bergambar, dan video. Di dalam kelas, anak visual lebih suka mencatat sampai detil-detilnya untuk mendapatkan informasi.

Ciri-ciri gaya belajar visual :

  1. Bicara agak cepat
  2. Mementingkan penampilan dalam berpakaian/presentasi
  3. Tidak mudah terganggu oleh keributan
  4. Mengingat yang dilihat, dari pada yang didengar
  5. Lebih suka membaca dari pada dibacakan
  6. Pembaca cepat dan tekun
  7. Seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tapi tidak pandai memilih kata-kata
  8. Lebih suka melakukan demonstrasi dari pada pidato
  9. Lebih suka musik dari pada seni
  10. Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan seringkali minta bantuan orang untuk mengulanginya

Strategi untuk mempermudah proses belajar anak visual :

  1. Gunakan materi visual seperti, gambar-gambar, diagram dan peta.
  2. Gunakan warna untuk menghilite hal-hal penting.
  3. Ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi.
  4. Gunakan multi-media (contohnya: komputer dan video).
  5. Ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam gambar.

2. Auditori (belajar dengan cara mendengar)

Lirikan kekiri/kekanan mendatar bila berbicara, berbicara sedang2 saja. Siswa yang bertipe auditori mengandalkan kesuksesan belajarnya melalui telinga ( alat pendengarannya ), untuk itu maka guru sebaiknya harus memperhatikan siswanya hingga ke alat pendengarannya. Anak yang mempunyai gaya belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru katakan. Anak auditori dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi rendahnya), kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Informasi tertulis terkadang mempunyai makna yang minim bagi anak auditori mendengarkannya. Anak-anak seperi ini biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan mendengarkan kaset.

Ciri-ciri gaya belajar auditori :

  1. Saat bekerja suka bicaa kepada diri sendiri
  2. Penampilan rapi
  3. Mudah terganggu oleh keributan
  4. Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat
  5. Senang membaca dengan keras dan mendengarkan
  6. Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca
  7. Biasanya ia pembicara yang fasih
  8. Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya
  9. Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik
  10. Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan Visual
  11. Berbicara dalam irama yang terpola
  12. Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama dan warna suara

Strategi untuk mempermudah proses belajar anak auditori :

  1. Ajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi baik di dalam kelas maupun di dalam keluarga.
  2. Dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras.
  3. Gunakan musik untuk mengajarkan anak.
  4. Diskusikan ide dengan anak secara verbal.
  5. Biarkan anak merekam materi pelajarannya ke dalam kaset dan dorong dia untuk mendengarkannya sebelum tidur.

3. Kinestetik (belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh)

Lirikan kebawah bila berbicara, berbicara lebih lambat. Anak yang mempunyai gaya belajar kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Anak seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktifitas dan eksplorasi sangatlah kuat. Siswa yang bergaya belajar ini belajarnya melalui gerak dan sentuhan.

Ciri-ciri gaya belajar kinestetik :

  1. Berbicara perlahan
  2. Penampilan rapi
  3. Tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan
  4. Belajar melalui memanipulasi dan praktek
  5. Menghafal dengan cara berjalan dan melihat
  6. Menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca
  7. Merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita
  8. Menyukai buku-buku dan mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca
  9. Menyukai permainan yang menyibukkan
  10. Tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang pernah berada di tempat itu
  11. Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka Menggunakan kata-kata yang mengandung aksi

Strategi untuk mempermudah proses belajar anak kinestetik:

  1. Jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam-jam.
  2. Ajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya (contohnya: ajak dia baca sambil bersepeda, gunakan obyek sesungguhnya untuk belajar konsep baru).
  3. Izinkan anak untuk mengunyah permen karet pada saat belajar.
  4. Gunakan warna terang untuk menghilite hal-hal penting dalam bacaan.
  5. Izinkan anak untuk belajar sambil mendengarkan musik.

Gaya belajar dapat menentukan prestasi belajar anak. Jika diberikan strategi yang sesuai dengan gaya belajarnya, anak dapat berkembang dengan lebih baik. Gaya belajar otomatis tergantung dari orang yang belajar. Artinya, setiap orang mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda.

DAFTAR PUSTAKA

 

Dafrrizal Jamri,2009. Hakikat Anak Dengan Problema Belajar

Yusrizal,2009 http://yusrizalfirzal.wordpress.com/2009/09/11/mengenal-gaya-belajar-anak-anda/

http://1lmu.blogspot.com/2009/04/orangtua-dan-guru-harus-kenal-gaya.html

DR Reni Akbor Howodi Psi. Fok. Psikologi U1.

www.matheMagic.com

http://www.tempo.co.id/edunet/

USPN No. 20/1989