GAGASAN PENGAJARAN  PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

DI TINGKAT SEKOLAH DASAR

Oleh : Hendrik Pandu Paksi

Pendahuluan

Berdasarkan fungsi strategis Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, kiranya perlu adanya pendidikan Pancasila bagi setiap warga negara Indonesia. Pendidikan Pancasila bukan hanya dimaksudkan untuk memahamkan mengenai tata kehidupan bernegara, tetapi juga sebagai proses internalisasi nilai-nilai Pancasila. Sebagai sistem filsafat sekaligus hasil pemikiran filosofis, Pancasila perlu dikaji dan difahami agar setiap warga negara mengetahui kekuatan dan kebenaran Pancasila sehingga pada gilirannya tumbuh keyakinan dan kesadaran yang kuat untuk mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kedudukan Pancasila sebagai Dasar Negara membawa konsekuensi bahwa seluruh tata kenegaraan dan penyelenggaraan negara harus didasarkan kepada Pancasila. Sebagai sistem filsafat negara, pancasila tentunya mempunyai konsep tentang negara dan bagaimana negara tersebut harus diselenggarakan. Seluruh aspek kehidupan kenegaraan, baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya harus didasarkan pada konsep filsafat Pancasila. Mengingat pancasila sebagai dasar negara masih bersifat abstrak dan tematik, perlu dikaji secara ilmiah. Pancasil perlu dikaji dan difahamkan kepada setiap warga negara secara bertahap sesuai dengan tingkat usia dan jenjang pendidikan.

Kedudukan Pancasila sebagai pandangan hidup, yang  di dalamnya terkandung prinsip-prinsip harus di internalisasikan dan diyakinkan kepada setiap warga negara. Sebagai pandangan hidup, Pancasila mengandung nila-nilai universal yang harus dipahami dan diyakini kebenarannya, yang kemudian dijadikan pedoman dalam mengatasi persoalan-persoalan kehidupan. Nilai-nilai tersebut harus ditanamkan kepada setiap warga negara, agar mereka meyakini kebenarannya dan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Ini berarti pendidikan Pancasila dalam fungsinya sebagai pandangan hidup menjadi sangat penting, agar setiap warga negara memahami nilai-nilai dan prinsip-prinsip dasar yang terkandung dalam Pancasila

Sebagai ideologi, Pancasila mempunyai konsep mengenai kehidupan yang dianggap ideal. Yang dibangun berdasarkan realitas sosiokultural bangsa Indonesia sendiri. Selain konsep kehidupan yang ideal, sebagai ideologi Pancasila juga menawarkan bagaimana cara untuk mewujudkannya. Bahkan sebagai ideologi, Pancasila mempunyai keunggulan dibanding dengan ideologi-ideologi lain di dunia, karena Pancasila merupakan sintesa dari berbagai ideologi yang ada di dunia dengan menawarkan prinsip keseimbangan, keselarasan, dan keserasian. Pemahaman tentang konsep kehidupan yang diidealkan dan bagaimana cara-cara mewujudkan tentu harus dipahamkan kepada seluruh warga negara Indonesia, agar mereka mampu mewujudkan suatu tatanan hidup masyarakat yang adil dan sejahtera.

Mengingat pentingnya fungsi dan kedudukan Pancasila dalam tata kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, maka pendidikan  Pancasila sebagai instrumen untuk membangun warga negara yang baik, yang berkarakter Pancasila dan meyakini kebenaran dan kekuatan Pancasila dalam mencapai cita-cita harus diberikan kepada setiap generasi bangsa. Persoalannya adalah apakah isi substansi materi yang akan diberikan dan fokus penekanan yang kita prioritaskan dari ketiga fungsi Pancasila tersebut?

Dalam sejarah kurikulum pendidikan di Indonesia mengalami berbagai perubahan isi dan sekaligus penekanan fungsi Pancasila. Pada awal kemerdekaan, ada mata pelajaran civics (sekitar 1957 – 1958), kemudian berganti nama menjadi Kewarganegaraan (sekitar tahun 1962). Pada awal Orde Baru  mata pelajaran Kewarganegaraan berubah menjadi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Pada tahun 1975 dalam kurikulum yang dikenal kurikulum 1974, mata pelajaran PKn berganti nama dengan Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Nama ini merujuk pada TAP MPR No II tahun 1978  tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P-4), materi P-4 masuk dalam mata pelajaran PMP.

Sejak tahun 1989, dengan adanya undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional, muncul kurikulum baru yang mewajibkan setiap jenjang dan jenis pendidikan wajib ada mata pelajaran Pancasila, Kewarganegaraan, dan Agama. Berdasarkan keputusan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan no 060 dan 061/U/1993 tanggal 25 pebruari 1993, di sekolah dasar dan menengah wajib ada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Kemudian dengan munculnya Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional yang baru  yaitu UU Nomor 20 tahun 2003, mata pelajaran Pancasila hilang dari kurikulum pendidikan nasional, yang ada tinggal Pendidikan Kewarganegaraan.

Persoalannya adalah apakah tekanan isi materi dan tujuan dari masing-masing periode serta mata pelajaran itu sama dan bisa mencakup seluruh fungsi Pancasila? Kalau kita lihat dari isi materi dan tujuan ada perbedaan penekanan pada masing-masing kurikulum. Jika kita bandingkan antara maksud, tujuan, dan ruang lingkup dari mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) pada kurikulum 1994 dengan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) pada kurikulum 2004 ada perbedaan yang cukup signifikan.

Pada kurikulum 2004 disebutkan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. sedangkan pada kurikulum 1994, disebutkan bahwa Pendidikan Pacasila dan Kewarganegaraan (PPKn) adalah mata pelajaran yang digunakan sebagai wahana untuk mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai luhur dan moral yang berakar pada budaya bangsa Indonesia yang diharapkan dapat diwujudkan dalam bentuk prilaku dalam kehidupan sehari-hari siswa baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat, dan makhluk ciptaan Tuhan yang Maha Esa. Disamping  itu Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan juga dimaksudkan membekali siswa dengan budi pekerti, pengetahuan dan kemampuan dasar berkenaan dengan hubungan antar warga negara dengan negara serta pendidikan pendahuluan bela negara agar menjadi warga negara yang dapat diandalkan oleh bangsa dan negara.

Secara konseptual ada perbedaan penekanan antara mata pelajaran PPKn dan PKn. Mata pelajaran PPKn lebih menekankan pada pembangunan karakter dan pelestarian  nilai-nilai Pancasila. Sedangkan mata pelajaran PKn lebih menekankan pada pembentukan warga negara yang paham akan hak dan kewajiban.

Dilihat dari tujuan, mata pelajaran PKn bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut :

  1. Berfikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam memanggapi isu kewarganegaraan.
  2. Berpartisipasi secara aktf dan bertanggung jawab, dan bertindk secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta anti korupsi.
  3. Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya.
  4. Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

Dalam kurikulum 1994 disebutkan bahwa fungsi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan adalah :

  1. Mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai dan moral Pancasila secara dinamis dan terbuka. Dinamis dan terbuka dalam arti bahwa nilai dan moral yang dikembangkan mampu menjawab tantangan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat, tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia yang merdeka, bersatu, dan berdaulat.
  2. Mengembangkan dan membina manusia Indonesia seutuhnya yang sadar politik dan konstitusi NKRI berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.
  3. Membina pemahaman dan kesadaran terhadap hubungan antara warga negara dengan negara, antara warganegara dengan sesama warganegara, dan pendidikan pendahuluan bela negara agar mengetahui dan mampu melaksanakan dengan baik hak dan kewajibannya sebagai warga negara.

Kemudian secara tegas disebutkan bahwa tujuan pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan  adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan mengembangkan kemampuan memahami, menghayati, dan meyakini nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman berprilaku dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, sehingga menjadi warga negara yang bertanggung jawab dan dapat diandalkan serta memberi bekal kemampuan untuk belajar lebih lanjut.

Dari tujuan juga jelas berbeda. PPKn lebih menekankan pada pembentukan karakter (afektif), sedangkan PKn lebih menekankan pada aspek berfikir kritis (kignisi). Sebenarnya antara moralitas dan berfikir bukan dua hal yang terpisah sama sekali. Keduanya mempunyai hubungan. Kemampuan berfikir/kognisi seharusnya membimbing perilaku, sehingga semakin tinggi tingkat pengetahuannya juga semakin baik sikap dan moralnya. Secara filosofis buah dari ilmu itu adalah bijaksana. Oleh karena itu, seharusnya pendidikan mampu merubah perilaku seseorang, semakin tinggi tingkat pendidikannya maka semakin bijaksana sikap dan prilakunya.

Ruang Lingkup Pendidikan PPKn dan PKn

Dalam kurikulum 2004, disebutkan bahwa ruang lingkup mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) meliputi aspek-aspek berikut :

  1. Persatuan dan kesatuan Bangsa, meliputi : hidup rukun dalam perbedaan, cinta lingkungan, kebanggaan sebagai bangsa Indonesia, sumpah pemuda, keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Partisipasi  dalam pembelaan negara, sikap positif terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia, keterbukaan dan jaminan keadilan.
  2. Norma, hukum dan peraturan, meliputi : Tertib dalam kehidupan keluarga, tata tertib di sekolah, norma yang berlaku di masyarakat, peraturan-peraturan daerah norma-norma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sistem hukum dan peradilan nasional, hukum dan peradilan Internasional.
  3. Hak Asasi Manusia, meliputi : hak dan kewajian anak, hak dan kewajiban anggota masyarakat, instrumen nasional dan internasional HAM, penajuan, penghormatan dan perlindungan HAM.
  4. Kebutuhan warga negara, meliputi : hidup gotong royong, harga diri sebagai warga masyarakat, kebebasan berorganisasi, kemerdekaan mengeluarkan pendapat, menghargai keputusan bersama, prestasi diri, persamaan kedudukan warga negara.
  5. Konstitusi Negara, meliputi : Proklamasi kemerdekaan dan konstitusi pertama, konstitusi-konstitusi yang pernah digunakan di Indonesia, hubungan dasar negara dengan konstitusi.
  6. Kekuasaan dan Politik, meliputi : Pemerintahan desa dan kecamatan, Pemerintahan daerah dan otonomi, Pemerintah pusat, Demokrasi dan sistem politik, Budaya politik, Budaya demokrasi menuju masyarakat madani, sistem pemerintahan, pers dalam masyarakat demokrasi.
  7. Pancasila, meliputi : kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara, proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara, pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, Pancasila sebagai ideologi terbuka.
  8. Globalisasi, meliputi : globalisasi di lingkungannya, Politik luar negeri Indonesia di era Globalisasi, dampak globalisasi, hubungan internasional dan organisasi internasional, dan mengevaluasi globalisasi.

Sedangkan dalam kurikulum 1994, ruang lingkup Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) meliputi :

  1. Nilai moral dan norma bangsa Indonesia serta perilaku yang diharapkan terwujud dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara sebagaimana dimaksud dalam Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P-4)
  2. Kehidupan ideologi Politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan di Negara kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. sedangkan luas liputan, kedalaman dan tingkat kesukaran materi pelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan belajar siswa pada satuan pendidikan.

Dilihat dari ruang lingkup materi juga ada perbedaan antara PPKn dengan PKn. PPKn lebih menekankan pada aspek  moral/karakter yaitu dengan mengacu pada P-4 sebagai penjabaran dari fungsi pancasila sebagai pandangan hidup. Sedangkan PKn lebih menekankan pada aspek kehidupan bernegara yang merupakan penjabaran dari Pancasila sebagai dasar negara. Memang ruang lingkup materi PKn jauh lebih luas, karena memberi wawasan global dengan segala aspeknya, namun sangat sedikit menyentuh pendidikan karakter.

Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik buruk, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.

Di Indonesia pendidikan karakter ini sebenarnya terus dilakukan sebagai bagian dari upaya dari Nation and Character Building. Karakter yang ingin diangun oleh bangsa Indonesia sudah jelas, yaitu manusia yang Pancasilais. Hal ini sesuai dengan fungsi pancasila sebagai pandangan hidup, yaitu prinsip-prinsip dasar yang diyakini kebenarannya dan kemudian dijadikan pedoman dalam menghadapi persoalan kehidupan. Sebagai pandangan hidup, Pancasila telah dijabarkan dalam butir-butir Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4).

Secara formal, instrumen untuk membangun moral dan karakter bangsa sudah ada dalam kurikulum pendidikan kita yaitu mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) atau sebelumnya mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Sebagai instrumen pendidikan karakter bangsa, mata pelajaran tersebut diberikan sejak SD sampai perguruan tinggi.

Persoalannya adalah mengapa akhir-ahir ini kita masih banyak menyaksikan perilaku menyimpang, dan mengganggu keterlibatan sosial dri warganegara Indonesia? Nilai-nilai Pancasila dan butir-butir P-4 sekarang sudah banyak ditinggalkan oleh sebagian warga negara, paling tidak sudah banyak warga negara yang perilakunya tidak lagi dipedomi oleh nilai-nilai Pancasila dan butir-butir P-4. Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang dimaksud sebagai instrumen pendidikan moral, juga lebih banyak menekankan aspek kognitif daripada aspek afektif.

Dalam kenyataannya, pendidikan kewarganegaraan lebih banyak menstranfer pengetahuan dan ketrampilan, tanpa disertai dengan internalisasi nilai yang terkandung dalam pengetahuan tersebut. Evaluasi yang digunakanpun juga lebih menekankan aspek kognitif sehingga proses belajar mengajar di sekolah lebih bersifat transfer pengetahuan dari pada mengajarkan berfikir secara keilmuan dan internalisasi nilai  melalui pemahaman. Peserta didik hanya memiliki pengetahuan, tetapi tanpa memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Akibatnya pendidikan hanya menghasilkan manusia-manusia yang egois, yang tidak memahami arti kehidupan yang didalamnya ada perbedaan, nilai, dan norma yang harus dihormati dan dijunjung tinggi.

Pendidikan tentu bukan hanya sekedar untuk mentranfer ilmu dan ketrampilan, tetapi juga merupakan internalisasi nilai-nilai dasar, khususnya nilai-nilai kemanusiaan kepada peserta didik. Esensi pendidik adalah proses yang membiaasakan manusia sedini mungkin untuk mempelajari, memahami, menguasai, dan menerapkan nilai-nilai yang disepakati bersama sehingga berguna bagi individu, masyarakat, bangsa, dan negara, (Kompas, 3 September 2008). Hal ini juga sejalan dengan pilar-pilar pendidikan yang dikemukakan oleh Unesco yaitu learning to know, learning to do, lernin to be, learning to life together. Belajar untuk hidup bersama, berarti belajar untuk memahami dan menerapkan nilai-nilai yang disepakati bersama oleh masyarakat.

Dengan demikian, pendidikan benar-benar dapat menghasilkan manusia yang utuh, yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga menjadi manusia yang wisdom (bijak), yang ditandai dengan adanya kesadaran untuk bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri, masyarakat, bangsa dan negara, serta lingkungan. Sayangnya Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang diharapkan menjadi instrumen pendidikan moral dan karakter kurang menekankan pada nilai-nilai Pancasila. Materi yang berkaitan dengan nilai-nilai luhur Pancasila kurang memperoleh perhatian dalam ruang lingkup maeri PKn. Hal ini berbeda dengan mata pelajaran PPKn  pada kurikulum 1994 dulu atau mata pelajaran PMP pada kurikulum 1975 yang sarat  dengan muatan nilai dan moral Pancasila.

Dalam menghadapi tantangan yang semakin didominasi oleh sikap hidup yang materialis, pragmatis, dan hedonis, maka diperlukan aktualisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Nilai-nilai Pancasila dipahami dengan pendekatan yang rasional dan filosofis, sehingga ditemukan kebenaran dan kekuatannya. Sila-sila Pancasila tidak bisa dipahami secara parsial ( Sila per sila) tetapi harus dipahami secara utuh karena sila-sila Pancasila merupakan satu kesatuan yang bulat dan utuh. Hubungan antara sila satu dan dengan sila lainnya saling meliputi dan menjiwai artinya didalam sila Ketuhanan yang maha Esa terkandung nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan, dan nilai keadilan. Pemahaman dan implementasi sila Ketuhanan yang maha Esa dalam bentuk keyakinan dan kehidupan keagamaan tidak boleh meninggalkan nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai musyawarah, serta nilai keadilan. Begitu juga dalam memaknai dan mengamalkan sila keadilan sosial juga tidak boleh meninggalkan nilai ketuhanan dan meninggalkan nilai keempat sila lainnya.

Dalam menghadapi kehidupan global dan membangun karakter bangsa kiranya Pancasila sebagai pandangan hidup yang telah dijabarkan ke dalam butir-butir P-4 dulu perlu direvitalisasi kembali sebagai acuan setiap individu dalam bersikap maupun bertindak. Butir-butir P-4 bisa dijadikan sebagai tolok ukur bagi setiap individu untuk menilai jati dirinya dan jika setiap individu, sikap dan prilaku, bahkan jika pola pikirnya telah dilandasi dan dijiwai oleh nilai-nilai Pancasila, paling tidak butir-butir P-4, sangat dimungkinkan tujuan negara menciptakan kesejahteraan masyarakat bisa diwujudkan.

Sumber : warsono, Posisi Pancasila Dalam Mapel PKn. Makalah disampaikan   dalam seminar nasional Nation and Character Building

 

Gagasan Pengajaran PKn di Sekolah Dasar

Setiap anak memiliki potensi yang berbeda. Karena perbedaan itu, maka sebenarnya setiap anak memerlukan perlakuan tersendiri sesuai potensi individualnya untuk mencapai perkembangan yang optimal. Memang ada beberapa perlakuan yang sifatnya umum dan dapat diberlakukan untuk banyak anak, tetapi seharusnya tidak boleh mengorbankan kebutuhan individual tersebut. Pendidikan di Indonesia adalah pendidikan massal. Di tingkat SD misalnya, setiap kelas rata-rata diisi oleh sekitar 40 anak dengan seorang guru, Kurikulum yang dipakai untuk 40 anak sama, materinya sarna, metode mengajarnya sama, gurunya sama, waktu belajarnya sama, dan cara evalauasinya juga sama. Pola pendidikan semacam ini telah berjalan berpuluh-puluh tahun dan entah sampai kapan akan berubah. di setiap akhir catur wulan atau semester, atau akhir tahun mereka akan menerima raport. Ada yang masuk rang king sepuluh besar, ada yang tidak masuk, ada yang naik kelas ada yang tidak naik kelas, dan seterusnya.

Kemampuan seseorang untuk memahami dan menyerap pelajaran sudah pasti berbeda tingkatnya. Ada yang cepat, sedang dan ada pula yang sangat lambat. Karenanya, mereka seringkali harus menempuh cara berbeda untuk bisa memahami sebuah informasi atau pelajaran yang sama.

Sebagian siswa lebih suka guru mereka mengajar dengan cara menuliskan segalanya di papan tulis. Dengan begitu mereka bisa membaca untuk kemudian mencoba memahaminya. Tapi, sebagian siswa lain lebih suka guru mereka mengajar dengan cara menyampaikannya secara lisan dan mereka mendengarkan untuk bisa memahaminya. Sementara itu, ada siswa yang lebih suka membentuk kelompok kecil untuk mendiskusikan pertanyaan yang menyangkut pelajaran tersebut.

Cara lain yang juga kerap disukai banyak siswa adalah model belajar yang menempatkan guru tak ubahnya seorang penceramah. Guru diharapkan bercerita panjang lebar tentang beragam teori dengan segudang ilustrasinya, sementara para siswa mendengarkan sambil menggambarkan isi ceramah itu dalam bentuk yang hanya mereka pahami sendiri.

Apa pun cara yang dipilih, perbedaaan gaya belajar itu menunjukkan cara tercepat dan terbaik bagi setiap individu bisa menyerap sebuah informasi dari luar dirinya. Karenanya, jika guru bisa memahami bagaimana perbedaan gaya belajar setiap siswa itu, mungkin akan lebih mudah bagi guru jika suatu ketika, misalnya, guru harus memandu siswa untuk mendapatkan gaya belajar yang tepat dan memberikan hasil yang maksimal bagi dirinya.

Ada beberapa tipe gaya belajar yang bisa kita cermati dan mungkin kita ikuti bila memang kita merasa cocok dengan gaya itu. Pertama, Gaya Belajar Visual (Visual Learners). Gaya belajar seperti ini menjelaskan bahwa kita harus melihat dulu buktinya untuk kemudian bisa mempercayainya.

Ada beberapa karakteristik yang khas bagai orang-orang yang menyukai gaya belajar visual ini. Pertama adalah kebutuhan melihat sesuatu (informasi/pelajaran) secara visual untuk mengetahuinya atau memahaminya, kedua memiliki kepekaan yang kuat terhadap warna, ketiga memiliki pemahaman yang cukup terhadap masalah artistik, keempat memiliki kesulitan dalam berdialog secara langsung, kelima terlalu reaktif terhadap suara, keenam sulit mengikuti anjuran secara lisan, ketujuh seringkali salah menginterpretasikan kata atau ucapan.

Untuk mengatasi ragam masalah di atas, ada beberapa pendekatan yang bisa digunakan, sehingga belajar tetap bisa dilakukan dengan memberikan hasil yang menggembirakan. Pertama adalah menggunakan beragam bentuk grafis untuk menyampaikan informasi atau materi pelajaran. Perangkat grafis itu bisa berupa film, slide, gambar ilustrasi, coretan-coretan, kartu bergambar, catatan dan kartu-kartu gambar berseri yang bisa digunakan untuk menjelaskan suatu informasi secara berurutan.

Gaya belajar kedua disebut Auditory Learners atau gaya belajar yang mengandalkan pada pendengaran untuk bisa memahami dan mengingatnya. Karakteristik model belajar seperti ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama menyerap informasi atau pengetahuan. Artinya, kita harus mendengar, baru kemudian kita bisa mengingat dan memahami informasi itu. Karakter pertama orang yang memiliki gaya belajar ini adalah semua informasi hanya bisa diserap melalui pendengaran, kedua memiliki kesulitan untuk menyerap informasi dalam bentuk tulisan secara langsung, ketiga memiliki kesulitan menulis ataupun membaca.

Ada beberapa pendekatan yang bisa dilakukan untuk belajar bila kita termasuk orang yang memiliki kesulitan-kesulitan belajar seperti di atas. Pertama adalah menggunakan tape perekam sebagai alat bantu. Alat ini digunakan untuk merekam bacaan atau catatan yang dibacakan atau ceramah pengajar di depan kelas untuk kemudian didengarkan kembali. Pendekatan kedua yang bisa dilakukan adalah dengan wawancara atau terlibat dalam kelompok diskusi.

Sedang pendekatan ketiga adalah dengan mencoba membaca informasi, kemudian diringkas dalam bentuk lisan dan direkam untuk kemudian didengarkan dan dipahami. Langkah terakhir adalah dengan melakukan review secara verbal dengan teman atau pengajar.

Gaya belajar lain yang juga unik adalah yang disebut Tactual Learners atau kita harus menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar kita bisa mengingatnya. Tentu saja, ada beberapa karekteristik model belajar seperti ini yang tak semua orang bisa melakukannya. Pertama adalah menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar kita bisa terus mengingatnya. Kedua, hanya dengan memegang kita bisa menyerap informasinya tanpa harus membaca penjelasannya. Karakter ketiga adalah kita termasuk orang yang tidak bisa/tahan duduk terlalu lama untuk mendengarkan pelajaran. Keempat, kita merasa bisa belajar lebih baik bila disertai dengan kegiatan fisik. Karakter terakhir, orang-orang yang memiliki gaya belajar ini memiliki kemampuan mengkoordinasikan sebuah tim dan kemampuan mengendalikan gerak tubuh (athletic ability).

Untuk orang-orang yang memiliki karakteristik seperti di atas, pendekatan belajar yang mungkin bisa dilakukan adalah belajar berdasarkan atau melalui pengalaman dengan menggunakan berbagai model atau peraga, bekerja di laboratorium atau bermain sambil belajar. Cara lain yang juga bisa digunakan adalah secara tetap membuat jeda di tengah waktu belajar. Tak jarang, orang yang cenderung memiliki karakter Tactual Learner juga akan lebih mudah menyerap dan memahami informasi dengan cara menjiplak gambar atau kata untuk belajar mengucapkannya atau memahami fakta.

Penggunaan komputer bagi orang-orang yang memiliki karakter Tactual Learner akan sangat membantu. Karena, dengan komputer ia bisa terlibat aktif dalam melakukan touch, sekaligus menyerap informasi dalam bentuk gambar dan tulisan. Selain itu, agar belajar menjadi efektif dan berarti, orang-orang dengan karakter di atas disarankan untuk menguji memori ingatan dengan cara melihat langsung fakta di lapangan.

Dalam menyampaikan materi pada proses belajar mengajar, seorang guru harus memahami perbedaan gaya belajar siswa sehingga bisa mempertimbangkan cara yang digunakan untuk menyampaikan materi. Pemilihan media pembelajaran yang tepat juga akan mempengaruhi hasil yang dicapai. Permasalahannya adalah belum banyak guru yang bisa memahami gaya belajar siswa mengingat banyaknya siswa di dalam kelas yang masing-masing memiliki gaya belajar sendiri-sendiri. Akhirnya guru akan menemui kesulitan dalam menentukan media pembelajaran yang sesuai dengan gaya belajar siswa tersebut.

Dalam pembelajaran PKn di jenjang Sekolah Dasar, penulis mempunyai gagasan untuk melakukan hal-hal berikut :

  1. Mengidentifikasi dan mengelompokkan siswa berdasarkan gaya belajar siswa.
  2. Melakukan bedah kurikulum dengan mengidentifikasi Stantar Kompetensi dan kompetensi dasar yang ingin dicapai.
  3. Membuat model pembelajaran yang disesuaikan dengan gaya belajar siswa.

Mengidentifikasi dan mengelompokkan siswa berdasarkan gaya belajar siswa.

Tujuh kategori gaya belajar yang bisa diadaptasi dalam upaya membantu anak-anak belajar lebih efektif. Pertama, pendekatan belajar dengan sentuhan fisik. Pendekatan ini diperuntukkan bagi anak-anak umumnya senang selalu bergerak. Kedua, pendekatan intrapersonal yang tepat dilakukan pada anak yang umumnya lebih suka menyendiri dan mandiri, meski bukan berarti antisosial. Ketiga, pendekatan interpesonal seperti berinteraksi, berkelompok, berdiskusi, bekerja dalam tim yang diperuntukkan bagi anak-anak atau orang yang umumnya sangat suka melakukan segala sesuatunya secara bersama. Keempat, pendekatan bahasa sangat cocok diterapkan pada orang-orang atau anak-anak yang memiliki kecenderungan ini sangat menyukai membaca buku, kata-katanya terpilih, dan sangat impresif dalam tulisannya. Kelima, pendekatan matematis, tepat diberikan kepada mereka yang memiliki kencederungan belajar secara matematis umumnya suka dengan permainan yang memerlukan perhitungan untuk memecahkannya, selalu menggunakan logika berpikir untuk menimbang segala sesuatunya, sangat senang bila belajar dengan menggunakan gambar atau pola, bermain dengan angka-angka, atau bentuk-bentuk garis tertentu, dan senang bereksperimen. Keenam, belajar dengan musik, tepat diberikan kepada anak-anak yang responsif, sensitif, suka musik, serta menyukai belajar dengan suasana riang. Ketujuh, pendekatan belajar visual. Anak-anak atau orang yang memiliki kesukaan terhadap tampilan visual, umumnya akan mudah memahami suatu innformasi bila itu ditampilkan secara visual dalam bentuk gambar atau tayangan.

Ketujuh pendekatan atau gaya tersebut, tentu tidak semuanya harus diperkenalkan pada anak-anak atau siswa. Artinya, setiap anak belum tentu menyukai semua pendekatan belajar di atas, meskipun mungkin mereka bisa menggunakan lebih dari satu pendekatan di atas. Tidak ada orang yang 100% berada dalam salah satu tipe belajar. Biasanya orang memiliki lebih dari satu tipe belajar, hanya memang satu tipelah yang paling dominan. Yang pasti, orangtua dan guru harus pandai-pandai mencermati apa yang senang dilakukan anak mereka agar tak salah dalam memperkenalkan gaya belajar yang tepat bagi anak-anak mereka.

Dari mana kita bisa tahu apa tipe belajar seseorang? Ada beberapa cara. Pertama, saat menghafal sesuatu (entah mengafal rumus atau sekadar menghafal nama orang ketika berkenalan), bersuara atau tidak? Kedua, terganggukah dia dengan suara-suara gaduh di sekitarnya ketika sedang mencoba berkonsentrasi. Ketiga, ketika belajar sesuatu, apakah ia senang mencorat-coret kertas, membuat sketsa, menulis/mengetik ringkasan. Keempat, apakah ia lebih cepat belajar sesuatu ketika saya sudah mempraktikkan (mencoba melakukan) sendiri apa yang sedang saya pelajari. Dua bukti pertama tadi menunjukkan ia termasuk orang dengan tipe auditory. Dua bukti terakhir meyakinkan kita bahwa ia termasuk orang dengan tipe belajar kinesthetic. Di antara dua tipe tersebut, ia lebih dominan dalam tipe yang mana? Sadarilah tipe belajar siswa bisa memaksimalkan kualitas belajarnya. Lalu, prinsip apa yang dapat kita terapkan dalam melakukan pembelajaran yang berkelanjutan?

Pakar bahasa, Douglas Brown, menyebutkan dua prinsip yang harus kita perhatikan. Pertama, komitmen baik secara fisik, mental, dan emosional. Kedua praktik. Mempraktikkan pengetahuan dan keterampilan yang baru dipelajari akan memberikan manfaat optimal bagi peningkatan kualitas hidup kita. Tanpa praktik, lama-kelamaan pengetahuan dan keterampilan tersebut akan menjadi kadaluwarsa. Seperti halnya belajar mengendarai mobil. Jika hanya “membaca” dan “memahami” petunjuk mengendarai mobil, tanpa ada usaha untuk mencoba menjalankan mobil tersebut, pengetahuan itu akan sia-sia. Jadi, pengetahuan dan keterampilan yang baru dipelajari, agar dapat memberikan manfaat yang optimal, perlu drill. Belajar bagi sebagian orang dirasakan sangat “alergi” , menakutkan, dan menyiksa. Yang terbayang di benaknya adalah setumpuk tugas dan buku tebal yang membosankan. Banyak yang berasumsi, bahwa mereka yang sudah lama lulus dari sekolah tak perlu lagi belajar. Orang-orang tersebut tentu tidak melihat ataupun belum menikmati manfaat dahsyat dari kegiatan belajar. Dalam dunia bisnis, belajar telah menjadi keharusan. Tanpa belajar, pelaku bisnis dapat dipastikan akan jauh tertinggal dan tersingkir dari persaingan. Sebab, belajar menumbuhkan inovasi yang melahirkan perubahan positif yang diperlukan dalam

berbisnis.

Peneliti, D.A. Benton, telah mensurvei para CEO (Chief Executives Officers) dari berbagai bidang industri. Hasilnya menunjukkan bahwa belajar merupakan salah satu kebiasaan penting mereka. Pemimpin perusahaan yang efektif senantiasa mengembangkan diri dengan belajar. Mereka banyak mendapatkan manfaat dan kesuksesan dari aktivitas ini. Begitu pula dengan tokoh-tokoh penting. Mereka sangat menyadari bahwa belajar telah menjadikannya kaya dengan pengetahuan. Orang sekitar kita pun akan melihat dan merasakan “aset” pengetahuan yang kita miliki sehingga mereka akan datang kepada kita untuk mendapatkan “solusi” yang mereka cari. Jadi, untuk sukses di bidang apa pun, seseorang niscaya harus belajar. Terlebih lagi dengan para guru berada di garda depan pendidikan, tentu dituntut memutakhirkan ilmu pengetahuannya. Demikian juga dengan para siswa yang akan menjalani kehidupan yang lebih kompleks dan kompetitif. Semestinya, tradisi itu melembaga dalam dirinya. Sayangnya, belajar di pendidikan formal tidak selalu memberikan pengalaman yang menyenangkan dalam hidupnya. Banyak di antara para siswa mengalami keterpaksaan, kejenuhan, dan kefrustasian dalam menjalaninya. Pengalaman belajar demikian jelas bukan hal yang menyenangkan. Seseorang tidak akan mudah berkonsentrasi belajar jika ia merasa terpaksa. Pengalaman ini tentu memberikan preseden yang buruk bagi pengembangan belajarnya di masa mendatang.

Oleh karena itu, para guru dan orang tua seyogianya harus berikhtiar, bagaimana agar belajar menjadi hal yang menyenangkan, atau meski tetap terpaksa, tetapi dapat menjadi lebih mudah dan efektif. Apa yang bisa kita lakukan? Pernahkah kita mengamati gaya belajar anak atau siswa kita ketika mempelajari sesuatu? Bersuarakah mulut mereka ketika sedang menghafal sesuatu? Seringkah mereka belajar sambil menulis-nulis di selembar kertas kosong? Atau mereka belajar/menghafal, cukup dengan membaca (sambil diam konsentrasi) saja? Analisis itu penting. Sebab tiap orang punya intelegensi dan gaya belajar yang berbeda-beda. Hal ini dapat terbentuk dari cara yang juga berbeda-beda. Dengan memahami intelegensia siswa secara individu dan cara belajarnya, berarti kita dapat memberi cara belajar yang berbeda-beda pada siswa.

Dalam kerangka itulah, penting kiranya para orang tua dan guru di sekolah mulai mengembangkan pengelompokan kelas berdasarkan gaya belajar siswanya. Langkah pertama, guru mengidentifikasi gaya belajar siswa dengan angket, wawancara, atau observasi. Kedua, mengelompokkan siswa dalam kelas tertentu yang sesuai dengan gaya belajar siswa. Ketiga, melakukan proses pembelajaran sesuai dengan karakter kelasnya. Keempat, mengoptimalkan gaya belajar siswa. Para guru jangan hanya merasa cukup tahu tentang tipe-tipe gaya belajar siswa, tetapi lebih jauh lagi mempraktikkannya di sekolah secara konsisten dan sungguh-sungguh.

Sumber : Karnita. Kenali dan Kembangkan Gaya Belajar Anak. http://gemari.or.id/detail.php?id=3273

Melakukan bedah kurikulum dengan mengidentifikasi Standar Kompetensi dan kompetensi dasar yang ingin dicapai.

Pemberlakuan peraturan dan perundangan-undangan yang berkaitan dengan pelaksanaan otonomi pendidikan menuntut adanya upaya pembagian kewenangan dalam berbagai bidang pemerintahan. Hal tersebut membawa implikasi terhadap sistem dan penyelenggaraan pendidikan termasuk pengembangan dan pelaksanaan kurikulum. Tiga hal penting yang perlu mendapat perhatian, yaitu:

  1. Diversifikasi Kurikulum yang merupakan proses penyesuaian, perluasan, pendalaman materi pembelajaran agar dapat melayani keberagaman kebutuhan dan tingkat kemampuan peserta didik serta kebutuhan daerah/lokal dengan berbagai kompleksitasnya.
  2. Penetapan Standar Kompetensi (SK), dimaksudkan untuk menetapkan ukuran minimal atau secukupnya, mencakup kemampuan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dicapai, diketahui, dilakukan, dan mahir dilakukan oleh peserta didik pada setiap tingkatan secara maju dan berkelanjutan sebagai upaya kendali dan jaminan mutu.
  3. Pembagian kewenangan antara Pemerintah Pusat dan Provinsi/ Kabupaten/Kota sebagai Daerah Otonomi merupakan pijakan utama untuk lebih memberdayakan daerah dalam penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan potensi daerah yang bersangkutan.

Untuk merespon ketiga hal tersebut di atas, Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) telah melakukan penyusunan Standar Isi (SI), yang kemudian dituangkan kedalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) nomor 22 tahun 2006, yang mencakup komponen:

  1. Standar Kompetensi (SK), merupakan ukuran kemampuan minimal yang mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap yang harus dicapai, diketahui, dan mahir dilakukan oleh peserta didik pada setiap tingkatan dari suatu materi yang diajarkan.
  2. Kompetensi Dasar (KD), merupakan penjabaran SK peserta didik yang cakupan materinya lebih sempit dibanding dengan SK peserta didik.

Kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kemampuan sekolah dalam mengelola proses pembelajaran, dan lebih khusus lagi adalah proses pembelajaran yang terjadi di kelas. Sesuai dengan prinsip otonomi dan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS), pelaksana pembelajaran, dalam hal ini guru, perlu diberi keleluasaan dan diharapkan mampu menyiapkan silabus, memilih strategi pembelajaran, dan penilaiannya sesuai dengan kondisi dan potensi peserta didik dan lingkungan masing-masing. Berdasarkan pertimbangan tersebut maka perlu dibuat buku pedoman cara mengembangkan silabus berbasis kompetensi. Pedoman pengembangan silabus yang meliputi dua macam, yaitu pedoman umum dan pedoman khusus untuk setiap mata pelajaran.

Pedoman umum pengembangan silabus memberi penjelasan secara umum tentang prosedur dan cara mengembangkan SK dan KD menjadi indikator pencapaian kompetensi, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian, alokasi waktu, sumber belajar. Sedangkan pedoman khusus menjelaskan mekanisme pengembangan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran yang disertai contoh-contoh untuk lebih memperjelas langkah-langkah pengembangan silabus.

Dalam pembelajaran berbasis kompetensi perlu ditentukan standar minimum kompetensi yang harus dikuasai peserta didik. Sesuai pendapat tersebut, komponen materi pembela¬jaran berbasis kompetensi meliputi: (1) kompetensi yang akan dicapai; (2) strategi penyampaian untuk mencapai kompetensi; (3) sistem evaluasi atau penilaian yang digunakan untuk menentukan keberhasilan peserta didik dalam mencapai kompetensi.

Pencapaian setiap kompetensi tersebut terkait erat dengan sistem pembelajaran. Dengan demikian komponen minimal pembelajaran berbasis kompetensi adalah:

  1. pemilihan dan perumusan kompetensi yang tepat.
  2. spesifikasi indikator penilaian untuk menentukan pencapaian kompetensi.
  3. pengembangan sistem penyampaian yang fungsional dan relevan dengan kompetensi dan sistem penilaian.

Penerapan konsep dan prinsip pembelajaran berbasis kompetensi diharapkan bermanfaat untuk:

  1. menghindari duplikasi dalam pemberian materi pembelajaran yang disampaikan guru harus benar-benar relevan dengan kompetensi yang ingin dicapai.
  2. mengupayakan konsistensi kompetensi yang ingin dicapai dalam mengajarkan suatu mata pelajaran. Dengan kompetensi yang telah ditentukan secara tertulis, siapa pun yang mengajarkan mata pelajaran tertentu tidak akan bergeser atau menyimpang dari kompetensi dan materi yang telah ditentukan.
  3. meningkatkan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan, kecepatan, dan kesempatan peserta didik.
  4. membantu mempermudah pelaksanaan akreditasi. Pelaksanaan akreditasi akan lebih dipermudah dengan menggunakan tolokukur SK.
  5. memperbarui sistem evaluasi dan pelaporan hasil belajar peserta didik. Dalam pembelajaran berbasis kompetensi, keberhasilan peserta didik diukur dan dilaporkan berdasar pencapaian kompetensi atau subkompetensi tertentu, bukan didasarkan atas perbandingan dengan hasil belajar peserta didik yang lain.
  6. memperjelas komunikasi dengan peserta didik tentang tugas, kegiatan, atau pengalaman belajar yang harus dilakukan dan cara yang digunakan untuk menentukan keberhasilan belajarnya.
  7. meningkatkan akuntabilitas publik. Kompetensi yang telah disusun, divalidasikan, dan dikomunikasikan kepada publik, sehingga dapat digunakan untuk mempertanggungjawabkan kegiatan pembelajaran kepada publik.
  8. memperbaiki sistem sertifikasi. Dengan perumusan kompetensi yang lebih spesifik dan terperinci, sekolah dapat mengeluarkan sertifikat atau transkrip yang menyatakan jenis dan aspek kompetensi yang dicapai.

Sumber : http://www.unjabisnis.com/2010/06/pengertian-kurikulum.html

Membuat model pembelajaran yang disesuaikan dengan gaya belajar siswa.

Model-model belajar yang dimaksud adalah berbagai cara-gaya belajar siswa dalam aktivitas pembelajaran, baik di kelas ataupun dalam kehidupannya sehari-hari antar sesama temannya atau orang yang lebih tua. Dengan memahami model-model belajar, diharapkan para guru (kita semua) dapat membelajarkan siswa secara efisien sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif.

Ada berbagai model belajar yang ditawarkan yaitu:

  1. 1.     Peta Pikiran

Buzan (1993) mengemukakan bahwa otak manusia bekerja mengolah informasi melalui mengamati, membaca, atau mendengar tentang sesuatu hal  berbentuk hubungan fungsional antar bagian (konsep, kata kunci), tidak parsial terpisah satu sama lain dan tidak pula dalam bentuk narasi kalimat lengkap. Sebagai contoh, kalau dalam pikiran kita ada kata (konsep) Bajuri, maka akan terkait dengan kata lain secara fungsional, seperti gemuk, supir bajay, kocak, sederhana, atau ke tokoh lain Oneng, Ema, Ucup, Hindun, dan lain-lain dengan masing-masing karakternya. Demikian pula kata dalam pikiran kita terlintas Pascasarjana Unesa, akan terkait alamatnya, pejabatnya, dosen-dosen dan staf administrasi, dan besar biaya untuk perkuliahan.

Selanjutnya Buzan mengemukakan bahwa cara belajar siswa yang alami (natural) adalah sesuai dengan cara kerja otak seperti di atas berupa pikiran. Yang produknya berupa peta konsep. Dengan demikian belajar akan efektif dengan cara membuat catatan kreatif  yang merupakan peta konsep, sehingga setiap konsep utama yang dipelajari semuanya teridentifikasi tidak ada yang terlewat dan kaitan fungsionalnya jelas, kemudian dinarasikan dengan gaya bahasa masing-masing. Dengan demikian konsep mendapat retensi yang kuat dalam pikiran, mudah diingat dan dikembangkan pada konsep lainnya. Belajar dengan menghafalkan kalimat lengkap tidak akan efektif, di samping bahasa yang digunakan menggunakan gaya bahasa penulis. Mengingat hal itu, sajian guru dalam pembelajaran harus pula dikondisikan berupa sajian peta konsep, guru membumbuinya dengan narasi yang kreatif.

Selanjutnya, Buzan mengemukakan bahwa kemampuan otak manusia dapat memproses informasi berupa bahasa sebanyak 600 – 800 kata permenit. Dengan kemampuan otak seperti itu dibandingkan dengan kemampuan komputer sangat tinggi. Jika benar-benar dimanfaatkan secara optimal, setiap kesempatan dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran diri dalam segala hal. Hanya sayang banyak orang yang mengabaikannya atau digunakan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat untuk peningkatan kualitas diri, misalnya berangan-angan, menonton, mengobrol atau bercanda tanpa makna.

  1. 2.     Kecerdasan Ganda

Goldman (2005) mengemukakan bahwa struktur otak, sebagai instrumen kecerdasan, terbagi dua menjadi kecerdasan intelektual pada otak kiri dan kecerdasan emosional pada otak kanan. Kecerdasan intelektual mengalir-bergerak (flow) antara kebosanan  bila tuntutan pemikiran rendah dan kecemasan bila terjadi tuntutan banyak. Bila terjadi kebosanan otak akan mengisinya dengan aktivitas lain, jika positif akan mengembangkan penalaran akan tetapi jika diisi dengan aktivitasa negatif, misal kenakalan atau lamunan, inlah yang disebut dengan sia-sia.

Sebaliknya jika tuntutan kerja otak tinggi akan terjadi kecemasan-kelelahan. Kondisi ini akan bisa dinetralisir  dengan relaksasi melalui penciptaan suasana  kondusif, misalnya keramahan, kelembutan, senyum-tertawa, suasana nyaman dan menyenangkan, atau meditasi keheningan dengan prinsip kepasrahan kepada sang Pencipta. Dengan demikian aktivitas otak kiri semestinya dibarengi dengan aktivitas otak kanan.

Sel syaraf pada otak kiri berfungsi sebagai alat kecerdasan yang sifatnya logis, sekuensial, linier, rasional, teratur, verbal, realitas, ide, abstrak, dan simbolik. Sedangkan sel syaraf otak kanan berkaitan dengan kecerdasan yang sifatnya acak, intuitif, holistic, emosional, kesadaran diri, spasial, musik, dan kreativitas. Penting untuk diketahui bahawa kecerdasan intelkektual berkontribusi untuk sukses individu sebesar 20% sedangkan kecerdasan emosional sebesar 40%, siswanya sebanyak 40% dipengaruhi oleh hal lainnya.

Ary Ginanjar (2002) dan Jalaluddin Rahmat (2006) mengukakan kecerdasan ketiga, yaitu Kecerdasan Spiritual (nurani-keyakinan) atau kecerdasan fitrah yang berkenaan dengan nilai-nilai kehidupan beragama. Sebagai orang beragama, kita semestinya berkeyakinan tinggi terhadap kecerdasan ini, bukankah ada ikhtiar dan ada pula taqdir, ada do’a sebagai permintaan dan harapan, dan ibadah lainnya. Bukankan ketentraman individu karena keyakinan beragama ini.

Gardner (1983) mengemukakan tentang kecerdasan ganda yang sifatnya multi, yaitu Spacial-visual , Linguistic-verbal, Interpersonal-communication, Musical-rithmic, natural, Body-kinestic, Intrapersonal-reflective, Logic-thinking-reasoning.

  1. 3.     Metakognitif

Secara harfiah, metakognitif  bisa diterjemahkan secara bebas sebagai kesadaran berfikir, berpikir tentang apa yang dipikirkan dan bagaimana proses berpikirnya,  yaitu aktivitas individu untuk memikirkan kembali apa yang telah terpikir serta berpikir dampak sebagai akibat dari buah pikiran terdahulu. Sharples & Mathew (1998) mengemukakan pendapat bahwa metakognitrif dapat dimanfaatkan untuk menerapkan pola pikir pada situasi lain yang dihadapi.

Kemampuan metakognitif setiap individu akan berlainan, tergantung dari variabel meta kognitif, yaitu kondisi individu, kompleksitas, pengetahuan, pengalaman, manfaat, dan strategi berpikir. Holler, dkk. (2002) mengemukakan bahwa aktivitas metakognitif tergantung pada kesadaran individu, monitoring, dan regulasi.

Komponen meta kognitif menurut Sharples & Mathew ada 7, yaitu: refleksi kognitif, strategi, prediksi, koneksi, pertanyaan, bantuan, dan aplikasi. Sedangkan Holler berpendapat tentang komponen metakognitif, yaitu: kesadaran, monitoring, dan regulasi.

Metakognitif bisa digolongkan pada kemampuan kognitif tinggi karena memuat unsure analisis, sintesis, dan evaluasi sebagai cikal bakal tumbuh kembangnya kemampuan inkuiri dan kreativitas. Oleh karena itu pelaksanaan pembelajaran semestinya membiasakan siswa untuk melatih kemampuan metakognitif ini, tidak hanya berpikir sepintas dengan makna yang dangkal.

  1. 4.     Komunikasi

Siswa dalam belajar tidak akan lepas dari komunikasi antar siswa, siswa dengan fasilitas belajar, ataupun dengan guru. Kemampuan komunikasi setiap individu akan mempengaruhi proses dan hasil belajar yang bersangkutan dan membentuk kepribadiannya, ada individu yang memiliki pribadi positif dan ada pula yang berkepribadian negatif.

Sebagai guru, tentunya akan berhadapan dengan siswa yang berkepribadian positif dan negative seperti di atas dan tentunya tidak untuk dibiarkan karena profesi guru adalah amanat. Bagaimanakh menghadapi siswa dengan pola pribadi negative? Caranya antara lain dengan cara tidak memvonis. jangan sungkan untuk meminta maaf  jika salah, tumbuhkan citra positif, bersikap mengajak dan bukan memerintah, dan jaga komunikasi non verbal (eksprsi wajah, nada suara, gerak tubuh, dan sosok panutan). Mengapa demikian? Karena cara berkomunikasi akan langsung berkenaan dengan akal dan rasa, yang selanjutnya mempengaruhi poses pembelajaran.

  1. 5.     Kebermaknaan Belajar

Dalam belajar apapun, belajar efektif (sesuai tujuan) semestinya bermakna. Agar bermakna, belajar tidak cukup dengan hanya mendengar dan melihat tetapi harus dengan melakukan aktivitas (membaca, bertanya, menjawab, berkomentar, mengerjakan, mengkomunikasikan, presentasi, diskusi).

Tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro (1908) mengemukakan tiga prinsip pembelajaran ing ngarso sung tulodo (jadi pemimpin-guru jadilah teladan bagi siswanya), ing madyo mangun karso (dalam pembelajaran membangun ide siswa dengan aktivitas sehingga kompetensi siswa terbentuk), tut wuri handayani (jadilah fasilitator kegiatan siswa dalam mengembangkan life skill sehingga mereka menjadi pribadi mandiri). Dengan perkataan lain, pembelajaran adalah solusi tepat untuk pelaksanaan kurikulum 2006, dan bukan dengan kegiatan mengajar.

Drai uraian di atas implikasi terhadap pembelajaran adalah bahwa kegiatan pembelajaran identik dengan aktivitas siswa secara optimal, tidak cukup dengan mendengar dan melihat, tepai harus dengan hands-on, minds-on, konstruksivis, dan daily life (kontekstual).

  1. 6.     Konstruksivisme

Dalam paradigma pembelajaran, guru menyajikan persoalan dan mendorong (encourage) siswa untuk mengidentifikasi, mengeksplorasi, berhipotesis, berkonjektur, menggeneralisasi, dan inkuiri dengan cara mereka sendiri untuk menyelesaikan persoalan yang disajikan. Sehingga jenis komunikasi yang dilakukan antara guru-siswa tidak lagi bersifat transmisi sehingga menimbulkan imposisi (pembebanan), melainkan lebih bersifat negosiasi sehingga tumbuh suasana fasilitasi.

Dalam kondisi tersebut suasana menjadi kondusif (tut wuri handayani) sehingga dalam belajar siswa bisa mengkonstruksi pengetahuan dan opengalaman yang diperolehnya dengan pemaknaan yang lebih baik. Siswa membangun sendiri konsep atau struktur materi yang dipelajarinya, tidak melalui pemberitahuan oleh guru. Siswa tidak lagi menerima paket-paket konsep atau aturan yang telah dikemas oleh guru, melainkan siswa sendiri ang mengemasnya. Mungkin saja kemasannya tidak akurat, siswa yang satu dengan siswa lainnya berbeda, atau mungkin terjadi eksalahan, di sinilah tugas guru memberikan bantuan dan arahan (scalfolding) sebagai fasilitator dan pembimbing. Kesalahan siswa merupakan bagian dari belajar, jadi harus dihargai karena hal itu cirinya ia sedang belajar, ikut partisipasi dan tidak menghindar dari aktivitas pembelajaran.

Hal inilah yang disebut dengan konstruksivisme dalam pembelajaran, dan memang pembelajaran pada hakikatnya adalah konstruksivisme, karena pembelajaran adalah aktivitas siswa yang sifatnya proaktif dan reaktif dalam membangun pengetahuan. Agar konstruksicvisme dapat terlaksana secara optimal, Confrey (1990) menyarankan konstruksivisme secara utuh (powerfull constructivism), yaitu: konsistensi internal, keterpaduan, kekonvergenan, refeleksi-eksplanasi, kontinuitas historical, simbolisasi, koherensi, tindak lanjut, justifikasi, dan sintaks (SOP).

  1. 7.     Prinsip Belajar Aktif

Ada dua jenis belajar, yaitu belajar secara aktif dan secara reaktif (pasif). Belajar secara aktif indikatornya adalah belajar pada setiap situasi, menggunakan kesempatan untuk meraih manfaat, berupaya terlaksana, dan partisipatif dalam setiap kegiatan. Sedangakan belajar reaktif indikatornya adalah tidak dapat melihat adanya kesempatan belajar, mengabaikan kesempatan, membiarkan segalanya terjadi, menghindar dari kegiatan.

Dari indikator belajar aktif, sesuai dengan pengertian kegiatan pembelajaran di atas, maka prinsip belajar yang harus diterapkan adalah siswa harus sebaga subjek, belajar dengan melakukan-mengkomunikasikan sehingga kecerdasan emosionalnya dapat berkembang, seperti kemampuan sosialisasi, empati dan pengendalian diri. Hal ini bisa terlatih melalui kerja individual-kelompok, diskusi, presentasi, tanya-jawab, sehingga terpuku rasa tanggung jawab dan disiplin diri.

Sumber : http://muhfida.com/model-model-belajar/

Daftar Pustaka

Karnita. Kenali dan Kembangkan Gaya Belajar Anak. http://gemari.or.id/detail.php?id=3273

http://muhfida.com/model-model-belajar/

http://www.unjabisnis.com/2010/06/pengertian-kurikulum.html

warsono, Posisi Pancasila Dalam Mapel PKn. Makalah disampaikan dalam seminar nasional Nation and CharacterBuilding